Blogger Widgets

Sabtu, 20 Februari 2021

Ketika Kas Masjid Dana Umat Hanya Sibuk Untuk Renovasi Masjid

*RUMAH BERBAU MELATI*

Waktu Magrib yang menegangkan. 

Orang-orang bergerak menuju rumah kosong setelah pencuri kotak amal lari ke dalam bangunan angker untuk bersembunyi.

Tidak ada azan magrib hari itu 

sebab seluruhnya pergi mengejar pencuri laknat yang lancang mencemari rumah suci dengan perbuatannya yang keji.

Pencuri sialan!

Dia harus ditangkap dan diadili!

Rombongan massa itu saling sahut-menyahut, menumpahkan sumpah serapah, sesekali salah satu di antara mereka meneriakkan takbir.

Mereka makin dekat. 

Semerbak melati dibawa angin dari arah rerimbunan pepohonan di halaman rumah angker. 

Rumah bau melati. Konon sering ada penampakan wanita yang melayang-layang mengitari rumah. Ia terbang sambil tertawa cekikian.

Namun, 

kali ini siapa yang peduli bau melati? Siapa yang peduli penampakan hantu wanita? Orang beramai-ramai. Bahkan di dalam rombongan itu ada Pak Haji, mana mungkin wanita itu berani menampakkan diri?

Bau melati makin kental. 

Kian menusuk hidung. Wangi sekaligus mendatangkan ketenangan yang mengerikan. Tak berapa lama kemudian orang-orang telah sampai di halaman rumah.

"Allahhu akbar!" 

Pak Haji mengucap takbir. 

Pandangannya menatap tajam ke awang-awang. Sementara warga yang lainya senyap. Beberapa gemetaran, ada juga yang mulutnya sampai menganga.Perempuan itu muncul, melambung-lambung di antara dua pepohonan rimbun.

"Mengapa tak ke masjid? 

Mengapa tak mengumandangkan azan?Bangsaku sudah bersiap menutup telinga, beberapa sudah bersembunyi di tempat pembuangan yang kedap dan bau," sergah wanita yang wajahnya tertutup rambut panjang.

"Kami mau menangkap pencuri kotak amal!" jawab Pak Haji sedikit gemetar.

"Tidak bisa! 

Dia mencari perlindungan di rumah kami! 

Wajib bagi kami untuk melindunginya!"

"Setan terkutuk! Sudah terkutuk, sukanya membela bandit yang kelakuannya terkutuk!"

"Kamu lebih terkutuk! 

Kalian semua terkutuk!" 

Lecutan kata itu diiringi tawa cekikikan.

**Bau melati bertebaran.

"Biar aku bacakan kamu ayat-ayat Allaah! Lekas-lekaslah terbakar dan enyah kamu ke neraka!"

Pak Haji membaca ayat kursi. 

Warga berdzikir bersama-sama. Dengung suara dzikir terdengar bagai segerombolan lebah.Tak lekas terbakar, wanita itu malah menirukan bacaan ayat kursi secara fasih.

"Bagaimana bisa ayat suci itu menghiasi lisanmu, bahkan tiap hari kamu membaca berjus-jus quran, tapi tak satu pun yang terselip di hati?"

Ucap wanita yang kini duduk di atas dahan pohon beringin.

"Apa maksudmu, setan busuk?"

"Aku tahu siapa si pencuri kotak amal. Dia cuman anak-anak. Dia yatim. Kini bertambah jadi piatu. Simboknya baru saja meninggal seminggu yang lalu. Tanah kuburannya masih basah lalu kini kalian mau menghabisinya? Bagaimana bisa penderitaan anak ini luput dari jangkauan kalian?" 

Semua terdiam. Pak Haji makin jengkel.

"Tapi, bukan berarti dia boleh mencuri!"

"Kamu mengumumkan kas masjid yang puluhan juta itu melalui pengeras suara. Sementara anak ini kelaparan. Hidupnya kini sebatang kara! Lalu ke mana saja kas yang puluhan juta itu? Mengapa yang kalian pentingkan hanya pembangunan masjid saja?"

"Kalau masjidnya bagus dan nyaman, ibadah jadi tenang." Pak Haji masih membela diri meski nada bicaranya makin melunak.

"Masjid kalian makin megah, makin nyaman, tapi, Allaah yang kalian sembah itu kelaparan, kehausan, sedang kalian tak mau menggubrisnya."

"Kurang ajar! Beraninya kamu merendahkan Allah. Mana mungkin Allah lapar dan kehausan!" Pak Haji kembali menaikkan suara. Telunjuknya mengacung ke atas, tasbihnya terlihat melilit di pergelangan tangan.

"Dalam setiap jiwa yang kelaparan dan kehausan, Allah begitu dekat. Apa kalian tak pernah mengasah hati nurani?" Wanita itu kembali cekikikan.

Perkataan terakhir wanita itu membuat hati Pak Haji melunak secara kaffah. Dahulu, di pondok pesantren, ia kerap mendengar hadits qudsi tersebut. Mengapa kini ia malah melupakannya?

Tertunduk Pak Haji dalam-dalam. Betapa menyesalnya ia kini.

Bau melati semakin tidak wajar. Makin membuat pusing dan mual. Beberapa yang tidak kuat menghirup aroma kental itu akhirnya lemas dan pingsan. Pak Haji pingsan paling akhir. 

***

"Pak, bangun! Sudah Mahrib. Ayo ke masjid." Bu Haji membangunkan suaminya yang tertidur selepas Ashar.

Buru-buru Pak Haji ke masjid dan mengecek kotak amal. Masih pada tempatnya. Pucat muka pria sepuh itu karena mimpi yang terus berkelebat di benaknya

Usai magrib, Pak Haji dan beberapa jamaah membongkar kotak amal. Dari hasil yang didapat, sebagian dialokasikan untuk pembangunan, sebagian untuk kesejahteraan umat.

Esok hari, pak haji buru-buru membeli sembako dengan uang kotak amal, ditambah uang pribadinya. Ia mendatangi rumah anak yatim yang ada di dalam mimpi.

Tersuruk-suruk langkah Pak Haji membopong sekarung beras dan menenteng bingkisan. Beberapa warga menawarinya bantuan untuk membawakan karung beras, tapi Pak Haji menolak.

"Ini adalah kelalaianku! Aku membiarkan anak yatim itu kelaparan. Aku sendiri yang harus memikulnya!"

Sesampai di depan gubuk tua dan reyot di pinggir sungai, buru-buru Pak Haji dan warga dengan bangga membuka pintu gubuk yang hampir roboh itu,

dan...... apa yang mereka saksikan,.....

Yatim piatu itu 

telah terbujur kaku 

di atas sajadah lusuh 

sambil memegangi perutnya... 

di hadapannya ada Al Qur'an kecil yang 

masih terbuka pada surat Al Mukmin ayat 47..

😭😭😭

Innaa lillaahi wa innailaihi rooji'uuun ...

*Allah berada di tengah-tengah orang yang hatinya hancur*

Senin, 08 Juni 2020

Bila KHILAFAH tegak dimana posisi Pancasila?

BILA KHILAFAH TEGAK, DI MANA POSISI PANCASILA?
(Ketika Wartawan ‘Diwawancarai’ Intel)

Oleh: Joko Prasetyo, angkatan pertama Jurnalistik Fakultas Dakwah UIN SGD Bandung

"Kali ini dia tidak menjawab retoris lagi seperti yang sudah-sudah. Tetapi menjawab dengan perlahan… “Kalau Indonesia jadi ibu kotanya, saya setuju.”"
_________________________________________
.
.
“Bila khilafah tegak, di mana posisi Pancasila?” tanya seorang lelaki berkumis baplang yang duduk di depanku pada Ramadhan tahun lalu di salah satu kantor tempatku bekerja di Jakarta.
.
Dia mengaku sebagai seorang intel berpangkat Sersan Satu, jauh-jauh datang dengan menempuh perjalanan sehari semalam dari teritorial kerjanya karena diperintahkan Komando Distrik Militer (Kodim) tempatnya bertugas.
.
Deg, seperti ada sesuatu yang menghentak jantungku di siang bolong itu. Tenggorokanku terasa kering, perutku keroncongan. Sedetik aku memutar otak memilih kalimat apa yang hendak dikatakan. Pasalnya, Rasulullah SAW dan para sahabat RA saja yang dijamin masuk surga tersebut sama sekali tidak mengenal istilah “Pancasila”. Salah-salah ngomong aku bisa dicyduk nih, pikirku dalam otak eh dalam hati.
.
Ia mengaku, Kodim kabupaten menugaskannya karena ada protes dari ormas tertentu lantaran salah satu jamaahnya mendapati sebuah buletin Jumat yang mengangkat suatu persoalan dengan menjadikan khilafah sebagai solusinya. Dari dalam tasnya, ia keluarkan buletin yang dimaksud serta menunjukkan kata “khilafah” yang muncul pada beberapa paragraf terakhir.
.
Aku pun manggut-manggut.  
.
“Benarkan ini alamat buletinnya?” ujar intel tersebut.
.
“Benar,” jawabku.
.
.
MASALAHNYA DI MANA?
.
Aku pun mempertanyakan masalahnya di mana? Bukankah khilafah adalah ajaran Islam di bidang pemerintahan yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Dan memang masalah yang dipaparkan dalam buletin tersebut akar masalahnya berawal dari negara yang tidak menerapkan syariat Islam. 
.
Sang intel pun menyebutkan sebentar lagi pilkada dan ia tak ingin terjadi benturan fisik di kabupaten tempatnya bekerja. 
.
“Lho Mas, apa hubungannya dengan pilkada? Buletin itu kan hanya mendakwahkan khilafah ajaran Islam, dan tidak pernah memaksakan kehendak kepada yang tidak setuju. Dan setahu saya setiap rusuh pilkada tak ada kaitannya dengan orang yang mendakwahkan khilafah maupun buletin itu,” jawabku.
.
POSISINYA DI MANA?
.
Ia pun menyebut bahwa dirinya hanyalah ditugaskan menjaga wilayahnya dari segala kemungkinan yang dapat menimbulkan kerusuhan. “Masalah sekecil apa pun bila terjadinya di musim pemilu bisa menjadi pemicu,” jelasnya.
.
Aku pun menjelaskan bahwa buletin tersebut terbit semata-mata hanyalah mendakwahkan Islam dari A sampai Z, dari akidah, ibadah, muamalah sampai khilafah. Dalam Islam berdakwah hukumnya wajib. Sedangkan Islam merupakan salah satu agama resmi di negara ini. Dan para pemeluknya dijamin konstitusi untuk mendakwahkannya.
.
Kemudian intel tersebut melontarkan pertanyaan seperti yang sudah disinggung di awal tulisan ini: “Bila khilafah tegak, di mana posisi Pancasila?” 
.
Deg, seperti ada sesuatu yang menghentak jantungku di siang bolong itu. Tenggorokanku terasa kering, perutku keroncongan, maklumlah lagi puasa Ramadhan he… he… Sedetik aku memutar otak memilih kalimat apa yang hendak dikatakan. Pasalnya, Rasulullah SAW dan para sahabat RA saja yang dijamin masuk surga tersebut sama sekali tidak mengenal istilah “Pancasila”. Salah-salah ngomong aku bisa dicyduk nih, pikirku dalam otak eh dalam hati.
 .
Setelah berupaya menelan ludah tetapi tak ada yang bisa ditelan, aku pun menjawab. “Bila khilafah tegak, insya Allah semua sila dalam Pancasila akan tegak. Sebaliknya, dengan demokrasi tegaknya Pancasila jauh panggang dari api!” tegasku.
.
Sang intel mengernyitkan dahi.
.
.
REFERENDUM
.
Tak menunggu dia melontarkan pertanyaan, aku pun langsung memberikan contoh dari sila yang paling dekat dengan tugas tentara yakni Sila Ketiga: Persatuan Indonesia.
.
Aku pun menjelaskan, demokrasi tidak menjamin wilayah kita tetap utuh dari Sabang sampai Merauke (bila mengikuti terbit matahari mestinya dari Merauke sampai Sabang). Karena dalam demokrasi ada yang disebut dengan RE-FE-REN-DUM. 
.
“Timor Timur (sekarang Negara Timor Leste) lepas karena apa? Referendum kan? Terlepas adanya kecurangan yang dilakukan UNAMET (semacam KPU-lah), diumumkan mayoritas rakyat Timor Timur ingin lepas dari Indonesia. Dan Timtim pun lepas begitu saja,” ujarku. 
.
Sedangkan khilafah, tak mengenal istilah referendum.  Jadi meskipun di satu wilayahnya ada mayoritas rakyat ingin memisahkan diri (BU-GHAT) tidak boleh dibiarkan lepas. Karena dalam Islam, bughat alias melepaskan diri dari negara khilafah atau dari kesatuan negeri-negeri Islam hukumnya: haram!
Khalifah wajib memerangi mereka yang angkat senjata sampai tidak memiliki kemampuan untuk melawan dengan senjata lagi. Bila tidak angkat senjata, hanya protes-protes keras saja gitu, ya cukup diajak dialog dicari akar masalahnya dan diberikan solusinya. Karena biasanya daerah yang ingin lepas lantaran merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah pusat.
.
.
BEGINI REFLEKSINYA
.
Mari kita refleksikan ke kasus Timor Timur. Bila pakai khilafah, Khalifah eh Presiden BJ Habibie dikatakan telah melakukan tindakan inkonstitusional ketika menyetujui dilakukannya referendum. Dan semestinya, Amirul Jihad, hmm maksudnya, Panglima ABRI Jenderal Wiranto, orang pertama yang mencegah Pak Habibie memutuskan tindakan yang akan memecah belah negeri Islam terbesar sedunia ini. Tapi, berdasarkan demokrasi, Pak Wiranto justru dianggap inkonstitusional bila menghalangi Pak Habibie melaksanakan referendum. 
.
“Nah lho? Bagaimana Mas? Sepakat dengan pendapat saya?” tanyaku. 
.
Sang intel berkumis baplang bergeming.
.
Aku pun menepuk bahunya sambil berkata, “Bagaimana…?”
.
“Maaf, posisi saya di sini bukan untuk berpendapat tetapi hanya menjalankan tugas,” jawabnya sangat diplomatis.
.
“Perlu contoh lain? Perlu contoh untuk sila yang lain?” tanyaku.
.
Ia pun menjawab “tidak perlu” kemudian berkata: 
.
“Tapi kan Mas, Pancasila itu kan KESEPAKATAN para ulama. Sebelum merumuskan, mereka berdoa dulu dan mereka tidak gila kekuasaan. Itu bukan kata saya lho, saya hanya menyampaikan alasan dari… (menyebut nama ormas tertentu),” ungkapnya. 
.
“Lho kan tadi sudah dijelaskan, semua sila Pancasila ini insya Allah akan tegak dengan khilafah!?” ujarku.
.
Tanpa menunggu dia menjawab, aku berkata lagi, sebenarnya tidak pas membenturkan Pancasila dengan khilafah. Tidak aple to aple. Pasnya itu, khilafah dengan demokrasi, karena sama-sama sistem pemerintahan. Sedangkan kalau mau memaksakan membenturkan Pancasila ya benturkan saja dengan Islam, karena sama-sama dasar negara. 
.
Benturan dasar negara tersebut pernah terjadi di era Presiden Soekarno pada tahun 1955-1959 dalam sidang Konstituante (sekarang DPR). PNI, Partai Kristen Indonesia, Partai Katolik bahkan P-K-I, Partai Komunis Indonesia! Semua berkumpul di blok Pancasila. Lawannya adalah Masyumi (Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan ormas Islam lainnya), Partai NU, dan partai Islam lain di blok Islam. Mereka adu argumen apakah “Pancasila” atau “Islam” yang akan dijadikan dasar negara untuk Indonesia ke depan.
.
“Jadi tidak paslah kalau membenturkan Pancasila dengan khilafah,” aku kembali menegaskan. 
.
Namun yang jelas, khilafah itu ajaran Islam. Diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat RA. “Apakah Rasulullah dan para sahabat yang dijamin masuk surga itu tidak berdoa sebelum menegakkan khilafah? Apakah Rasulullah SAW dan para sahabat itu haus kekuasaan?” tanyaku retoris.
.
Mas Intel hanya diam mendengarkan. Tidak mengiyakan tidak pula menolak.
.
“Bila ada dua kesepakatan yang berbeda, kesepakatan Rasulullah SAW plus para sahabatnya di satu sisi, di sisi lain kesepakatan ulama kekinian, siapa yang harus kita rujuk? Yang satu dijamin masuk surga yang satunya lagi… ah sebenarnya kan itu bukan kesepakatan para ulama Mas tetapi jalan tengah yang dipaksakan Soekarno dan kelompok sekulernya! Mas mau pilih mana?” tegasku.
.
Bahkan para ulama, sebelumnya (1924-1926) mendirikan Komite Khilafah dalam rangka memenuhi undangan ulama Mesir untuk membaiat khalifah yang baru, ketika merespon runtuhnya Khilafah Utsmani. Dalam Komite Khilafah tersebut ada Syarikat Islam, Muhammadiyah, ormas-ormas cikal bakal NU, dan lainnya.
.
Lagi-lagi dia bilang tidak berpendapat, kedatangannya hanya menjalankan tugas. 
.
.
KENAPA ENGGAK INTEL JAKARTA?
.
Kemudian Aku mempertanyakan mengapa yang datang tidak intel yang ada di Jakarta saja. Ia pun menyebutkan dua alasannya:
.
“Setelah tamat kuliah Pendidikan Agama Islam di… (dia menyebut salah satu kampus Islam di Jakarta) saya ditugaskan di Jakarta. Jadi saya tahu Jakarta. Kedua, maaf ya Mas, bukan apa-apa, di Jakarta itu, sekali lagi maaf, intel-intel di Jakarta itu pemahaman Islamnya kurang, jadi khawatir tidak nyambung kalau menangani masalah seperti ini.”  
.
Aku kembali menelan ludah, tapi ludahnya tak ada.
.
Di akhir obrolan yang berlangsung dari pukul 13-an sampai 14-an tersebut sang intel meminta berfoto bersamaku, kemudian mencatat biodataku. Dia pun terheran-heran ketika menyangkut posisiku di buletin. 
“Saya tidak sebagai siapa-siapa di buletin tersebut karena bukan pengurusnya Mas…” jawabku sambil mengulum senyum. 
.
“Lho mengapa ada di sini?” tanyanya heran. 
.
“Saya wartawan tabloid, sekarang lagi deadline, saya di sini melakukan proofreading,” jawabku.
.
“Tabloid dan buletin satu perusahaan?”  
.
“Beda!”
.
“Kok deadline di sini?”
.
“Biaya kontrak mahal Mas, apalagi di Jakarta. Kalau urunan kan lebih murah.”
.
“Ooh…”
.
Karena pengurus buletin tidak di lokasi, akhirnya aku pun menyerahkan nomor telepon redaksi buletin tersebut agar sang intel menghubunginya langsung.   
.
.
AKHIRNYA SANG INTEL BERPENDAPAT
.
Tak lama kemudian dia pun pamit. Aku langsung mengambil tiga buah tomat dan tiga buah jeruk yang tersaji di meja kerjaku (jangan menyangka yang tidak-tidak, aku tetap puasa kok, kalau deadline aku memang menginap dua hari dua malam di kantor. Buah-buahan itu biasa kumakan sambil proofreading, kecuali pas puasa tentunya).
.
“Ini Mas, untuk takjil buka puasanya…” ujarku kepadanya sambil tersenyum dan dibalas senyuman.
.
Oh iya, hampir terlewat. Sebelum menanyakan biodataku, sempat kujelaskan bahwa ibu kota khilafah itu berpindah-pindah. Pas di zaman Rasulullah SAW ibu kota Negara Islam pertama di dunia itu di Madinah bukan di Mekah karena penduduk Madinahlah yang menyambutnya sedangkan Mekah menolak dakwah Rasul. Kemudian ke Kufah, Baghdad hingga terakhir di Turki. 
.
“Yang belum itu di Indonesia Mas, kalau kita berjuang bersungguh-sungguh mendukung tegaknya khilafah, disambut baik oleh rakyat dan didukung penuh atasan-atasannya Mas… (kusebut namanya), tak menutup kemungkinan Indonesia menjadi ibu kotanya. Jadi, persatuan bukan hanya dari Merauke sampai Sabang tetapi diteruskan lagi hingga ke Maroko! Bagaimana Mas?” tanyaku.
.
Kali ini dia tidak menjawab retoris lagi seperti yang sudah-sudah. Tetapi menjawab dengan, perlahan… “Kalau Indonesia jadi ibu kotanya, saya setuju.”
.
Allahu Akbar![]   

Depok, 26 Ramadhan 1440 H | 31 Mei 2019

Senin, 15 April 2019

Film bahan diskusi

SEXY KILLERS;, babak terakhir Ekspedisi Indonesia Biru
https://www.youtube.com/watch?v=qlB7vg4I-To

MADE IN SIBERUT; kehilangan identitas pangan Kepulauan Mentawai
https://www.youtube.com/watch?v=0dO5JMMt1mk

ASIMETRIS; Borneo, sawit, dan kebakaran hutan
https://www.youtube.com/watch?v=2OhaxAalJdk

RAYUAN PULAU PALSU; reklamasi Teluk Jakarta
https://www.youtube.com/watch?v=fOdyk2QxY6U

JAKARTA UNFAIR; penggusuran kampung-kampung di ibu kota
https://www.youtube.com/watch?v=wCjbxuXv92U

MENGGENANG KENANGAN JATIGEDE; bendungan Jatigede
https://www.youtube.com/watch?v=u9Jw7zovsnY

KALA BENOA, reklamasi Benoa
https://www.youtube.com/watch?v=QZIZt5VexoM

MAHUZE; Papua, marga Mahuze, dan konflik lahan kelapa sawit
https://www.youtube.com/watch?v=MSVTZSa4oSg

SAMIN VS SEMEN; konflik lahan di Kendeng
https://www.youtube.com/watch?v=1fJuJ28WZ_Q

beberapa rekomendasi film bagus untuk di tonton dan didiskusikan👌🏻

Selasa, 12 Maret 2019

MENOLAK LUPA!!!

Astaghfirullah,

Densus 88 menculik Siyono usai mengimami shalat di Masjid di Dusun Pogung, Desa Brengkungan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada 8 Maret 2016, dengan status terduga teroris.

Saat ditangkap pria yang dikenal sebagai imam masjid itu dalam kondisi sehat. Namun, selang beberapa hari dia dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa penuh luka dan lebam.

Penculikan Siyono diikuti penggerebekan yang dilakukan aparat kepolisian di rumah Siyono, Kamis (10/03/2018). Sejumlah polisi bersenjata laras panjang menggerudug rumah Siyono, yang kala itu digunakan sebagai kelas darurat siswa siswi TK Amanah Ummah yang tempat belajarnya tengah direnovasi. Anak-anak TK menangis histeris, walimurid pun tak bisa menyembunyikan ketakutan mereka.

Komnas HAM bersama PP Muhammadiyah dan elemen sipil lainnya melakukan autopsi untuk mengungkap penyebab kematian Siyono.

Sebulan berselang, hasil autopsi dibeberkan Komnas HAM bersama Persatuan Dokter Forensik Indonesia dalam konferensi pers yang digelar Senin (11/04/2016)

Hasil autopsi jenazah Siyono mengungkap sebagaimana pengutaraan Komisioner Komnas HAM Siane Indriani, "Terdapat patah tulang iga sebanyak 5 buah ke arah dalam dan patah tulang dada ke arah jantung. Hal inilah yang menyebabkan kematian. Hasil otopsi juga menunjukkan tidak adanya bukti-bukti perlawanan oleh almarhum”

Tim forensik juga menemukan luka ketokan di kepala, tapi hal itu tidak menyebabkan perdarahan atau kematian.

Suratmi, istri almarhum, ketika mencari keberadaan suaminya ke Jakarta diberitahukan polisi bahwa Siyono wafat dan ia diberikan 2 (dua) ampop besar berisi uang puluhan juta, yang belakangan ia serahkan ke PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Suratmi menyebut di awal kepergian suaminya, anak-anaknya sempat diliputi trauma hingga muncul ketakutan ketika bertemu dengan polisi.

Tak hanya itu, stigma dilekatkan kepada keluarga Suratmi di awal-awal meninggalnya Siyono. Sebagian masyarakat dengan mudah mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang sampai saat ini tak terbukti.

