Blogger Widgets

Selasa, 26 Februari 2019

Aturan Baku Khilafah

SAYA TIDAK MENGERTI MAKSUD KALIMAT ATURAN BAKU KHILAFAH

Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Sudah setahun belakangan ini istilah “Khilafah tidak mempunyai aturan baku” menjadi buah bibir di kalangan para penentang Khilafah. Di Indonesia, kalimat tersebut dipopulerkan oleh Mahfudz MD, yang serupa dengan pola pikir Ali Abd. Raziq (Mesir). Sayang, sepertinya Mahfudz MD tidak mengetahui bagaimana gelar guru besar Ali dicopot oleh pihak Universitas Al-Azhar gara-gara pemikirannya itu yang menentang Khilafah.

Argumentasi seperti itu muncul pasca rontoknya beberapa argumentasi sebelumnya. Dimulai dari alasan Khilafah bukan ajaran Islam, Khilafah tidak ada dalilnya, Khilafah tidak pernah ada relevansinya dengan Indonesia, Khilafah mengajarkan pertumpahan darah, dan lain sebagainya..

Alasan-alasan semacam itu akhirnya terjawab sudah oleh berbagai argumentasi dan dalil, yang justru semakin mengokohkan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam yang keterangannya banyak dijelaskan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya. Pertumpahan darah dan peperangan hanyalah alat monsterisasi terhadap ajaran Islam itu.

Kini muncul pertanyaan baru, “adakah aturan baku Khilafah?”

Setahun yang lalu saya sudah jawab pertanyaan ini dengan sejelas-jelasnya dalam sebuah tulisan. Bahkan bukan hanya saya, banyak juga teman-teman lainnya yang menjawab pertanyaan ini. Tetapi, sepertinya sang penanya masih belum menerima bahwa itu adalah aturan baku Khilafah.

Saya mengernyitkan dahi dengan pertanyaannya itu. Ia berputar pada soal Khilafah yang tidak ada bentuk bakunya. Di antara argumentasi yang digunakannya adalah; sebagian ulama ada yang mensyaratkan Khalifah harus seorang mujtahid mutlak dan dari trah quraiys, sementara sebagian ulama lagi tidak mensyaratkan hal tersebut.

Itu artinya perkara Khilafah adalah perkara debatable, sehingga tidak benar jika Khilafah dianggap sebagai sebuah kewajiban yang harus diperjuangkan. Dari situ saja sudah terlihat bahwa Khilafah tidak mempunyai bentuk baku dalam pelaksanaannya.

Seperti itulah nalar yang digunakannya untuk menentang ide penegakkan Khilafah. Sebuah nalar yang sebetulnya akan menjadi bumerang bagi yang mengungkapkannya. Merasa sudah di atas angin, padahal ia tidak sadar bahwa akan segera jatuh terjungkal.

Logika semacam itu harus berani diuji konsistensinya. Apakah itu digunakan khusus untuk ajaran Khilafah, atau juga untuk yang lainnya. Ajaran sholat, misalnya, semua ulama, khususnya imam empat madzhab, tidak semuanya sama mengenai tata caranya.

Dari mulai takbirotul ihram sudah berbeda-beda tata caranya. Ada yang meletakkan tangan di batas telinga, ada yang di pundak, ada yang di depan dada, bahkan ada yang tidak mengangkat kedua telapak tangan sama sekali. Bacaan Al-Fatihah, ada yang mengharuskan “basmallah” ada juga yang tidak, bahkan ada juga yang tidak mewajibkan membaca Al-Fatihah. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bila kita cermati, orang-orang yang menentang ide penegakkan Khilafah dengan alasan perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait mujtahid mutlaq atau bukan, qurays atau bukan, maupun yang lainnya, yang menurutnya itu menunjukan bahwa tidak ada aturan baku dalam sistem Khilafah, mereka harus berani menjawab soal berikut ini!

Adakah aturan baku dalam sholat? mengingat terkait tata cara sholat pun para ulama berbeda-beda pendapatnya, sementara jika mengikuti nalar sebagaimana yang diterangkan di atas, sholat pun tidak ada aturan bakunya.

Apabila tulisan ini masih dianggap belum memuaskan akal para pengasong “Khilafah tidak ada aturan bakunya,” sungguh saya masih belum mengerti apa yang dimaksud dengan aturan baku oleh mereka. Tolong berikan contoh kepada kami, terkait aturan-aturan baku dalam ajaran Islam yang lainnya, supaya kami paham dengan pertanyaannya. Jika tidak, berarti anda sendiri yang bingung dengan partanyaan anda.

#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 27 Februari 2019

Pulanglah ke Rumah qt (KHILAFAH)

WAHAI KAUM MUSLIMIN, PULANGLAH KE RUMAH KITA
[Seruan Cinta untuk  Persatuan Umat]

Oleh : Dr. Ahmad Sastra

Di atas semua kelemahan saya sebagai muslim. Di tengah kondisi muslim yang kian mengenaskan nasibnya. Inilah seruan cinta untuk kaum muslimin di Indonesia dan dunia. Duhai kaum muslim tercinta, segera sadarlah dan kembalilah ke rumah kita. Rumah persatuan Islam kita.

Bukankah Tuhan kita sama : Allah swt. Bukankah Nabi kita sama : Muhammad saw. Bukankah kitab kita sama : Al Quran. Bukankah kiblat kita sama : Baitullah Kabah. Bukankah rukun iman kita sama-sama enam. Bukankah rukun Islam kita sama-sama lima. Lantas apa yang membuat kita enggan bersatu. Duhai kaum muslim tercinta, sadarlah, kembalilah ke rumah kita. 

Tunggu apa lagi, bukankah Allah Tuhan kita sangat membenci keterpecahan ini. Bukankah Allah sangat menganjurkan kita untuk bersatu padu dalam iman dan perjuangan. Bukankah musuh kita sudah jelas, berbagai kezaliman, pengkhianatan, penjajahan, kekufuran, kemunafikan dan penindasan akibat ideologi sekulerisme dan komunisme. Pulanglah ke rumah kita.

Tidakkah mata kita melihat segala penderitaan yang menimpa kaum muslimin di seluruh dunia oleh kezaliman rezim anti Islam. Tidakkah mata kita melihat kemiskinan dan kesengsaraan kaum muslimin akibat penjajahan negeri-negeri muslim. Tunggu apa lagi, bersatulah, pulanglah ke rumah kita.

Apakah mata kita tidak melihat, musuh-musuh Islam dengan terang benderang menebar kebusukan mereka. Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan menebarkan kezaliman, kebengisan, kejahatan, dan watak amoral lainnya. Lihatlah, maka pulanglah ke rumah kita.

Bukankah kita juga sadar bahwa kemuliaan diri kita bukan karena harta dan tahta duniawi, namun karena ketaqwaan kita. Tanggalkan segala perbudakan duniawi, jika akan menjadikan umat Islam terpecah belah. Ingat, Allah akan  menolong kita, selama kita menolong agamaNya. Waktu semakin pendek, pulanglah ke rumah kita.

Kehidupan hedonisme dan politik pragmatisme hanya akan mencerai beraikan persatuan kita. Cinta dunia dan takut mati hanya akan menyumbat ghirah perjuangan kita. Padahal kesejahteraan dan kebahagiaan akan dianugerahkan kepada kita, saat kita berjalan di atas jalan dakwah dan perjuangan agamaNya. Jangan pikir panjang, pulanglah ke rumah kita.

Pengembaraan diri untuk meraup libido duniawi, dengan meninggalkan Allah telah menjebak kita pada jurang kesengsaraan. Padahal dunia adalah sarana untuk ibadah dan lahan untuk berbuat baik. Bukankah akherat yang abadi telah menanti kita, menjamin kebahagiaan hakiki. Hilangkan hambatan diri, pulanglah ke rumah kita.

Kurang apa lagi, bukankah kehidupan Rasulullah telah tergambar jelas di mata hati kita. Kehidupan mulia dengan visi misi pengabdian total kepada Allah semata. Mengorbankan harta, tenaga, pikiran dan nyawa untuk perjuangan agama mengantarkan Rasulullah sebagai penghuni surga nan abadi. Tak ada alasan lagi, pulanglah ke rumah kita.

Apakah hati ini tega melihat berbagai kezoliman atas kaum muslimin di penjuru dunia di satu sisi. Namun di sisi lain, kaum muslimin cakar-cakaran berebut secuil harta dan tahta dunia. Adakah jawaban yang bisa kita berikan di hadapan Allah kelak di akherat. Demi cinta sesama muslim, pulanglah ke rumah kita.

Apakah kita tidak malu, saat nyawa, hati, otak, nafas, mata, telinga, mulut, dan seluruh anggota badan yang diberikan Allah kepada kita, lantas kita enggan tunduk kepada Allah. Bagaimana pula saat kaki dan tangan kita menjadi saksi atas pengkhianatan kita. Renungkan, pulanglah ke rumah kita.

Apakah di padang makhsyar kita tidak malu kepada Rasulullah saat dikumpulkan ternyata bendera kita berbeda-beda. Bukankah syahadat kita menghajatkan patuh tunduk dibawah panji Rasulullah, bukan panji yang lain. Dalam doa kamilin,  sering kita mengucap 'tahta liwai sayyidina Muhammad'. Kapan lagi kalau bukan sekarang, siapa lagi kalau bukan kita. Duhai kaum muslimin, pulanglah ke rumah kita.

Allah dan RasulNya telah menyeru dengan terang, bahwa seorang muslim adalah bersaudara dengan muslim lainnya tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kelompok dan geografis. Persaudaraan atas nama iman adalah kemuliaan di sisi Allah.  Apa yang dirasakan oleh saudara seiman, mesti juga dirasakan oleh saudaranya seiman lainnya. Karena itu, pulanglah ke rumah kita. 

Apakah kita tidak takut saat menjual agama ini demi secuil harta duniawi. Apakah kita tidak takut saat menfitnah sesama muslim hanya untuk mendapat harta dan tahta. Apakah kita tidak takut saat mengkhianati perjuangan Islam demi isi perut. Takutlah kepada murka Allah, pulanglah ke rumah kita.

Inilah seruan cinta untuk kembali ke rumah persatuan seluruh kaum muslimin di Indonesia dan seluruh penjuru dunia. Duhai Allah, sungguh telah kami sampaikan seruan cinta ini. Saksikan dan bukalah hati-hati seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia ini.

Jika kaum muslimin telah kembali pulang ke rumahnya sendiri. Kita bersatu padu bergerak dan berjuang demi Allah dan Rasulullah. Bersama menghadapi kepongahan musuh-musuh Allah. Berdiri tegak membela agama dari kejahatan kaum pembangkang agama. Maka, cukup hitungan menit, musuh-musuh Allah akan mudah dijungkalkan.

Duhai kaum muslimin, pulanglah ke rumah persatuan kita, di bawah panji tauhid kita, panji Rasulullah. Jawablah seruan cinta ini, jawablah !!!

(AhmadSastra,KotaHujan,24/02/19)

#TaubatNasuha
#UmatRinduKhilafah
#TegakkanKhilafahIslam
#IslamRahmatanLilAlamin
#HidupMuliaDalamKhilafah
#UlamaBersamaHTI #UmatBersamaHTI
#KhilafahAjaranAhlusSunnahWalJamaah
#HaramPilihYangAntiIslamZalimAntekAsingAseng

Jasad yg dikerjmuni lebah

Kenapa Jasad Sahabat 'Ashim Dikerumuni Lebah?

Oleh : Ustadz Faishal

#ShalihaSurabaya - Adalah 'Ashim bin Tsabit Al Anshori (' Ashim bin Tsabit bin Aqlah ra.) salah satu sahabat Rasul SAW.. yang tidak absen dalam peristiwa Badar dan Uhud. Rasul saw. pernah memujinya, menyeru para sahabat untuk cara berperang ' Ashim.

Rasul saw. berkata, “Bagaimana caramu berperang Wahai 'Ashim?” 'Ashim memeragakan busur anak panah yang ada di tangannya." Jika musuh di hadapanku 100 hasta kupanah dia, jika musuh mendekat dalam jarak tikaman lembing, aku bertanding hingga lembingku sampai patah, jika lembingku patah, kuhunus pedangku lalu aku pakai pedang" ia ahli dalam panah dan bermain pedang.

Kisah ini bermula di peristiwa uhud (3 H), Ia berhasil membunuh tiga laki-laki sekaligus (Musafi', Kilab, Jallas). Ketiganya adalah putra salah seorang pemuka Quraisy, Thalhah dan Sulafah binti Sa'ad bin Suhaid, keluarga tersebut dalam bagian pasukan Quraisy di perang Uhud. Ketika pertempuran mulai mereda/hampir selesai. Kaum Quraisy (kalangan wanitanya) berlompatan kegirangan berhasil menuntut balas terhadap peristiwa satu tahun sebelumnya (Badar) dimana banyak tokoh-tokoh mereka yang terbunuh. Dalam peristiwa Uhud tak sedikit kaum muslimin yang gugur, mereka (Quraisy) menendang, mencincang, merusak mayat-mayat kaum muslimin. Ada yang dibelah perutnya, dipotong hidung dan telinganya dijadikan kalung.

Sulafah binti Sa'ad hatinya gundah, gelisah dan tak menentu, menunggu kemunculan suami dan ketiga anaknya. Lama menunggu tak kunjung datang, ia putuskan masuk ke arena pertempuran, ia masuk hingga jauh ke dalam. Diperiksalah satu persatu wajah-wajah yang sudah tak bernyawa. Tiba-tiba ia tertegun didapati suaminya sudah terbaring tak bernyawa dengan berlumuran darah, pandangannya kosong dan hampa, ia melompat bagai singa betina yang wajahnya memerah penuh amarah. Dia arahkan pandangannya ke segenap penjuru arah mata angin, dia dapati tidak jauh dari suaminya dua anaknya Musafi' dan Kilab sudah tak bernyawa. Jallas anaknya ketiga sudah dalam keadaan bersimbah darah antara hidup dan mati. Ia dekati, ia peluk tubuh anaknya dia angkat dipangkuannya, ia bersihkan darah dikening dan wajahnya.

Sullafah berkata, “Siapa yang telah berbuat seperti ini wahai anakku?”

Dengan nafas yang terputus putus, Jallas menjawab, “'Ashim bin Tsabit al Anshori, dia pula yang juga membunuh Musafi' dan...” Belum selesai dia bicara ajal telah menjemputnya.

Sullafah binti Sa'ad bagai orang gila, menangis meraung-raung sekeras-kerasnya, ia bersumpah, "Aku tidak akan makan dan menghapus air mata ini sebelum membalas dendam kepada 'Ashim bin Tsabit dengan menjadikan batok kepalanya sebagai mangkok tempat minum khomr". Untuk mewujudkan dendamnya ia membuat sayembara menjanjiakan 100 ekor unta kepada siapapun yang berhasil membawakan batok kepala 'Ashim bin Tsabit kepadanya.

Sofyan bin Kholid lelaki Quraisy tergiur iming-iming tersebut, ia atur strategi dan rencana, ditemuilah beberapa orang dari suku Adhul dan Qarah, agar pura-pura masuk islam pergi ke Madinah untuk menemui Rasul saw.

Benar ditahun 4 H beberapa orang dari suku Adhul dan Qarah datang ke Madinah menemui Rasul saw., meminta kepada beliau agar mengirim beberapa sahabat untuk mengajarkan Islam kekampung mereka, salah seorang yang diminta adalah Ashim bin Tsabit. Rasul saw. tak menaruh curiga, beliau mengabulkan permintaan mereka, dikirimlah 10 orang sahabat (Ibnu Ishaq). Diriwayat lain 6 sahabat yang diketuai 'Ashim hin Tsabit.

Utusan Rasul saw. tersebut berangakat ke perkampungan Adhul dan Qarah bersama orang-orang Adhul dan Qarah tersebut. Sesuai rencana yabg telah disiapkan Sufyan bin kholid, ketika utusan Rasul saw. tersebut sampai di Raji' (daerah sumber mata air milik suku Hudzail) tiba-tiba beberapa orang utusan dari Adhul dan Qarah tersebut melakukan pengkhianatan dengan memprovokasi kabilah Hudzail yakni bani Lihyan. Terkumpullah 100 orang dengan mengepung 6 atau 10 utusan Rasul saw. tersebut.

Mereka berkata, “Kami tidak ingin menumpahkan darah di tanah kami, kami hanya ingin membawa kalian untuk ditukar dengan harta, maka ikutilah kami, kami tidak akan membunuhmu"

'Ashim menjawab, “Sungguh orang-orang ini telah mengkhianati kita" (pengkhianatan mereka akan dibalas oleh Rasul saw., ditema lain Insya Alloh).

'Ashim berseru, “Janganlah kalian lemah, ghonimah berupa sahid telah menanti kita, para bidadari pun telah menunggu menyambut kita." Karena jumlah yang tidak seimbang, 'Ashim bin Tsabit menemui apa yang telah dijanjikan Rabbnya, syahid.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dan iapun telah mendengar perihal sayembara tersebut, 'Ashim berdoa, "Yaa Allah, sampaikan berita ini kepada Rasul-Mu, Yaa Allah aku telah mengorbankan diriku di jalan agama-Mu yang benar, selamatkan diriku (kepalaku) dari tangan tangan kotor Musuh-Mu."

Allah SWT mengabulkan doanya dengan mengirimkan sekelompok lebah yang mengerumuni tubuh 'Ashim sehingga mereka tidak bisa memenggal kepalanya. Ketika mereka mendekat ke jasad Ashim, sekelompok lebah tersebut menyerangnya, hingga mereka berharap akan bisa memenggal kepala 'Ashim di malam hari atau esuk hari, tapi dimalamnya ternyata Allah SWT menurunkan hujan yang sangat lebat yang menimbulkan banjir, sehingga jasad Ashim terbawa arus banjir tersebut, hingga mereka tidak dapat menemukan jasad Ashim.

Allahu Akbar!! Maha suci Allah inilah cara-Nya menjaga hamba hamba-Nya yang bertaqwa, yang memperjuangkan agama-Nya, menjaga kesuciannya dari tangan-tangan keji musuh-musuh Allah. Namun Rasul saw. amat sedih atas peristiwa Raji' ini.

Tatkala Umar bin Khattab ra. mendengar kejadian ini, beliau berkata:

"Allah Menjaga hamba-Nya yang mukmin setelah meninggalnya sebagaimana Dia menjagaNya sewaktu masih hidup".(Mubarokfuri)

Setiap zaman selalu ada hamba-hamba Allah yang ikhlas, menetapi jalan hidupnya dijalan Allah, siang-malam tak kenal lelah memperjuangkan syariah-Nya tiada takut dan gentar dan tak akan mundur setapak pun, terhadap cacian orang-orang yang mencaci. Hidupnya ia belanjakan untuk meraih janji Allah. Allohu akbar.

Namun ada juga orang-orang yang mencaci mencibir, menghalangi risalah ini, melakukan pengkhianatan bersama orang-orang lalim. Jangan mengira, jangan mengira upaya mereka akan menemui hasil, mereka akan berhadapan dengan pemilik kehidupan ini.

Akhirnya, di barisan mana kita berada?

————————————————————
Shaliha Surabaya, Terdepan Mencerdaskan Umat. Media bagi Muslimah Shalihah di Surabaya.

Silahkan ikuti kami di :
Facebook: facebook.com/ShalihaSurabaya
Twitter: twitter.com/ShalihaSurabaya
IG: instagram.com/shalihasurabaya
Telegram: https://t.me/ShalihaSurabaya

Minggu, 24 Februari 2019

Sekularisme Berbulu Domba

© Doni Riw
.
"Negara ini bukan negara sekuler, tetapi juga bukan negara agama". Demikian dongeng nina bobok yang didengungkan setiap saat pada warga yang sebagian besar muslim.
.
Di dalam benak muslimin sudah tertanam kuat, bahwa sekulerisme itu buruk. Tapi sayang, hal itu tidak dibarengi pengetahuan kuat tentang hal ihwal sekulerisme. Sehingga mudah saja mereka ditidurkan dengan dongeng "sekulerisme berbulu domba" ini.

Tak ada titik tengah antara negara sekuler dengan negara agama. Sekulerisme adalah menolak penggunaan hukum agama untuk mengatur negara.

Ingat, mengatur negara! Bukan mengatur individu-individu!

Jika di negeri ini ada hukum nikah atau hukum wakaf yang berlandaskan Islam, hal itu tidak serta merta menjadikan negara ini bukan negara sekuler. Karena nikah dan wakaf itu persoalan pribadi, bukan negara.

Lantas apa yang disebut hukum pengatur negara? Salah satu contohnya adalah hukum ekonomi makro.

Ketika islam mengharamkan riba, kemudian suatu negara melegalkan riba, artinya negara itu sekuler.

Ketika islam mengharamkan penguasaan sumber daya alam oleh kapitalist, kemudian suatu negara memberikan konsesi sumber daya alam pada swasta, artinya negara itu sekuler.

Begitupun dalam hal tata negara, hubungan luar negeri, kurikulum pendidikan, dan lain sebagainya.

Inilah negara sekuler hipokrit. Negara sekuler yang tidak mengakui dirinya sekuler.
.
Sembunyi di balik kebolehan sholat, nikah, dan zakat, demi meraih dukungan politik dari sebagian besar warga negara yang beragama Islam.
.
Tugas kita adalah; membangunkan mereka dari nina bobok "sekulerisme berbulu domba" itu.
.
TShirt by IMOS
@tauhid.imos @katalog.imos
.
Grab it Fast, klik link:
bit.ly/AntiSekuler1
.
Wa +6281393340503
.
Jogja 24219
@doniriw
t.me/doniriw_channel
.
#sekulerisme #dakwah #islam #imos #sekulerbuludomba #doniriw

Melejitkan Kecerdasan Berbasis Spiritual

Oleh : Prof. Fahmi Amhar
---

Beyond the Scientific Way
Apakah yang bisa membuat Anda atau anak-anak Anda doyan belajar?  Kita melihat, banyak orang malas belajar, apalagi bila itu menyangkut pelajaran yang dinilai sulit, seperti matematika atau bahasa Inggris.  Padahal, sebenarnya semua anak pernah mengalami masa-masa belajar yang menyenangkan.  Hampir setiap anak suka belajar naik sepeda, berenang, atau menggunakan HP,  meski tidak ada sekolah yang memberinya nilai.

Setidaknya ada empat motivasi yang mendorong anak-anak sehingga suka belajar.

PERTAMA, adalah pengalaman sehari-hari.  Bila sesuatu yang dipelajari dapat langsung digunakan dalam kehidupan sehari-hari, maka itu akan membuat mereka bersemangat mempelajarinya.   Itulah mengapa semua anak semangat belajar naik sepeda atau menggunakan HP tanpa perlu ada yang menyuruh atau menilainya.

KEDUA, adalah menyadari tantangan.  Bila anak menyadari apa saja yang pasti akan dihadapinya di masa mendatang atau di tempat baru yang pasti dapat dikunjunginya, maka mereka akan bersemangat untuk mempelajari ilmu yang diperlukan untuk menghadapi tantangan itu.  Maka anak yang tahu akan diajak wisata ke luar negeri atau bertemu orang asing akan lebih semangat belajar bahasa Inggris, dibanding yang tidak punya harapan untuk itu.

KETIGA, adalah mendapatkan teladan.  Bila anak bertemu atau mendapatkan contoh sosok teladan yang menekuni suatu bidang ilmu, maka dia bisa terinspirasi untuk jadi menyukai bidang ilmu tersebut.  Seorang anak yang telah menonton film kisah Thomas Alva Edison bisa terinspirasi untuk tekun belajar fisika dan hobby utak-atik elektronika agar mengikuti jejak sang penemu lampu listrik itu seperti halnya anak yang rajin berlatih bola karena terinspirasi idola bola Zinedine Zidan.

Motivasi pertama dapat disebut “experiential”, motivasi kedua “adventurial”, dan motivasi ketiga “historical”.

Motivasi yang keempat adalah yang terunik, karena dapat mendorong orang mempelajari sesuatu yang di luar pengalaman sehari-hari, melebihi tantangan yang ada, dan nyaris tidak ada contohnya dalam sejarah.  Motivasi ini muncul dari kekuatan di luar dunia – yakni Allah swt, dan karena itu disebut juga “transendental”

Kaum muslimin terdahulu memberikan contoh, bagaimana mereka termotivasi belajar, mengembangkan kreativitas ilmiah dan menerapkan teknologi secara arif, oleh dorongan ayat-ayat Qur’an dan sabda Nabi saw.  Maka mereka meraih banyak hal, jauh di atas yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, melebihi yang dibutuhkan untuk menaklukkan musuh-musuhnya seperti Romawi atau Persia, dan menorehkan peradaban jauh di atas para teladannya yakni bangsa Yunani atau bangsa Cina.

Ayat yang pertama kali turun bukanlah ayat tentang ibadah mahdhoh seperti sholat, bukan pula ayat tentang keutamaan jihad, melainkan ayat tentang belajar.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaraan tulis-baca, Dia mengajarkan manusia apa yang tak diketahuinya. (QS al-Alaq 1-5)

Ditambah sejumlah hadits, di mana Rasulullah sangat mengapresiasi pencari ilmu. "Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke sorga”  (HR Muslim)

“Para malaikat selalu membentangkan sayapnya menaungi para penuntut ilmu karena senang dengan perbuatan itu, dan orang alim dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air".

"Kelebihan orang alim atas ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya rembulan atas cahaya bintang”  (HR Abu Daud)

Selain memberi motivasi secara umum, ada sekitar 800 ayat Qur’an yang secara spesifik mendorong kaum muslim agar mempelajari suatu hal. Ayat  “Dan [mengapa kalian tidak memperhatikan] langit, bagaimana ia ditinggikan?” (QS al-Ghasiyah:18) dijadikan pendorong belajar astronomi. 

Pada abad 9 M, di Baghdad, orang biasa menggunakan kitab Almagest karya astronom Yunani Ptolomeus dalam kajian “tafsir” atas ayat tersebut. Sedang ayat “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi penjuru langit dan bumi,
maka lintasilah, kamu tak dapat menembusnya, kecuali dengan kekuatan.” (Qs. 55 Ar-Rahman :33) telah mendorong Abbas Ibnu Firnas dari Cordoba (abad 9 M) untuk menciptakan gantole dan parasut, yang dengan itu dia telah menjadi manusia pertama yang terbang dengan peralatan teknologi.

Sedang Hasan al Rammah (abad 13 M) mengembangkan hampir 70 resep bahan peledak hingga torpedo mungkin karena termotivasi ayat “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan selain mereka yang kamu tak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya …”  (Qs. 8-Al-Anfaal :60).

Dalam kaitan teknologi, Rasulullah memandang manusia lebih tahu urusannya, sehingga beliau mendorong agar ada yang belajar ke Cina, yang tentu saat itu kaitannya dengan teknologi.  Sungguh, sebagian sahabat benar-benar pergi sampai ke Cina, antara lain untuk belajar teknologi membuat kertas, sehingga di masa Utsman bin Affan, Qur’an sudah dapat ditulis di atas mushaf (kertas).

Karena Nabi juga pernah mengatakan “Jika mati manusia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal, shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan dirinya”  (HR Muslim), maka pada masa keemasan Islam, banyak orang kaya ataupun penguasa yang ingin menorehkan namanya dalam keharuman ilmu. Mereka melakukan wakaf berupa pembangunan lab riset atau observatorium, lengkap dengan kebun yang luas untuk menghidupi para ilmuwannya agar melakukan riset.  Hasilnya antara lain adalah suatu tabel almanak astronomi yang paling mutakhir dan akurat di zamannya.  Tabel itulah yang akan dibawa-bawa oleh para pelaut dan mujahidin menembus batas cakrawala dunia Islam, menemukan tempat-tempat baru yang perlu disampaikan risalah Islam atas mereka, juga untuk selangkah lebih maju dari para pelaut penjajah yang selalu mengintai kelemahan dan kelengahan kaum muslim.  Shadaqah jariyah yang sekaligus memiliki output ilmu yang manfaat.

Karena iklim cerdas di masyarakat seperti itu, tak heran bila para penguasa juga dikelilingi penasehat yang terdiri dari para ulama dan ilmuwan, sehingga kebijakan-kebijakannya tak melenceng dari dalil Qur’an dan Sunnah, dan juga tidak pernah mengabaikan sunnatullah yang ditemukan secara empirik dan ilmiah. 

Meski penguasa dapat silih berganti, tetapi politik teknologi nyaris tidak berubah.  Negara tetap pro pencerdasan rakyat, memberi akses pendidikan yang maksimal kepada rakyat, dan menghargai karya para ulama dan ilmuwan sebagaimana mestinya.

Inilah kecerdasan berbasis spiritual.  Berawal dari sebuah dorongan transendental (Qur’an dan Sunnah), diproses dengan sebuah metodologi yang dibentengi syariah oleh orang-orang yang sejak kecil dididik dalam pendidikan Islam, dan akhirnya menerapkan teknologi yang ditemukannya untuk memberi rahmat seluruh alam[]

Batas Berfikir Positif

Ustadz Felix Siauw :

Islam itu agama yang mengajarkan kebaikan, dalam semua sisi. Tapi bukan berarti, menjadi Muslim, berarti kita tidak boleh waspada, bukan berarti kita tidak hati-hati

Berlaku positif itu penting. Melihat kebaikan orang, mengakui kelebihannya, tidak menghina dan mencela manusia, berprasangka baik, itu semua salah satu perilaku positif dan Islami

Hanya saja, bukan berarti kita tidak hati-hati dan waspada dengan alasan "Saya sedang mencoba positif", itu pun bukan sesuatu yang diajarkan di dalam Islam

Misalnya, kita sudah tahu bahwasanya ada pencuri yang ingin masuk ke rumah. Maka tidakan kita bukan "Saya mencoba positif, saya menghargai keberanian mereka", ini salah

Sama juga dengan ketika kita ketahui track record seseorang adalah pembohong, dan kita tahu dia ingin bermuamalah dengan sahabat kita, maka kita wajib mengingatkannya

Tidak boleh kita membiarkan teman kita bermuamalah dengan orang itu kecuali kita menasihati teman kita tentang apa yang kita tahu, dan ini ghibah yang dibolehkan, waspada

Islam itu keren, tapi juga bukan berarti polos. Yang jelas, ketika kita mendukung keburukan, dan kelompok-kelompok penganjur dosa, dengan alasan "berlaku positif", justru bentuk perilaku negatif

Tempatkanlah sesuatu sesuai porsinya, jangan pakai dalil "khusnudzann" pada kemaksiatan, alasan "berperilaku positif" jangan dipakai menjustifikasi kesalahan

#positif #batas #kebablasan

Ganti Rezim atau Ganti Sistem

Oleh : Nasrudin Joha

Sebelum Anda membaca lebih lanjut tulisan ini, coba perhatikan konklusi fakta yang tidak mungkin terbantahkan, sebagai berikut :

Pertama, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap problem utang luar negeri dan pertambahan utang yang otomatis bertambah akibat riba yang diterapkan.

Kedua, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap konsesi pertambangan yang telah dikuasai asing dan aseng, bahkan korporat keluarga domestik yang telah berbagi jatah tambang di negeri ini.

Untuk urusan ini, logika sederhananya
jangankan mengusir Freeport, meminta konsesi lebih atas pajak yang menjadi hak negara saja tidak akan pernah bisa.

Ketiga, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap penguasaan lahan yang mayoritas dikuasai korporat baik domestik, asing maupun aseng, yang pada umumnya dikelola melalui perseroan saham.

Jangankan menarik tanah tersebut menjadi hak negara dan didistribusikan kepada rakyat, meminta konsesi lebih atas pajak yang menjadi hak negara saja tidak akan mampu.

Keempat, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap problem ekonomi yang diakibatkan sistem ekonomi kapitalis, dimana harta ditengah-tengah umat akan ditarik dan terkonsentrasi kepemilikannya pada segelintir kaum kapitalis, baik domestik, asing dan aseng.

Kelima dan ini yang paling utama, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan mampu menerapkan syariat Islam secara kaffah, mengemban misi dakwah Islam keseluruh penjuru alam, membebaskan Palestina, khasmir, Rohingya, Suriah, dan negeri Islam lainnya yang tertindas.

Sampai disini, sebenarnya seluruh umat wajib berfikir sebelum bertindak, wajib merujuk dalil syara' sebelum berbuat, jangan bergerak hanya atas dasar sentimen perasaan dan kecenderungan semata.

Bahwa rezim hari ini menampakan kedzaliman yang sangat nyata, iya. Tetapi, mengganti rezim saja apakah itu akan menyelesaikan persoalan kedzaliman yang ada ? Padahal, Allah SWT berfirman "BARANG SIAPA MENERAPKAN HUKUM SELAIN HUKUM ALLLAH MAKA MEREKA ITU TERMASUK KAUM  YANG DZALIM".

Dari firman Allah SWT tersebut, mengganti satu Presiden dengan Presiden yang lain tidak akan menghilangkan unsur kedzaliman. Sebab, akar masalahnya adalah ada pada sistem demokrasi Republik, yang meletakan kedaulatan hukum ditangan rakyat, bukan ditangan syariat.

Lantas, bukankah suatu kedzaliman jika umat meletakan syariat dibawah ketiak kedaulatan rakyat ? Bukankah tidak ada perubahan, jika yang diubah hanyalah aktor kedzaliman. Bukankah ini sama saja, lolos dari mulut macan masuk mulut buaya ?

Jika umat mau berfikir sejenak saja, kemudian seraya mengesampingkan rasa yang hanya didorong kecenderungan semata, maka umat akan mendapati kesimpulan sebagai berikut :

Pertama, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem utang luar negeri dengan menghentikan hutang, mengharamkan riba, mengembalikan hanya pokoknya -setelah dikompensasikan dengan nilai cicilan yang sudah dilakukan- kemudian menyatakan berlepas diri dari seluruh konsekuensi ribawi. Jika mau fair menghitung, sesungguhnya nilai bunga cicilan ini jika dikompensasikan dengan pokok pinjaman, persoalan utang luar negeri ini sudah selesai, lunas, tuntas.

Bagaimana jika negara pemberi pinjaman komplain ? Mereka menuntut atas bunga yang belum ditunaikan ? Jawabnya Negara Khilafah menyatakan berlepas diri dari itu, dan siap membela diri dengan seruan Jihad, jika ada Negara yang berani menuntut atas hak yang tidak dibenarkan menurut syara'. Persoalan utang luar negeri ini selesai, tuntas.

Kedua, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaika

n problem konsesi pertambangan yang telah dikuasai asing dan aseng, bahkan korporat keluarga domestik yang telah berbagi jatah tambang di negeri ini.

Khalifah akan mengadopsi konstitusi dan Perundangan yang akan mengumumkan hak atas harta kepemilikan umum yang dilarang (haram) dimiliki pribadi, korporat, baik domestik, asing dan aseng.

Negara akan mengambil alih seluruh konsesi pertambangan dari swasta, mengelolanya atas nama negara, dan mendistribusikan manfaatnya kepada seluruh rakyat, tanpa membedakan status dan agama.

Perusahaan swasta, asing maupun aseng -termasuk perusahaan domestik- hanya memiliki hak atas investasi alat dan teknologi, itupun setelah dikompensasikan dengan nilai manfaat tambang yang selama ini telah dijarah dari negara.

Ketundukan wajib dilaksanakan, jika membangkang negara Khilafah dengan perangkat, alat dan struktur negara akan memaksa setiap entitas baik pribadi maupun korporat yang ada di yurisdiksi wilayah negara untuk tunduk, taat dan patuh pada hukum syariah yang telah diadopsi negara. Persoalan kedua selesai, tuntas.

Ketiga, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem penguasaan lahan yang mayoritas dikuasai korporat baik domestik, asing maupun aseng, yang pada umumnya dikelola melalui perseroan saham.

Negara akan membubarkan perseroan saham yang diharamkan dalam Islam, menggantinya dengan syirkah-syirkah Islami. Perseroan saham yang dibubarkan, aset tanahnya diminta untuk dikelola sesuai syirkah Islami yang dibentuk, dengan mengelolanya secara langsung.

Sisa lahan yang tidak bisa dikelola, diambil alih negara dan kemudian didistribusikan kepada rakyat secara merata dengan konsesi pemberian dari negara (Iqto' Ad Daulah). Ini berkaitan dengan lahan pertanian.

Sementara, lahan yang pada asalnya individu terlarang untuk memiliki, lahan yang demi kemaslahatan negara berhak untuk melakukan pemagaran (Tahjir), seperti lahan hutan, lembah dan rawa-rawa, maka negara langsung mengambil alih dari swasta tanpa kompensasi.

Selanjutnya negara akan melakukan pengelolaan, sesuai pandangan dan ijtihad Khalifah, untuk merealisir kemaslahatan umat. Adakalanya, lahan dibiarkan untuk menjaga ekosistem alam. Ada kalanya lahan dihidupkan, atau dibuka untuk lahan pertanian. Ada kalanya lahan didistribusikan kepada rakyat, baik dalam bentuk natural lahan atau telah diubah bentuk menjadi permukiman dan yang semisalnya. Persoalan ketiga selesai, tuntas.

Keempat, syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem ekonomi yang diakibatkan sistem ekonomi kapitalis, dimana harta ditengah-tengah umat akan dikelola sesuai hukum syara'.

Harta-harta kepemilikan individu (Milkiyatul Fardiyah), dibiarkan dikelola oleh individu umat, sesuai ketentuan syara dan negara melakukan kontrol secara umum terhadap proses transaksi dan pertukarannya.

Harta-harta milik umat (Milkiyatul Ummah) dikelola dan dikendalikan oleh negara, dimana hasilnya dikembalikan kepada rakyat baik secara langsung maupun dalam bentuk layanan publik.

Harta-harta milik negara (milkiyatud daulah) dikelola dan dimanfaatkan oleh negara untuk melaksanakan tugas-tugas riayah (pelayanan) negara terhadap umat.

Harta-harta akan beredar ditengah umat secara adil, dan tidak menumpuk pada individu tertentu. Persoalan keempat selesai, tuntas.

Kelima dan ini yang paling utama, ketika Khilafah ditegakkan, ketika Khalifah telah dibaiat, maka demi hukum negara akan menerapkan syariat Islam secara kaffah, mengemban misi dakwah Islam keseluruh penjuru alam, membebaskan Palestina, khasmir, Rohingya, Suriah, dan negeri Islam lainnya yang tertindas.

Tugas-tugas ini akan dipimpin langsung oleh Khalifah, bersama seluruh perangkat negara, tentara kaum muslimin dan atas dukungan seluruh umat warga negara daulah Khilafah.

Jadi, jelas persoalannya bukan sekedar ganti rezim tetapi juga ganti sistem. Persoalannya bukan sekedar gonta-ganti presiden, tetapi bagaimana kaum muslimin bisa melaksanakan kewajiban membaiat seorang Khalifah.

Atas akad Bai'at itulah, Khilafah kaum muslimin berdiri. Serius, Anda hanya mau ganti rezim ? Serius, Anda tidak ingin ganti sistem ? Saran saya, bersatulah di barisan politik Nasrudin Joha: GANTI REZIM GANTI SISTEM, TEGAKKAN KHILAFAH! [].

Bekal Istri Seorang Aktivis Da'wah

Oleh : Dra. Anis Byarwati, MSi.

Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur.
Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan.

Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan  kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?

#Muhasabah
#Repost

Mari Berfikir

KENAPA Murid Ini Menjawab 3 x 7 = 21,
Tapi Malah Dihukum Cambuk 10 Kali,
Alasan Sang Guru Sangat Mengharukan
Siapa Yang Benar

Alkisah, hidup seorang guru yang sangat dihormati karena tegas & jujur.
Suatu hari, 2 muridnya menghadap guru.
Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik.
Keduanya berdebat tentang hasil hitungan 3 x 7.

Murid pandai mengatakan hasilnya 21.
Murid bodoh bersikukuh hasilnya 27.

Murid bodoh menantang murid pandai supaya gurunya menilai siapa yang benar diantara mereka.

Murid bodoh mengatakan : “Jika saya yang benar 3 x 7 = 27, maka kamu harus mau dicambuk 10 kali oleh Guru. Tetapi kalau kamu yang benar (3 x 7 = 21), maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri. Haaaaaa…hhaa..” Demikian si bodoh menantang dengan sangat yakin akan pendapatnya. “Katakan guru, mana yang benar?” Tanya murid bodoh.

Ternyata guru memvonis cambuk 10x bagi murid yang pandai (yang menjawab 21). Murid pandai protes… tapi gurunya menjawab : “Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk ketidak-arifanmu karena berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalo 3×7 adalah 21.”
Guru melanjutkan : “Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi arif dari pada guru harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia”.
Pesan Moral : *Hindari berdebat dengan orang yang tidak menguasai data permasalahan, dan ilmu, sebab bila mental kita masih lemah maka hanya emosi dan permusuhan yang didapat*. Berdebat/bertengkar untuk sesuatu yang tidak perlu diperebutkan kebenarannya hanya akan menguras energi percuma. *Ada saatnya kita diam untuk menghindari/mengakhiri perdebatan yang tidak perlu*.
Diam bukan berarti kalah,
Menang juga bukan hal yang luar biasa apalagi menang lawan orang bodoh.
*Pemenang sejati adalah orang yang mampu menaklukkan egonya sendiri*.
Setiap orang mendambakan kedamaian hidup.

Sebelum berdamai dengan orang lain,
Sebaiknya berdamailah dulu dengan diri sendiri.
Semoga bermanfaat yaa... 😍

Sabtu, 23 Februari 2019

Ciri2 orang yg kelihatan Sholeh tapi pemikirannya sekuler

CIRI-CIRI ORANG YANG KELIHATAN SHOLEH TAPI PEMIKIRANNYA MASIH SEKULER

Oleh : Prof. Dr-Ing. H. Fahmi Amhar

Orang itu, subhanallah, begitu sholehnya.
Tak pernah ia ketinggalan sholat shubuh di masjidnya. Puasa Dawud juga selalu dikerjakannya. Istri dan putri-putrinya juga memakai jilbab dengan anggunnya. Taddarus Qur'an, ya setiap hari minimal satu juz dibacanya. Menghafal Qur'an bahkan salah satu obsesinya. Dia juga gemar bersedekah ke siapa saja. Atau silaturahmi ke para Ulama dan orang-orang tua.
.
Shalawat dan dzikir sering menghias bibirnya. Kalau pilih makanan, halal itu nomor satu baginya. Dan pergi umrah menjadi ritual tahunannya. Ya, orang itu begitu sholehnya.
.
Namun dia menganggap perbankan ribawi tak usah dilarang negara; toh bank syariah sudah dibolehkan, biarlah semuanya saling berlomba.

Soal HPH, konsensi tambang atau sejenisnya itu bukan urusan ulama; biarlah semua diserahkan kepada para ahlinya.
.
Ulama juga tidak usah ribut soal hutang luar negeri yang terus berbunga, kalau perlu datangkan pakar dari IMF atau Bank Dunia.
.
Dia juga menganggap pelacuran di berbagai kota bukan urusannya; toh negara belum mampu memberikan solusi pada para PSK-nya; yang penting dia tidak terlibat, apalagi menikmatinya.
.
Kalau soal pornografi, ulama silakan menjaga umatnya saja; tidak usah ribut-ribut, apalagi mendemo televisi dan media.
.
Dia juga menganggap wajar miras ditawarkan di hotel bintang lima; kan ada turis asing atau non muslim yang menikmatinya; yang penting bukan di minimarket di dekat rumahnya.
.
Dia bahkan menganggap hukuman hudud dan qishash itu tidak perlu ada, karena hukuman yang sekarang ini sudah lebih adil begitu rupa.
.
Maka ternyata, orang sholeh itu bisa sekuler juga.
.
Seolah-olah Qur'an yang dia baca, itu hanya untuk individu saja, sama sekali tidak berlaku untuk masyarakat, apalagi negara.
.
Kita yang selama ini salah duga, seolah-olah, yang sekuler itu pasti fasik lah orangnya. Padahal antara kesalehan individu dan kesalehan sosial, ya inilah bedanya.
.
Orang sholeh yang sebenarnya tidak pernah membedakan ayat tentang puasa: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (QS. Al Baqarah: 183),
dengan ayat tentang qishaash atas pembunuhan berencana: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).
Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu maka siksa yang sangat pedih baginya." (QS. Al Baqarah: 178)
.
Dia tidak membeda-bedakan ayat, karena semua adalah perintah-Nya. Dan Dia Yang Maha Tinggi lebih tahu tentang segalanya.[]

Aktor Pemicu Perang DiPonegoro

•Diponegoro menggampar Danurejo IV dengan selop karena patih menyangkal menyewakan tanah keraton ke pengusaha Eropa pada Garebeg Kraton 12 Juli 1820. (KITLV Leiden/Peter Carey)

•Residen Yogyakarta AH Smisseart, Patih Danurejo IV dan Wironegoro. (KITLV Leiden/Peter Carey)

Mengapa Pangeran Diponegoro akhirnya mengangkat senjata melawan pemerintah kolonial Belanda? Beberapa sejarawan menarik simpul yang sama,  yaitu ada dua orang yang menyebabkan putra Sultan HB III itu mengobarkan perang.

Bukan lantaran ingin naik tahta sebagai sultan, setelah adiknya Sultan HB IV meninggal mendadak pada usia 17 tahun. Bukan juga karena yang diangkat sebagai putra mahkota adalah keponakannya (putra HB IV) yang masih berusia dua tahun – dan kemudian diangkat sebagai HB V.  Pangeran Diponegoro memang sudah memendam rasa tidak suka terhadap dominasi dan intervensi pemerintah kolonial di dalam lingkungan Keraton Kesultanan Yogyakarta.

Kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial yang sangat merugikan keraton, membuat hati putra sulung Sultan HB III itu sangat prihatin.  Namun kegelisahan sang pangeran – yang menjadi anggota Wali Raja untuk HB IV dan HB V – masih mampu ditahannya, hingga akhirnya meledak menjadi kemarahan besar dan memutuskan untuk mengusir penjajah kulit putih hengkang dari Tanah Jawa.

Ketidaksukaan Diponegoro atas situasi di keraton itu perlahan-lahan naik secara eskalatif. Karena baginya, situasi buruk itu bukan semata disebabkan oleh Belanda semata. Tapi juga disebabkan oleh mundurnya moralitas para bangsawan yang memegang jabatan-jabatan politik di keraton. Di sini, Diponegoro berhadapan dengan sejumlah bangsawan yang pro-Belanda.

Sepak terjangnya sebagai wali raja, makin lama makin dipersempit oleh lawan-lawan politiknya di lingkungan keraton. Secara politis, Diponegoro makin terjepit dalam lingkungan keraton oleh ulah persekongkolan bangsawan yang pro-Belanda dan para pejabat di karesidenan. Namun sebenarnya, kemurkaan Diponegoro membuncah ketika dua orang – berbeda warna kulit – seperti bersatu selalu memojokkan dan melecehkan dirinya.  Yang kulit sawo matang adalah Patih Danurejo IV, sedang yang berkulit putih adalah Residen Yogyakarta Jonkheer Anthonie Hendrik Smissaert (JAH Smissert).

Realitas yang sangat menyakitkan hati pangeran adalah, bahwa Patih Danurejo IV adalah orang yang diusulkan menjadi patih oleh Diponegoro sendiri kepada ayahandanya, HB III.  Posisi patih saat itu belum kosong. Namun patih saat itu, Patih Raden Adipati Danurejo III atau Mas Tumenggung Sindunegoro dianggap sudah terlalu tua dan pikun, maka diusulkan oleh Residen Yogya Crawfurd,  untuk diganti.

Penggantian nama patih itu sempat menjadi masalah yang berlarut-larut. Crawfurd mengajukan dua nama. Pertama adalah Pangeran Dipokusumo. Kendati Diponegoro mennyetujuinya, ternyata Sultan HB III tidak setuju – karena nama itu dianggap pernah menentangnya ketika raja masih berstatus Putra Mahkota yang ‘bergesekan’ dengan ayahandanya sendiri, Sultan Sepuh (Sultan HB II).

Nama kedua yang diusulkan, adalah Raden Tumenggung Pringgodiningrat, patih jero. Diponegoro menolaknya mentah-mentah. Ini kembali membuat Crawfurd sangat marah, dan mendesak Diponegoro untuk segera memilih dua nama lagi yang diajukan. Desakan ini melalui Kapitan Cina yang sangat pro-Belanda, Tan Jin Sing. Crawfurd mengajukan lagi nama Pringgodiningrat – yang sudah ditolak Diponegoro – dan nama baru yaitu Mas Tumenggung Sumodipuro – mantan Bupati Japan (Mojokerto), yang kehilangan jabatan ketika terjadi aneksasi oleh Inggris. Nama terakhir inilah yang dipilih Diponegoro.

Meskipun tidak menyatakan menolak, Sultan HB III sangat heran dengan keputusan putra sulungnya itu memilih Sumodipuro. Mantan bupati dianggap berasal dari keluarga biasa, relatif  muda, berlogat medok Jawa Timur yang sangat menunjukkan dirinya sebagai orang biasa, dan tidak pernah punya pengalaman memerintah bangsawan yang lebih tua.  Namun karena Diponegoro tetap bersikeras, raja akhirnya mengangkat Sumodipuro sebagai patih dan bergelar Raden Adipati Danurejo IV pada tanggal 2 Desember 1813.  Pengangkatan ini terjadi pada zaman Inggris menguasai Jawa 1811 -1816.

Namun ternyata di kemudian hari, Sumodipuro  melakukan perbuatan-perbuatan yang selalu bertentangan dengan Diponegoro yang mempromosikannya. Bahkan terkesan, patih itu sangat membenci Diponegoro dan selalu menyudutkannya.

Pada masa awal menjabat, memang Danurejo IV ini masih terlihat cakap menjalankan posisinya. Sikap aslinya yang suka bersenang-senang dan main perempuan, belum nampak. Bahkan Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (musuh utama Diponegoro nantinya) pada awalnya sempat memuji Danurejo IV sebagai seorang Jawa yang baik, selalu berpakaian rapi, senang menunggang kuda gagah, dan mempunyai gundik-gundik cantik, serta  tidak pernah terpisah dari madat. Nantinya, Jenderal de Kock sangat kecewa dengan sikap patih yang sangat hedonis dan sering melalaikan tugasnya.

Danurejo IV juga bersekongkol dengan saudara tunggal kakek buyut, Mayor Tumenggung Wironegoro, komandan pasukan kawal sultan.  Keduanya masih keturunan Untung Suropati, pejuang Bali bekas budak yang melawan Belanda pada masa Mataram di bawah Sunan Amangkurat II.  Semua langkah politik Danurejo IV itu di-back up oleh Ratu Ibu (nantinya disebut Ratu Ageng),  ibu tiri Diponegoro.

Perseteruan Diponegoro dengan persekongkolan kaum bangsawan dan Belanda ini akhirnya sampai puncaknya, ketika Diponegoro terpojok dan memutuskan hubungan dengan Kesultanan Yogya.  Yaitu,  ketika Bupati Kerjo di wilayah Sukowati, Mas Tumenggung Kertodirdjo II dipecat dari jabatannya oleh Patih Danurejo IV atas izin Ratu Ageng. Danurejo IV berniat mendudukkan mertuanya, Mas Tumenggung Sosrowirono, menjadi Bupati Kerjo. Sosrowirono ini juga paman dari Ratu Ageng.

Kertodirjo sempat mengadukan pemecatannya ini ke karesidenan, awal 1823.  Meskipun Residen Yogya, JAH Smissaert, sempat memerintahkan pemeriksaan ulang, namun lagi-lagi, Danurejo IV memintervensi pengadilan agama, yang mengeluarkan putusan sela bahwa Kertodirjo tetap bersalah. Atas intervesi pengadilan ini, Kepala Pengadilan Agama Yogya, Penghulu Kiai Rahmanuddin, mengeluhkan campur tangan ini kepada Diponegoro. Pengaduan ini sampai juga ke telinga Danurejo IV, yang kemudian malah memecat Rahmanuddin – yang dianggap terlalu dekat dengan Diponegoro.

