Blogger Widgets

Minggu, 24 Februari 2019

Sekularisme Berbulu Domba

© Doni Riw
.
"Negara ini bukan negara sekuler, tetapi juga bukan negara agama". Demikian dongeng nina bobok yang didengungkan setiap saat pada warga yang sebagian besar muslim.
.
Di dalam benak muslimin sudah tertanam kuat, bahwa sekulerisme itu buruk. Tapi sayang, hal itu tidak dibarengi pengetahuan kuat tentang hal ihwal sekulerisme. Sehingga mudah saja mereka ditidurkan dengan dongeng "sekulerisme berbulu domba" ini.

Tak ada titik tengah antara negara sekuler dengan negara agama. Sekulerisme adalah menolak penggunaan hukum agama untuk mengatur negara.

Ingat, mengatur negara! Bukan mengatur individu-individu!

Jika di negeri ini ada hukum nikah atau hukum wakaf yang berlandaskan Islam, hal itu tidak serta merta menjadikan negara ini bukan negara sekuler. Karena nikah dan wakaf itu persoalan pribadi, bukan negara.

Lantas apa yang disebut hukum pengatur negara? Salah satu contohnya adalah hukum ekonomi makro.

Ketika islam mengharamkan riba, kemudian suatu negara melegalkan riba, artinya negara itu sekuler.

Ketika islam mengharamkan penguasaan sumber daya alam oleh kapitalist, kemudian suatu negara memberikan konsesi sumber daya alam pada swasta, artinya negara itu sekuler.

Begitupun dalam hal tata negara, hubungan luar negeri, kurikulum pendidikan, dan lain sebagainya.

Inilah negara sekuler hipokrit. Negara sekuler yang tidak mengakui dirinya sekuler.
.
Sembunyi di balik kebolehan sholat, nikah, dan zakat, demi meraih dukungan politik dari sebagian besar warga negara yang beragama Islam.
.
Tugas kita adalah; membangunkan mereka dari nina bobok "sekulerisme berbulu domba" itu.
.
TShirt by IMOS
@tauhid.imos @katalog.imos
.
Grab it Fast, klik link:
bit.ly/AntiSekuler1
.
Wa +6281393340503
.
Jogja 24219
@doniriw
t.me/doniriw_channel
.
#sekulerisme #dakwah #islam #imos #sekulerbuludomba #doniriw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar