Blogger Widgets

Rabu, 06 September 2017

RIYA-kah mereka?
Lalu Bagaimana Dengan Kita Cukup Sucikah???
Ketika kita hanya mampu membeli baju seharga 50 ribuan sementara kawan kita membeli baju seharga 200 ribuan, kita bilang kawan kita berlebihan. Padahal ia belanja tak pakai uang kita. Ternyata ia sudah berhemat untuk tidak membeli baju 500 ribuan yang sanggup ia beli. Ketika kita mampu meluangkan lebih banyak waktu untuk bersama orang tercinta, sementara kawan kita berpisah jarak dan waktu dengan orang tuanya bahkan hanya sedikit waktu luang yang disempatkan hanya  untuk sekedar menanyakan kabar, kita bilang kawan kita tidak peduli. Kita bilang ia menggadaikan kasih sayang orang tuanya demi kesenangan pribadinya. Ternyata dalam doanya ia tetap menengadahkan tangan dengan penuh pengharapan agar kedua orang yang sangat disayanginya tetap dalam lindungan dan Inayah-Nya rukun dan bahagia dalam perjuangan rumah tangganya.
Ketika mereka hanya mampu menjadi mahasiswa yang rajin datang tepat waktu pada saat jam kuliah saja sementara kita memilih mengambil kesibukan lain seperti halnya ikut mengembangkan diri dalam organisasi lantas kita menjustifikasi bahwa mereka tidak peduli dengan kesempatan untuk mengembangkan diri jauh lebih baik selama menjadi mahasiswa padahal diluar sana mereka lebih memilih ikut berbaur dengan masyarakat bahkan mengaplikasikan langsung ilmu mereka diluar sepengetahuan yang kita miliki.
Sebagai orang sibuk dengan pekerjaannya mencari nafkah sesuap nasi demi kelangsungan hidup keluarga mereka tanpa peduli dengan kasih sayang kepada anaknya kita bilang ia menggadaikan masa depan anaknya demi kesenangan dunia semata. Ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita, berbicara lebih lembut pada anaknya, dan berdoa lebih khusyuk memohon pada ALLAH untuk penjagaan anak-anaknya. Ketika kita hanya mampu mengatur uang belanja Rp 1 juta sebulan,sementara kawan kita bercerita pengeluaran belanja bulanannya sampai Rp 10 juta , kita bilang ia boros. Padahal ia tak pernah berhutang pada kita. Pinjam uang pun tidak.  Ternyata mereka beramal lebih banyak dari uang belanjanya ternyata mereka tak pernah lupa memberikan sumbangan.
Siapa yang rugi? Kita... Belum-belum sudah mudah menilai. Bisa jadi malah berburuk sangka. Padahal kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya orang lain hadapi, orang lain lakukan di luar sepengetahuan kita. Saudaraku... Jangan mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran hidup kita. Jangan menggunakan kacamata kita untuk menilai orang lain, untuk hal ini penampilan luar belum tentu mencerminkan sifat aslinya. Jangan sibuk mengurusi urusan orang lain, apalagi ketika kita tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut. Mungkin itulah kenapa sepatu kaca Cinderella only fits for her
Sibuklah memperbaiki diri sendiri, bukan menilai orang lain. Karena hanya dengan diri sendiri menjadi lebih baiklah maka orang-orang di sekitar kita akan menerima dampak positifnya, dan dunia pun akan menjadi lebih baik.....

                                                                                                                        @ berbagi kebaikan