Patih juga banyak membuat ulah seputar kebjiakan Belanda menyangkut persewaaan tanah bangsawan dan rakyat jelata.  Dalam kasus penyewaan tanah ini, jelas Diponegoro sangat menentang kebijakan tersebut. Alasan Diponegoro jelas, selain penyewaaan tanah kepada para pengusaha Eropa membuat para petani penggarap kehilangan pekerjaan dan akan sangat miskin, juga diam-diam itu langkah pengusaan tanah secara licik oleh orang-orang Eropa yang didukung oleh patih dan residen Yogya.

Namun tidak seperti pangeran lainnya, Diponegoro tak bersedia tanahnya disewa. Suatu ketika pangeran mendengar bahwa atas perintah Danurejo IV, tanah pertanian milik kesultanan di Rejowinangun disewakan kepada pengusaha Eropa. Hal ini memancing kemarahan Diponegoro dan mencela patih itu pada acara Garebeg Puasa pada tanggal 12 Juli 1820.  Namun Danurejo IV  justru mengatakan bahwa celaan Diponegoro sebagai tuduhan ngawur tak berdasar. Maka tiada ampun lagi, pangeran dari Tegalrejo itu naik pitam, dan menggampar wajah patih itu dengan menggunakan selopnya.

Diponegoro juga banyak sekali mendengar sepak terjang patih yang sangat koruptif dan suka main perempuan. Danurejo IV adalah pagar makan tanaman – suka sekali bermain asmara dengan para putri keraton.  Pada masa pemerintahannya, mengingat HB IV masih anak-anak (dan nanti juga pada era HB V),  Danurejo IV membiarkan para bule Belanda blusukan ke kedaton, dan membiarkan mereka melakukan hubungan asmara dengan para putri.  Bahkan tidak hanya dirinya, sekongkolnya, Wironegoro, juga dibebaskan keluar masuk ke sejumlah kamar para putri. Situasi keraton ini sangat menyusahkan hati Pangeran Diponegoro sebagai wali raja.  Dalam catatannya (setelah  Diponegoro ditangkap),  pangeran itu mengatakan, bahwa : “ Chavelier (Asisten Residen Yogya) dan orang Belanda lain menginjakkan kaki ke dakam keraton kami seolah-olah keraton itu kandang kuda, dan bebas berteriak seperti tempat itu adalah pasar.”

Diponegoro jelas menganggap Danurejo IV adalah musuh utamanya, dan biang kerok ketidakadilan di wewengkon Kesultanan Yogyakarta. Danurejo IV yang berlaku seperti sultan itu, jelas memusuhi Diponegoro, karena sebagai wali raja, semua yang dijalankan sang patih, harus dilaporkan kepadanya. Danurejo IV adalah mitra yang pas untuk Residen Yogya yang tidak cerdas dan kagok : JAH Smissert.

Lantas siapa Smisseart? Inilah residen Yogya yang menjabat antara tahun 1823-1825, yang dipecat karena dianggap tidak mampu melakukan tugasnya sebagai wakil pemerintah Belanda di wilayah Kesultanan Yogyakarta. Penunjukan Smisseart sebagai Residen Yogya ini, diibaratkan oleh orang Belanda sezamannya, Willem van Hogendorp,  sebagai the wrong man in the wrong place, karena mantan Bupati Rembang ini tidak mempunyai pengalaman dinas di keraton-keraton Jawa tengah-selatan. Selain itu, Smisseart hanya memiliki bakat yang terbatas, pemalu dan kaku. Sosok lahirnya adalah lelaki bertubuh kecil, gempal gemuk, botak dan kurang menawan.  Bersama wakilnya, PFH Chevallier, yang sangat takabur dan sangat doyan mengencani perempuan, harapan pemerintah Hindia Belanda pusat atas pemilihan Smisseart menjadi sia-sia. Penyelesaian soal-soal undang-undang agraria yang ingin diterapkan pemerintah kolonial, tak bisa semuanya terwujud. Ini akibat residen dan asistennya ini sangat buruk perilakunya, dan bekerja sangat lamban. Bahkan residen ini sering mangkir bekerja berbulan-bulan, dan lebih suka tinggal di tanah perkebunannya di Bedoyo di lereng Merapi.

•Jonkheer A Hendrik Smissaert (1777-1832) Residen Yogyakarta antara 1823-1825. Kecerobohannya memicu pecahnya perang Jawa. (KITLV Leiden/Peter Carey)

Smisseart membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan keraton, yang nantinya juga menyakitkan hati Diponegoro, dan pemicu perang besar di Jawa itu.  Beberapa hal yang membuat Diponegoro sangat marah adalah Smisseart sering duduk di dampar kencana, ketika berlangsung acara-acara keraton. Peristiwa pertama yang menghebohkan kalangan keraton, ketika Garebeg Puasa pada 9 Juni 1823, Smisseart duduk sendiri di singgasana Yogya yang kosong – karena usia Sultan HB V yang masih balita. Residen tampak tidak peka terhadap persoalan dampar yang sempat panas sejak zaman Sultan HB II. Ketika itu,  Residen Yogya (zaman Inggris) menuntut kursi singgsana sultan sama tingginya dengan kursi untuk residen.

Sebenarnya Smisseart tak terlalu bersalah menyangkut ini. Mestinya yang duduk mewakili raja adalah salah satu dari empat wali raja. Namun Ratu Ageng (istri HB III) maupun Ratu Kencono (istri HB IV) tidak menghendaki Diponegoro duduk di sana mewakili sultan.  Maka dari itu, dua wanita berpengaruh menyerahkan perwakilan kepada Residen Yogya itu. Smisseart duduk di singgsana ini bahkan terjadi lima kali sepanjang dia duduk sebagai residen, bahkan Gubernur Jenderal GAGP Baron van der Capellen di Batavia mensahkan keputusan Smisseart tersebut. Inilah sebuah keputusan yang sangat membuat Diponegoro sangat sakit hatinya.  Sakit hati, karena dia tidak rela melhat Smisseart duduk di singgasana itu menerima sembah dari para bupati dari mancanegara timur, yang datang untuk menyerahkan upeti dan menghormat sultan.

Diponegoro juga sangat tersinggung dengan sosok Belanda hedonis itu, karena surat-suratnya. Simsseart tidak pernah menuliskan gelar pangeran, tapi hanya menulis “Diponegoro” tanpa embel-embel lain. Sebenarnya penyebutan nama saja itu atas inisiatif penerjemah karesidenan, Dietre, namun disetujui oleh Patih Danurejo IV dan Mayor Tumenggung Wironegoro.

Residen Yogya itu pula, yang dengan sengaja merancang memperluas jalan-jalan kecil sekitar Yogya, yang antara lain, salah satunya melewati sawah Tegalrejo dan dinding pagar rumah sebelah timur milik pangeran, dan mematokinya dengan tiang-tiang pancang. Pematokan ini dilakukan para bawahan Patih Danurejo IV pada tanggal 17 Juni 1825.  Pematokan ini tanpa memberitahu pangeran terlebih dulu. Diponegoro meminta anak buahnya mencabutinya. Tapi residen dan patih mengulanginya lagi. Peristiwa pancang-cabung ini berlangsung sampai tiga kali, dan yang ke empat, Pangeran Diponegeoro mematoknya dengan tombak.

Itulah dua tokoh yang bersekongkol memojokkan Pangeran Diponegoro, yang akhirnya mengangkat senjata dan mengobarkan perang dahsyat selama lima tahun.

Sumber: Kuasa Ramalan (Peter Carey, 2011), Strategi Menjinakkan Diponegoro (Saleh A. Djamhari, 2004), Sekitar Jogjakarta (Soekanto, 1953)

Membenci tukang bohong dan sombong

Iblis adalah mahluk penghulu para pendosa.
Iblis diusir dari surga dan dikutuk sampai hari kiamat.
Padahal iblis itu pernah beraudiensi dengan Allah.
Kalau iman itu sekedar percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, iblis beriman !
Iblis juga tidak pernah melakukan dosa besar seperti syirik, durhaka pada orang tua, berzina, mencuri, atau membunuh.

Dosa paling awal dari iblis itu cuma dua : sombong & bohong.

- sombong kepada Allah: menolak disuruh sujud ke Adam.

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. 7:12)

Segala macam pembangkangan kepada syari'at akibat meremehkan syari'at atau para pengembannya adalah mengikuti iblis.

- bohong kepada Adam: bilang pohon terlarang itu pohon keabadian (khuldi).

"Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)". (QS. 7:20)

Satu kebohongan akan diikuti kebohongan berikutnya.  Kebohongan adalah sengaja menutupi atau mengaburkan fakta untuk maksud tertentu yang melanggar syari'at.

Maka marilah kita benci perbuatan dosa itu maupun para pelakunya, yakni tukang sombong maupun tukang bohong. 

Tapi bolehkah kita membenci?  Bukankah agama ini mengajarkan untuk menjauhi kebencian?  Bukankah ujaran kebencian terlarang dalam UU ITE ?

Kita bukan hanya boleh tetapi wajib membenci karena Allah, artinya kita wajib membenci sesuatu yang dibenci Allah, yaitu kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.  Di dalamnya termasuk kesombongan dan kebohongan. Demikian juga dengan mencintai. Kita diperintahkan mencintai karena Allah, mencintai sesuatu yang dicintai Allah (keimanan, kesalehan).

"Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus" (QS. 49:7)

Jadi kebencian karena Allah itu jalan yang lurus.  Yang penting, kebencian itu tidak boleh membuat kita tidak adil.

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. 5:8)

Tukang sombong dan tukang bohong berhak kita benci.
Namun benci adalah amalan hati.
Bolehkah mereka kita doakan agar mendapat hidayah?
Boleh saja, karena doa adalah amalan lesan.
Jadi benci dan mendoakan tidak saling bertentangan.

Tetapi bolehkah kita mendoakan iblis, penghulu tukang sombong atau tukang bohong ?

Wallahu a'lam bis shawab.

Berpikirlah yg besar

BIG THINK, SMALL STEPS, BUT FAST MOVE

Dunia ini terus berubah.
Yang besar di atas, jangan merasa aman, tanpa salah.
Yang kecil di bawah, jangan merasa selamanya akan kalah.

Jama'ah Rasulullah dulu kecil, tidak diperhitungkan oleh para raja.
Tetapi kemudian beberapa abad memimpin peradaban dunia.
Sampai akhirnya jarum sejarah menggulirkannya.

Maka berpikir besar bukan hanya milik mereka yang telah raksasa.
Berpikirlah besar, global, dan tetaplah melangkah meski terbata-bata.
Namun bergeraklah cepat, selebihnya itu urusan Allah Yang Maha Kuasa.

#puisiFahmiAmhar

** Google, Amazon dan Facebook tahun 2000 belum diperhitungkan.  Facebook bahkan baru berdiri 2004.  Kini tiga perusahaan ini masuk 10 perusahaan paling bonafid di dunia.

Ujung-ujungnya Bisnis

Yang ngomong nasionalisme, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong kebhinekaan, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong demokrasi, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong pancasila, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong agama, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong nkri, ujung-ujungnya bisnis.
Karena kita semua di dalam kapitalisme,
di dalam cengkeramannya,
di dalam dekapannya,
di dalam buaiannya.

Kecuali kita maju bertekad melawan kapitalisme.
Dan tidak berayun ke lawannya: sosialisme.
Juga tidak terpikat cara-cara terorisme.

Maka mari kita ngomong khilafah.
Khilafah yang ajaran Islam.
Bukan yang kata orang.

Ngomong dulu saja.
Dan bukan bisnis,
apalagi ISIS.

#puisiFahmiAmhar

Ini Hanya Bisnis

Kalian tahu Alibaba? Itu e-commerce dunia, yang tidak hanya jual HP, baju, kosmetik, dll secara retail. Alibaba juga bisa untuk memesan beras 100 ton misalnya, jual-beli dalam ukuran besar. Saya Tere Liye, mau masuk bisnis jual-beli beras, maka saya carilah pedagang dari luar negeri yang jual beras. Banyak daftar penjualnya, ribuan lebih. Ambil salah-satu ‘pelapak’, ada yang jual Vietnam Jasmine Rice 25% broken rice, dia jual 300 dollar per ton FOB, minimal pesan 50 ton. Kalau pesan di atas 200 ton, bisa negosiasi lagi. Estimasi waktu sampai sekitar 10 hari. Karena ini FOB, maka pengapalan, asuransi, gudang di Indonesia, dll, dll, saya yang tanggung. Mari kita ambil perkiraan paling mahal biaya pengiriman dll tersebut 100 dollar per ton, maka total dengan harga 400 dollar per ton, itu beras sudah tiba di Indonesia.

Jika dirupiahkan, dengan kurs 14.000, maka berapa harga beras ini per kilogram? 400 USD x 14.000 / 1000 kg, didapatlah angka Rp 5.600/kg. Berapa harga beras ini dilepas di pasar Indonesia? Bisa Rp 10.000/kg. Berapa keuntungan impor saya? Rp 4.400/kg. Jika saya boleh impor 2,2 juta ton (tahun 2018 total impor beras 2,2 juta ton). Maka keuntungan saya adalah: Rp 9,68 Trilyun. Mantul, mantap betul. Itu uang semua, Rp 9.680.000.000.000.

Setelah untung 9,68 Trilyun, saya memutuskan bosan jadi penjual beras. Baiklah, saya mau jual gula saja. Lagi2 gampang, mari buka Alibaba, cari pemasok luar negeri sana yang mampu kirim satu juta ton. Harga gula lebih murah, Kawan, 150-200 dollar per ton bisalah, asal kamu pintar cari pelapaknya. Tambah dengan ongkos kirim, dll, dll, jadilah 300 dollar per ton. Tiba di Indonesia, mentok ongkos semuanya hanya Rp 4.200/kg. Berapa harga gula sekarang Rp 10.000 - 11.000. Wuih, itu nyaris 2,5 x dari harga aslinya. No, no, kata bos, tidak boleh impor gula konsumsi masyarakat, hanya boleh gula rafinasi, untuk industri. Tak masalah, setahun kita bisa impor nyaris 3 juta ton. Maka jika keuntungan per kilonya adalah Rp 5.000, maka berapa keuntungan saya? Rp 4.000/kg x 3.000.000.000 = Rp 12 Trilyun. Alias Rp 12.000.000.000.000.

Bosan bisnis gula, sy bisa ganti lagi jagung, atau daging sapi, atau apapun itu, welcome semua ke Indonesia. Kita adalah negara ‘pengimpor’ hebat. Kalian tahu soal impor gula misalnya, Indonesia mengimpor lebih banyak dibanding China (yang penduduknya 4x Indonesia), dan AS. Tentu bisa dimaklumi, karena penduduk kita manis-manis, jadi memang suka gula, eh?

Asyik sekali jadi pengusaha import ini. Untungnya tak kira-kira.

Nah, ketahuilah, siapapun rezimnya, siapapun yang berkuasa di sana, sejak era Ken Arok dan Ken Dedes dulu, impor-impor ini senantiasa empuk dan lezat, Kawan. Kalau ada yang bicara tentang stabilisasi harga pasar, bicara soal melindungi petani lokal, proteksi atas industri lokal, bicara manis-manis itu, maka itulah gunanya politisi, mereka menjual kecap paling bagus. Sementara di belakangnya, tidak tahu. Mungkin tertawa terpingkal-pingkal.

Mafia! Adalah salah-satu kambing hitam favorit di negeri ini. Gampang nyomotnya, dikit-dikit: Ini salah mafia! Dasar mafia impor kurang ajar! Ini SEMUA salah mafiaaaa! Gampang banget nyalahin mafia. Lantas apakah pernah ketangkap mafianya? Pernah diusut? Tidak pernah. Saya tengok penjara, tak ada itu yang namanya Mafia, Bafia, Masfia, atau Dekfia. Entahlah siapa mafia-mafia ini. Ehem, jangan-jangan kamu yang di sana? Yang di sana? Atau kamu juga? Ayo ngaku, deh. Jangan malu-malu.

Lantas ributlah di medsos. Fans capres bertengkar soal impor. Riuh rendah. Ada yang salah-sebut data impor jagung. Ada yang bilang no impor. Saling menertawakan. Saling serang. Mari gelar tikar, menonton hiburan gratis yang seru. Tapi sayangnya, setelah bertengkar tujuh hari tujuh malam, besok2 semua lupa. Yang dulu benci impor, saat berkuasa eh, jadi love sama impor. Yang dulu benci BBM naik, nangis2 penuh drama, pas berkuasa, eh malah mendukung paling depan. Ternyata cuma siklus saja, siapa yang kebetulan lagi jadi penguasa atau oposisi.  Aduh.

Lantas mau kamu apa, Tere Liye? Kalau saya sih, kalau saya boleh usul, mari kita buka saja habis2an keran impor ini. Siapapun bisa beli langsung dari luar negeri sana. Toh, “tinggal” pesan Alibaba. Siapapun boleh masukin barang, tidak perlu cincai lagi, semua boleh, tidak dilarang, dicegat di bea cukai, pun tidak usah dikenakan tarif-tarifan, pajak-pajakan. Kita bebasin semuanya. Kamu mau beli beras, silahkan pesan saja langsung ke Alibaba, sampai rumah cuma 5.000/kg. Pengin gula, pesan ke penjual gula di Brazil sana. Tunggu, nanti ada Mamang Kurir bawa truk besar, “Pakeeeet”. Pengin jagung, pesan sana ke Amerika, nanti ada Mamang Kurir gendong kontainer, “Pakeeet”. Coba lihat, dipanggil kencang2 susah amat nyahutnya, giliran Mamang Kurir tereak pakeet! Lari ke depan sambil senyum2.

Lantas bagaimana dengan petani lokal? Dengan pabrik gula lokal? Petani jagung? Petani Garam? Bagaimana dengan defisit transaksi berjalan? Bisa tekor gila Indonesia. Bodo amat. Itu bukan urusan saya. Buka saja habis2an. Toh, selama ini semua hanya soal bisnis belaka. Omong kosong nasionalisme, patriotisme, dsbgnya itu. Ini semua hanya bisnis, Bro, Sis. Lu doang yang terlalu serius ngefans sama capres, padahal ini cuma bisnis. Hitung2annya masuk, bungkus. Nah, daripada rente trilyunan itu masuk kantong orang2 yang sudah kaya raya, tajir gila, mending kita bebaskan saja. Biar kita dapat harga murah semua.

Sialnya, kalian tidak semua akan sependapat dengan saya. Dan setelah saya pikir2, aduh, saya juga tidak yakin benar itu solusinya. Itu bukan solusi ‘nyata’. Malah rugi. Toh, saya kan sudah berniat jadi ompirtir. Saya sudah bilang dari tadi, Tere Liye mau bisnis jual beli beras. Maka bagi saya, lebih baik saya memulai mendirikan perusahaan impor, mulai kontak2 bos, nyari jatah impor buat tahun depan. Oke, bos? Kasihlah ke saya impor gula 10.000 ton saja. Itu sudah untung 50 milyar loh. Tak usah banyak2, bos. Nanti gantinya, saya buatkan kaos, poster, baliho, spanduk, dll. Deal?

Demikian. Siapa suruh baca tulisan ini. Tidak ada solusinya memang. Malah bikin tambah kesel.

Tere Liye

Semua bertujuan baik

Di dunia, baik-buruk memang relatif. Tapi hisab di akhirat kelak, baik-buruk itu sudah jelas menggunakan tolok ukur Allah, yang garis panduannya sudah dibocorkan melalui Al Quran.
--------------------------------------------------------------------

SEMUA BERTUJUAN BAIK

Semua pemimpin bertujuan baik, menginginkan negara yang dipimpinnya menjadi lebih baik.

Fir'aun membangun super infrastruktur, pyramid, agar mesir terlihat lebih baik.

Stalin menerapkan komunisme agar Uni Soviet lebih baik. Benjamin Franklin menerapkan demokrasi dan kapitalisme agar amerika lebih baik.

Tapi persoalanya, baik bagi Fir'aun belum tentu baik bagi Musa a.s. Baik bagi Stalin belum tentu baik bagi Franklin.

Bagi Sukarno, demokrasi terpimpin lebih baik. Bagi Suharto, demokrasi pancasila lebih baik. Bagi generasi reformasi 98, tahu benar bahwa demokrasi pancasila Suharto tak lebih dari perusahaan pribadi.

Semua ingin membawa negara ke arah yang lebih baik. Tapi persoalannya, baik bagi Sukarno belum tentu baik bagi Suharto. Baik bagi Suharto belum tentu baik bagi Amien Rais.

Baik bagi Jokowi belum tentu baik bagi Sultan HB X. Maka bagi Jokowi, membangun jalan bebas hambatan berbayar itu baik. Tetapi tidak bagi Sri Sultan HB X. Makanya Sultan menolak jalan tol masuk Jogja.

Bagi Abu Jahal, mengikuti kesepakatan leluhur pendiri kabilah Qurais itu lebih baik. Tetapi bagi Abu Bakar, mengikuti Rasulullah adalah lebih baik.

Oleh karenanya, Abu Bakar menjadi Khalifatur Rasul (pengganti Rasul selaku kepala negara).

Bagi Abu Bakar menjadi Khalifah menerapkan syari'ah & khilafah adalah lebih baik ketimbang mengikuti sistem negara orang-orang Romawi.
.
Maka begitu pula hari ini. Ada yang berpendapat bahwa mengikuti kesepakatan leluhur dan demokrasi warisan romawi adalah lebih baik.

Ada pula yang berpendapat bahwa mengikuti para Khulafaur Rasyidin dan Rasulullah menerapkan syari'at adalah lebih baik.

Di dunia, baik-buruk memang relatif. Tapi hisab di akhirat kelak, baik-buruk itu sudah jelas menggunakan tolok ukur Allah, yang garis panduannya sudah dibocorkan melalui Al Quran.

Jogja 21219
@doniriw

Ketika Boneka Jadi Pemimpin

Oleh: MH. A’INUN NAJIB*

Kenapa rakyat mau Memilih Boneka, Patung atau Berhala untuk menjadi Pemimpinnya?

Karena Partai Politik Memperkenalkan Calonnya dengan Mendustakan Kenyataannya

Calon Pemimpin Ditampilkan dengan Pencitraan,
Pembohongan,
di Make-Up Sedemikian Rupa,
di-Besar²kan,
di-Baik²kan,
di-Indah²kan,
di-Hebat²kan

Itu bukan Politik namanya, Pak,
itu Kriminal

Memang bukan politik, melainkan Perdagangan

Bukan Demokrasi, melainkan Perjudian

Memang bukan Kepemimpinan, tapi Talbis, kalau dipaksakan untuk disebut demokrasi, ya itu namanya Demokrasi Talbis

Talbis itu apa tho, Pak?

Talbis adalah Iblis menemui Adam di Surga dengan Kostum dan Make Up Malaikat, sehingga Adam menyangka ia adalah Malaikat.
Maka Adam tertipu.
Rakyat adalah korban Talbis di berbagai lapisan.
Mereka dibohongi sehingga menyangka bahwa yang dipilihnya adalah pemimpin, padahal boneka.
Boneka yang diberhalakan melalui pencitraan

Apakah pemimpin yang demikian bisa berkuasa?

Yang Berkuasa adalah Botoh² (Bobotoh) yang Membiayainya.
Setiap langkahnya dikendalikan Oleh Para Bobotoh.
Setiap keputusannya sudah dipaket oleh penguasa modal.
Ia tidak bisa mandiri, karena dikepung oleh kelompok² yang juga saling berebut demi melaksanakan kepentingan masing²

Apa ia Tidak Merasa Malu Menjadi Boneka?

Itu 1 rangkaian:
Tidak Merasa Bersalah.
Tidak Malu.
Tidak Tahu Diri.
Tidak Mengerti bahwa ia sedang Menyakiti dan Menyusahkan Rakyatnya.
Tidak Memahami Posisinya di Hati Masyarakat.
Tidak Punya Cermin untuk Melihat Wajahnya

Sampai Separah itu Pak?

Tidak punya konsep tentang Martabat manusia, harga diri Bangsa dan Marwah Negara.
Hanya mengerti Perdagangan Linier dan sepenggal,
tidak paham perniagaan panjang yang ada lipatan dan rangkaian putarannya.
Tidak memahami tanah dan akar Kedaulatan, pertumbuhan pohon kemandirian, dengan Time-Line Matangnya Bunga dan Bebuahannya.

Pemimpin yang demikian membawa bangsanya berlaku sebagai Pengemis yang Melamar ke Rentenir

Pemimpin yang seperti itu Akhirnya Pasti Jatuh dan Hancur, kata Kakak.

Belum tentu, kata Bapak.

Jangan lupa bahwa kalau Para Bobotoh Mampu Mengangkat Berhala ke Kursi Singgasana,
Berarti Mereka Juga Menguasai Seluruh Perangkat dan Modalnya untuk bikin apa saja semau mereka di Negara ini

Juga Selalu Sangat Banyak Orang dan Kelompok yang Mencari Keuntungan Darinya,
Bahkan Menggantungkan Hidupnya.
Sehingga mereka Membela Boneka itu Mati²an.

Mereka selalu mengumumkan betapa Baik dan Hebatnya Pemimpin Yang Mereka Mendapatkan Keuntungan darinya, sampai² Akhirnya mereka yakin sendiri bahwa ia benar² Baik dan Hebat.

Uang, Kekuasaan dan Media, Sanggup Mengumumkan Surga Sebagai Neraka, dan meyakinkan Neraka Adalah Surga

*_S a l a m ,_*

*Emha Ainun Nadjib*

http://www.jerami.info/2018/09/12/ketika-boneka-menjadi-pemimpin/

Tulisan Untuk Para Pengemban MABDA

*Renungan......*
Ustadz Fatih Karim

Sudah lelahkah wahai kawan atas perjuangan
ini..?

mungkin jadwal dakwah yang padat itu
membuatmu lemah?

Atau tak pernah punya waktu istirahat di akhir
pekan yang kau gusarkan, karena harus terus BERGERAK berdakwah?

Atau pusingnya fikiranmu mempersiapkan acara2
dakwah yang membuatmu ingin terpejam?

Atau panasnya aspal jalanan saat kau melakukan aksi yang ingin membuatmu “rehat sejenak”?

Atau sulitnya mencari orang yang ingin kau ajak
HIJRAH ini yang kau risaukan?

Atau karena seringnya kehidupan sekitar kita
meminta infak2mu yang membuatmu ingin
menjauh?

Dakwah kita hari ini hanya sebatas ‘itu’ saja
kawan.
Bukan ingin melemahkan tapi izinkan saya
mengajakmu merenung sejenak….

Tahukah engkau wahai kawan, siapa Umar bin
Abdul Azis?? Tubuhnya hancur dalam rangka 2
tahun masa memimpinnya...
2 tahun kawan, cuma 2 tahun memimpin tubuhnya
yang perkasa bisa rontok,
kemudian sakit lalu syahid...

Sulit membayangkan sekeras apa sang khalifah
bekerja…tapi salah satu pencapainya adalah;
saat itu umat kebingungan siapa yang harus diberi
zakat…
tak ada lagi orang miskin yang layak diberi infaq…

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Tapi Syekh Musthafa Masyhur mengatakan
“jalan dakwah ini adalah jalan yang panjang tapi
adalah jalan yang paling aman untuk mencapai
ridho-Nya.”
Ya kawan, jalan ini yang akan menuntun kita
kepada ridho-Nya…
saat Allah ridho..

maka apalagi yang kita risaukan?
Saat Allah ridho…semuanya akan jauh lebih indah…karena surga akan mudah kita rasa...,
insyaAllah.

Rasulullah begitu berat dakwahnya..
harus bertentangan dengan banyak kabilah dari keluarga besarnya..

Mush'ab bin Umair harus rela meninggalkan
ibunya...
Salman harus rela meninggalkan seluruh yang dia kumpulkan di Mekkah untuk hijrah…
Asma' binti Abu Bakar rela menaiki tebing yang
terjal dalam kondisi hamil untuk mengantarkan
makanan kepada ayahnya dan Rasulullah.
Hanzholah segera menyambut seruan jihad
saat bermalam pertama dengan istrinya,
Ka'ab bin Malik menolak dengan tegas suaka
Raja Ghassan saat ia dikucilkan…
Bilal, Ammar, keluarga Yasir..mereka kenyang
dengan siksaan dari para kafir,
Abu Dzar habis dipukuli karena meneriakkan
kalimat tauhid di pasar,
Ali mampu berlari 400 KM guna berhijrah di
gurun hanya sendirian,
Usman rela menginfakkan 1000 unta penuh makanan untuk perang Tabuk,
Abu Bakar hanya meninggalkan Allah dan
Rasul-Nya untuk keluarganya…
Umar nekat berhijrah secara terang terangan,
Huzaifah berani mengambil tantangan untuk menjadi intel di kandang musuh,
Thalhah siap menjadi pagar hidup Rasul di
Uhud, hingga 70 tombak mengenai tubuhnya,
Zubair bin Awwan adalah hawariinya rasul,
Al Khansa' merelakan anak2nya yang masih
kecil untuk berjihad,
Nusaibah yang walaupun dia wanita tapi tak
takut turun ke medan perang,
Khadijah sang cintanya rasul siap memberikan
seluruh harta dan jiwanya untuk islam, siap
menenangkan sang suami di kala susah..benar2
istri shalihah

Atau mari kita bicara tentang

📌Musa…mulutnya
gagap tapi dakwahnya tak pernah pudar…
ummatnya seburuk-buruknya ummat, tapi proses menyeru tak pernah berhenti…

📌atau Nuh, 900 tahun menyeru hanya
mendapat pengikut beberapa orang saja..bahkan
anaknya tak mengimaninya…

📌Ibrahim yang dibakar Namrud, Syu’aib yang
menderita sakit berkepanjangan tapi tetap menyeru…

📌Ismail yang rela disembelih ayahnya karena
ini perintah Allah…

Deretan sejarah di atas adalah SEBAIK-BAIKnya
guru dalam kehidupan kita...

Sekarang beranikah kita masih menyombongkan
diri bersama jalan dakwah yang kita lakukan saat
ini, mengatakan lelah padahal belum banyak
melakukan apa apa…bahkan terkadang… kita
datang menyeru dengan keterpaksaan, berat hati
kita, terkadang menolak amanah (untuk menjadi
TELADAN)

Kawan… dakwah kita hari ini hanya sebatas “itu2”
saja,
he he bukan untuk melemahkan…
tapi menguatkan karena ternyata yang kita
lakukan belum apa apa….

Hidupku adalah hari ini, bukan hari kemarin
ataupun esok.. aku akan BERBUAT SEMAKSIMAL
mungkin dalam aktivitasku demi mencapai
keridhoan Allah SWT...

Suksesku semata kupersembahkan untuk
KEJAYAAN ISLAM yg sangat kucintai.
Renungan bagi diriku...

Semoga bermanfaat juga untukmu kawan...
Barakallahu fiikum..

#KhilafahAjaranIslam #BanggabicaraKhilafah #HTILanjutkanperjuangan #IslamKaffahdenganKhilafah #Islamrahmatanlilalamin

Ulama anti Khilafah

*Ulama Al Azhar ini dicopot gelarnya dan dikeluarkan dari barisan ulama. Sebab, menolak Khilafah sbg sistem pemerintahan syar'iy*

Ali Abdul Raziq (1888-1966) mulai terkenal sejak dunia Islam dikejutkan oleh tindakan Mustafa Kemal mengenai penghapusan Pranata Khalifah (1924) yang sudah berjalan kurang lebih tiga belas abad lamanya. Ali Abdul Raziq mengemukakan sebuah teori mengenai pemisahan antara agama dan negara. Hal ini tertuang dalam karyanya yang berjudul Al-Islam wa Ushul Al-Hukum atau yang berarti Islam dan Dasar-dasar Pemerintahan. Buku ini membangkitkan respon yang cukup tajam dari benteng kaum Al-Azhar ortodoks yang akhirnya melepaskan Ali Abdul Raziq dari julukan ‘alim’ (status keagamaannya). Tidak hanya itu, hal ini juga memaksanya untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai Qadi dan membuatnya tidak diterima dengan baik di berbagai public office.

            Dalam bukunya, Identity Politics in The Middle East, Meir Hatina menjelaskan bahwa gagasan yang diusung oleh Ali Abdul Raziq di dalam karya kontroversialnya berisi dua hal; pertama, Rasulullah merupakan seorang spiritual bukan seorang pemimpin politik, peran sempitnya untuk menunjukkan firman Ilahi dan mencapai agama yang satu. Kedua, kekhalifahan bukanlah sesuatu yang bersifat esensi atau inti pada kaum muslim, sebab tak termasuk dalam bagian ajaran Islam. Ia menyadari bahwa Islam adalah agama spiritual tanpa pemerian atau sistem politik yang wajib. Muslim bebas mengekspresikan kesetiaan berpolitik dalam variasi banyak negara dan memutuskan kebangsaannya sebagai mana mereka memilih dan sesuai dengan tradisi di dunia moderen, yang bernama Demokrasi Barat. Buku itu juga membangkitkan respon yang tinggi dalam politik, agama dan komunitas intelektual pada saat itu, meski sebelumnya pernah ditolak oleh kalangan Elit Politik Mesir.

            Buku itu pun merupakan serangan langsung terhadap pembahasan Rasyid Ridha dalam bukunya yang berjudul Al-Khilafah au Al-Imamah Al-‘Uzhma. Namun demikian, Rasyid Ridha tampak berusaha kuat untuk membela sistem khilafah atau imamah sebagai kesatuan politik dunia Islam terutama dalam menghadapi imperialisme Barat.

       Ketika dunia Islam dikejutkan dengan tindakan Mustafa Kemal, Kairo sedang mempersiapkan Muktamar Khilafah yang akan diadakan pada tahun 1926, dan setiap negara Islam lebih memperhatikan kepentingan nasionalnya dalam menghadapi kelihaian politik penjajah. Sebab itulah, Ali Abdul Raziq mencuat dengan gagasan barunya yang dianggap radikal dan berseberangan dengan pendapat para ulama. Sejak itu, Al-Azhar selaku penyelenggara Muktamar Khilafah merasakan adanya ketidaksetiaan Ali Abdul Raziq yang sebenarnya termasuk dalam anggota Korps Ulama Al-Azhar. Maka pada tanggal 12 Agustus 1925, Ali Abdul Raziq resmi dipecat dari Korps Ulama Al-Azhar juga serta dari semua jabatan lainnya.

Di Negeri Sekuler itu

(Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar)
.
Para politisi berkata, "Kalau bicara politik, jangan bawa-bawa agama!"
Dan para kyai berkata, "Kalau forum agama, jangan bicara politik!"
.
Para ekonom berkata, "Krisis ini akibat ekspor turun dan impor naik"
Sedang para ulama berkata, "Ini semua karena riba dan minimnya zakat"
.
Para insinyur berkata, "Bencana ini semata-mata kegagalan teknologi"
Tapi para ustadz berkata, "Bencana ini semata-mata karena maksiat kita"
.
Para mahasiswa berkata, "Pantas gak nyambung, gatek sih"
Lalu para santri berkata, "Kalau bicara agama harus lulusan syari'ah"
.
Kapan dua alam ini akan berintegrasi?
.
Ketika tidak ada pemisahan antara alam agama dengan alam dunia?
.
Ketika bicara dunia sekaligus berakibat akherat, dan juga sebaliknya?
.
Ketika para politisi tidak phobi agama, dan para kyai tidak menjual agama?
.
Ketika para ekonom melek syari'ah dan para ulama mengerti ekonomi?
.
Ketika para insinyur tahu tawadhu' dan para ustadz paham persoalan?
.
Ketika para mahasiswa tidak takabbur, dan para santri tidak arogan?
.
Ternyata sekulerisme ada di kedua sisi, baik sisi yang merasa lebih tahu dunia, maupun sisi yang merasa lebih kenal akherat.
.
Padahal syariat itu diturunkan melalui para Nabi, agar manusia bahagia di dunia dan di akherat, tidak cuma salah satunya.
.
.
#UninstallJae
#SecularismEffect
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahJanjiAllah
#BanggaBicaraKhilafah
#IslamSelamatkanNegeri
#IslamRahmatanLilAlamin
#KhilafahWillRiseAgain
#FahmiAmhar
#Khilafah
#Syariah
#Politik
#Ekonomi
#Islam

Selasa, 19 Februari 2019

Ideologi tak bisa mati

Oleh : Ust. Felix Y. Siauw

Manusia bisa mati, tapi ide tidak bisa mati, manusia bisa jadi berubah tapi ide tidak pernah berubah. Karena itulah ide lebih bertahan lama ketimbang manusia

Kumpulan ide yang berasal dari cara pandang tertentu, dikenal dengan ideologi. Yakni keyakinan mendasar yang memancar darinya seperangkat aturan tentang hidup

Bagi mereka yang punya ideologi, hidup mereka terarah, begitu juga dengan matinya. Tiap-tiap sumberdaya yang mereka miliki akan mereka kerahkan untuk ideologinya

Dari sudut pandang yang khas itulah, kita mengenal hanya tiga ideologi di dunia, dua buatan manusia dan satu dari Tuhan, yaitu Kapitalisme, Komunisme, dan tentu Islam

Ketiga ideologi ini punya perspektif khas tentang kehidupan, dan juga punya seperangkat aturan untuk menyelesaikan tiap-tiap permasalahan dalam kehidupan manusia

Hebatnya ideologi, ia juga memberi arah pada siapapun yang mengembannya, memberi panduan-panduan, hingga jadikan pengembannya punya keunikan tertentu

Ideologi akan mengubah siapapun yang mengembannya, agar sejalan dengan dasarnya. Bukan manusia yang mengubah ideologi, ideologi yang mengubah manusia

Ideologi akan menyeragamkan siapapun yang mengembannya, sebab perbuatan menyesuaikan dengan pemikiran, dan dasar dari pemikiran adalah aqidah itu sendiri

Maka aqidah Islam berbeda dengan aqidah Kapitalis, berbeda pula dengan aqidah Komunis. Maka wajar pengembannya pun berbeda dalam perbuatan dan perkataan

Sebaliknya, walau secara KTP mengaku Muslim, tapi bila perbuatannya justru lebih kepada Kapitalis atau Komunis, maka sebenarnya itulah dasar berpikirnya

Maka jangan tertipu dengan orangnya, lihat ideologinya. Dengar perkataannya, perhatikan tingkah lakunya, maka kita akan tahu apa ideologi seseorang secara pasti

Bila dia Islam, pasti ingin selalu terikat dengan hukum Allah, bila Kapitalis, maka akan mengukur kebahagiaan dengan dunia, Komunis tak suka agama dan ulama misalnya

Dan ideologi tak pernah mati, hanya menunggu pengembannya, dan bila ia sudah diemban, dia akan bangkit lagi, dengan cara yang sama, dengan ruh yang sama

#HTIdiHati
#HTILanjutkanPerjuangan

Nyali takluk dengan ilmu

KISAH PREMAN TANJUNG PRIOK YG SANGAT DI TAKUTI, TAKLUK OLEH CAHAYA KEMULIAAN HABIB MUNDZIR 😭
ㅤㅤ
Dikisahkan oleh Habib Mundzir di suatu daerah Tanjung Priuk Jakarta Utara tempat yg sangat rawan dg kriminal, pernah ada seorang preman yg hobinya mabuk, sering menyiksa bahkan tak segan² membunuh orang. Ia adalah bos preman yg konon kebal & menguasai ilmu² kejahatan.

Suatu ketika ada pemuda sekitar wilayah tsb ingin mengadakan majelis, namun takut pd preman kejam itu. Lantas ia mengadu pd Habib Mundzir.

Habib mundzir mendatangi rumahnya, lalu mengucapkan salam, tapi ia tidak mnjwb. Ia hanya mendelik dg bengis sambil melihat Habib Mundzir dri atas kebawah, seraya berkata, “Mau apa kamu!” lalu Habib Mundzir mngulurkan tangan & kemudian Habib Mundzir mncium tangan si preman, seraya memandang wajah preman tsb dg lembut & penuh keramahan. Habib memulai pembicaraan dengan suara rendah & lembut, “Saya mau mewakili pemuda dsini, utk mohon restu dan izin pada Bpk, agar mereka diizinkan membuat Majlis di Musholla dekat sini. Mendengar ucapan Habib Munzir tiba² Ia terdiam ia roboh terduduk di kursinya & menunduk. Ia menutup kedua matanya

Saat ia mengangkat kepalanya Habib Mundzir tersentak, beliau mengira preman tsb akan menghardik & mengusir beliau, ternyata wajah preman tsb memerah & matanya sudah penuh dg airmata yang banyak. Ia tersedu sedu berkata“Seumur hidup saya belum pernah ada ustadz datang kerumah saya! Lalu kini, Pak Ustadz datang kerumah saya, mencium tangan saya? tangan ini belum pernah dicium siapapun!. Bahkan anak² sayapun jijik & tak pernah mencium tangan saya, semua tamu saya adalah penjahat, mengadukan musuhnya utk dibantai, menghamburkan uangnya pada saya agar saya berbuat jahat. Lalu kini datang tamu minta izin pengajian pd saya. Saya ini bajingan? Knp minta izin pengajian suci pd bajingan seperti saya!.” lalu Ia menciumi tangan & kaki Habib Munzir sambil menangis, sejak saat itu ia bertobat, ia sholat, ia meninggalkan minuman keras & segala macam bentuk kriminal.

Mereka kira Habib Munzir adalah jagoan yg mngalahkan preman dg ilmu, padahal hanya kelembutan Nabi Muhammad ﷺ yg Habib Mundzir gunakan.

Siapa di balik gerakan massif HTI?

Hati-hati, kita tidak tau siapa itu yang ada di belakang HTI !

_Oleh : Aa Imam_

Btw sebelum saya mulai, curcol dikit bahwa setelah prof. Yusril Ihza melakukan konpers yang menegaskan bahwa HTI bukan organisasi terlarang, dan akan mensomasi sesiapa yang menyebut itu, maka sy merasa lebih lega lagi menulis tentang ormas 'hantu' ini, HTI.

Siapa di belakang HTI? Pertanyaan ini masih terbersit (dan sangat lumrah) di kalangan yang masih belum mengenal apa dan siapa itu HTI. Mungkin yang bertanya masih sebatas melihat HTI adalah kelompok yang rajin turun ke jalan, lalu pertanyaannya, 'siapa ya yang bayar ?'. Ini menarik, membongkar siapa wayang, siapa dalang...

Sebelum menjawab itu, karena HTI ada di wilayah perang pemikiran, maka yang perlu kita bahas adalah peta peperangan pemikiran, yang biasanya peta inipun tidak terlepas dengan peta peperangan di darat.

Peta politik dunia adalah tentang peta perang pemikiran. Kita harus bisa identifikasi siapa sih pemain politik di perang pemikiran, barulah kita bisa menuding bahwa pemain itulah yang berada di belakang permainan yang ia bikin. Visualisasi yang sederhana, kalau papan catur adalah medan perangnya, maka pemain caturnya adalah aktor politik di papan catur itu. Kalau kita mau menuding siapa yang dibelakang HTI, maka kita harus bisa mendefinisikan siapa aktor politiknya. Kalau tidak bisa menuding, kalau cuma bisa bilang "takutnya hti tidak sadar sedang digerakkan oleh kekuatan yang kita tidak tau siapa", berarti itu hanya khayalan saja, yang menuding HTI hanya proxy tak berotak yang sedang dimanfaatkan otak yang lain. Ini adalah tuduhan yang tak berdasar, dan hanya prasangka belaka, tanpa ilmu, dasarnya hanya karena "takutnya begini dan begitu". But again, ini lumrah, krn belum kenal HTI tho ?

Kita lagi bicara level dunia ya, bukan level negara, ataupun pilpres. Maka pemain politik dunia adalah mereka2 yang memiliki kemampuan kepemimpinan berpikir bagi umat dunia. Pemain politik dunia adalah mereka yang berusaha menguasai dunia, membuat world order, atau memastikan bahwa dunia ada di bawah aturan si pemain itu. Para pemain politik level dunia ini akan senang jika dunia ada di bawah cengkraman dan kekuasaan mereka. Mereka ini #bukanlah presiden suatu negara yang sudah mapan, namun mereka ada di balik presiden suatu negara. Mereka memikirkan sistem hukum yang dianut suatu negara, agar warga negara tunduk sama sistem yang rancangnya.

Si pemain bukanlah proxy, bukan juga partai politik pragmatis, tapi dia entitas ideologis. Untuk menjadi pemain, suatu entitas harus mempunyai konsep ideologi yang diemban, yang akan pemain itu sebarkan ke seluruh dunia. Kenapa Ideologi? kenapa bukan senjata ? Karena Ideologi adalah pemikiran mendasar yang melahirkan peraturan, aturan yang lahir itulah yang akan menjadi senjata yang akan memberikan pengaruh kepada kehidupan manusia. Ini lebih efektif dan berpengaruh daripada penguasaan senjata. Karena ideologi bersemayam di otak manusia, menjadi believe dan perbuatan manusia yang diaturnya. Pemain inilah yang akan bisa memainkan proxy, bukan sebaliknya. Kalau dia bisa dijadikan proxy, pastilah dia bukan pemain. Masak bidak memainkan pemain catur ?

Singkat cerita, HT adalah pengemban ideologi Islam, yang belum ada satu negarapun yang ketika tulisan ini ditulis, menerapkan ideologi Islam sebagaimana diperjuangkan oleh HT. HT sedang dalam perjalanan menuju kepada diterimanya konsep ideologi dan sistem pada suatu negara, maka yang dilakukannya adalah menyebarkan pemikirannya, menginstal ideologi (pemikiran mendasar yg melahirkan peraturan) kepada sebanyak2nya kepala di setiap negara, sehingga tercapai suatu titik di mana masyarakat suatu negara mengadopsi pemikiran HT, dan menjadikan tujuan-tujuan HT sebagai tujuan masyarakat itu sendiri. Titik di mana dukungan terhadap HT untuk menerapkan sistem Islam diterima di suatu negara, dengan dukungan masyarakat sebagai legitimasinya.

Dilihat dari perilakunya, HT bukanlah berada di atas agenda orang lain, tapi ia berada di atas agendanya sendiri. maka masuklah HT kepada entitas Ideologis, dia mengemban pemikiran, dan memperluas pengaruhnya. lengkap dengan pemikiran dan metoda-metoda yang bisa dilakukan oleh orang yang menerima ideologi itu. Bukan hanya dilevel filosofi, tapi hingga pemikiran (visi) dan metode (misi) yang sangat jelas, Menyatu visi dan misinya, kepada tujuan yang khas.

Contoh aktor politik ideologis di awal abad 20 adalah Vladimir lenin (ideologi komunis), dan Mustafa kemal attaturk (ideologi sekuler). dua tokoh itu mengemban, mengajarkan, dan menyebarkan pemikiran ideologisnya, mengirimkan utusan, membuat entitas politik, hingga masyarakat mengadopsi pemikiran mereka, dan dukungan militerpun mereka dapatkan, hingga akhirnya Lenin berhasil menjadi presiden Unisoviet dengan ideologi komunisnya, dan Mustafa Kemal berhasil menjadi presiden Turki dengan ideologi sekular yang menggantikan sistem khilafah di turki utsmani itu.

Sedang contoh aktor politik ideologis di zaman Rasulullah, adalah rasulullah itu sendiri, Ia yang menyebarkan pemikiran Islam, ia mengirim utusan dan membangun kutlah (kelompok) politik, ia yang menerapkan dan menjalankan hukum Islam, ketika masyarakat dan militer madinah telah mendukungnya dengan menerima Islam di wilayah madinah itu, yang mana setelah itu tersebarlah islam ke seluruh dunia, diikuti oleh perluasan wilayahnya. Di sinilah posisi HT hari ini di dunia, HT sedang mencari wilayah serupa madinah, yang akan menerima akidah dan hukum yang diemban oleh HT, dan memulai penyebaran pemikirannya ke seluruh dunia, dimulai dari negara pertama yang menerimanya, diikuti dengan perluasan wilayahnya.

Jadi setelah ini, jika terbersit pertanyaan, "siapa sih dibalik HT, kenapa perilaku HT memecah belah bangsa, membuat indonesia hari ini terpolar menjadi 2 kutub, islamis dan anti islamis?" maka anda sudah tau jawabannya. Bukanlah HT sedang dimanfaatkan oleh barat untuk memecah belah bangsa, tapi HT sedang berada di AGENDANYA sendiri untuk memasukkan pemikirannya kepada masyarakat, hingga masyarakat mau mengadopsi pemikiran dan tujuan-tujuannya. Namun sebaliknya, yang sedang berusaha memecah-belah umat adalah lawan politiknya HT, yaitu kaum sekuler, yang menjadi proxy / antek-antek barat yang ada di luar sana, yang mana antek2 itu berkepentingan agar masyarakat Indonesia tetap terbelah, namun terbelah dalam keadaan tunduk pada aturan mereka, yaitu hukum sekuler. Dengan dipakainya hukum sekuler oleh indonesia, maka penjajahan terhadap di Indonesia dapat terus mereka lancarkan, mereka bisa menjadikan sekularisme* sebagai aqidah bangsa ini, dan menjarah SDA Indonesia di saat yang sama.
*sekularisme= ajaran yg memisahkan agama dari kehidupan

Untuk melawan itu, tidak heran jika dengan sendirinya akan terpolar di satu kubu yang berada di bawah pengaruh HT, yaitu grup islamis yang hari ini sering turun ke jalanan, mereka yang sedang dibentuk pemikirannya oleh HT agar menjadi masyarakat yang tidak hanya terikat aqidah yang sama, tapi juga terikat pada tujuan yang sama yaitu mewujudkan diterapkannya syariah dalam negara islam bernama khilafah. Sedangkan satu kubu disebrangnya adalah kubu yang merupakan antek penjajah, yaitu liberal yang berkedok nasionalis religius, yang dikubu itu sibuk mempertahankan bagaimana caranya agar hukum sekuler tetap diterapkan di Indonesia, sekalipun antek2 itu seorang muslim. Itulah yang menjadi bukti bahwa kubu anti Islam adalah hanya proxy dari kekuatan politik yang ada di balik mereka. Mereka dengan sadar atau tidak sadar sedang bertindak tanduk demi kepentingan tuan mereka, yang ada di belakang mereka.

Bedanya, kalau HT menggerakkan manusia dengan dorongan aqidah dan keta'atan, namun kalau sekuleris barat, menggerakkan manusia dengan dorongan materi, dan tipuan dunia lainnya..

Kalau penulis siapa? yah.. bolehlah anda bilang, saya ini termasuk yang sudah menerima pengaruh dari HT, sy menyebarkan ideologi dan menyampaikan pemikiran HT, dan merasa senang jika ada yang mau menerima dan menyebarkan kembali apa yang sy emban ini. Apakah sya dimanfaatkan oleh HT? tak masalah, yg saya tahu, ideologi Islamlah satu-satunya ideologi yang menggerakkan saya untuk makin dekat kepada pencipta saya, Allah SWT. Sedangkan ideologi lain, akan menjauhkan saya dari Allah SWT. Dengan ideologi sekular, apalagi komunis, orang akan dipolitisir untuk menjauhkan agama dari kehidupan, tidak seperti yang diajarkan oleh HT, di sini, sy diajarkan untuk mengaitkan semua perbuatan saya dengan hukum syara'. Makin saya berupaya untuk ta'at, makin tenteram hati saya.

Jadi bolehlah dikatakan, yang ada di belakang HT adalah Allah dan Rosulnya, yang diemban oleh HT adalah ideologi Islam, yang  menjadi kepentingan HT adalah "melanjutkan kehidupan Islam", memasukkan sebanyak-banyaknya manusia ke bawah keta'atan kepada Allah SWT, dan menuai limpahan keberkahan Allah ke atas bumi berupa maslahat bagi umat manusia.

Allah a'lam

aturan pakai : baca bismillah sebelum share... :)