#3TahunSiyono

Semoga Allah beri hidayah bagi para aparat

Senin, 04 Maret 2019

AQIDAH HARGA MATI

SEORANG imam masjid di London biasa naik bus untuk bepergian. Kadang-kadang ia membayar ongkosnya langsung pada sopir bus (bukan kondektur)

Suatu kali ia membayar ongkos bus, lalu segera duduk setelah menerima kembalian dari sopir.

Setelah dia hitung, ternyata uang kembalian dari sopir ada kelebihan 20 sen. Ada niatan sang imam untuk mengembalikan sisa kembaliannya itu karena memang bukan haknya. Namun terlintas pula dalam benaknya untuk tidak mengembalikannya, toh hanya uang receh yang tak begitu bernilai.

Umumnya orang juga tak ambil pusing dalam hal begini. Lagi pula, berapa sen pula yang didapat sang sopir karena sisa pembayaran penumpang yang tidak dikembalikan oleh kebanyakan sopir karena hanya receh, artinya sopir tidak rugi kalau ia tidak mengembalikan receh 20 sen itu.

Bus berhenti di halte pemberhentian sang imam. Tiba-tiba sang imam berhenti sejenak sebelum keluar dari bus, sembari menyerahkan uang 20 sen kepada sopir dan berkata, “Ini uang Anda, kembalian Anda ada kelebihan 20 sen yang bukan hak saya.” .

Sang sopir mengambilnya dengan tersenyum dan berkata, “Bukankah Anda imam baru di kota ini? Saya sudah lama berpikir untuk mendatangi masjid Anda demi mengenal lebih jauh tentang Islam, maka sengaja saya menguji Anda dengan kelebihan uang kembalian tersebut. Saya ingin tahu sikap Anda"

Saat sang imam turun dari bus, kedua lututnya terasa lemas dan hampir jatuh ke tanah, hingga ia berpegangan pada tiang yang dekat dengannya dan bersandar.

Pandangannya menatap ke langit dan berkata, “Ya Allah, hampir saja saya menjual Islam hanya dengan 20 sen saja.” (Kisah nyata dalam Kitab al-Brithani wa amaanatul Imam, Syaikh Ahmad Khalid al-Utaiby)
fb: Kajian Ustadz

Jumat, 01 Maret 2019

Heeiii lancang kali kau

HEI KAU, LANCANG SEKALI !

Oleh : Nasrudin Joha

_Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang._

_Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir...aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, untukmu agamamu, dan untukku agamaku."_ *[QS AL KAFIRUN]*

Kau ubah konstitusi, silahkan saja. Kau produksi UU dan merubahnya, terserah saja. Kau ubah UU ormas untuk mengkriminalisasi ajaran Islam khilafah, suka-suka kau lah. Tapi, kau berani ubah Al Qur'an ?

Berapa kau dibayar untuk mengubah istilah Al Qur'an ? Rendah sekali kau ? Sejak kapan predikat kafir disebut kekerasan teologis ? Sejak kapan ajaran Al Quran dituding intoleran ?

Hei kau, iya kau yang ngomong ngecapruk meminta tidak sebut kafir, dengan dalih apapun, mau tau apa itu kekerasan teologis ? Itu Disana, di Palestina kaum muslimin dibantai atas dasar sentimen teologis agama Yahudi. Pingin tahu lagi ? Itu, di rohingya, kaum muslimin menjadi korban kekerasan teologis dari teroris penganut Budha. Kau mau tau lagi, di India kaum muslimin dibantai ekstrimis Hindu, di Uighur kaum muslimin di bantai rezim komunis.

Kemana kau ? Mana fatwa kau ? Mana pernyataan kekerasan teologis ? Mana mana ? Banyak makan uang haram, mulut jadi moncong setan. Tidak lagi peduli halal haram, semua dihantam hanya untuk cari makan dari bangkai dunia.

Hei kau, mau tau intoleransi ? Itu, kaum muslimin dilarang berhijab, di Perancis. Disini, memakai cadar saja langsung dipecat dari dosen. Itu intoleransi menggunakan jalur kekerasan teologis. Yg tidak sepaham dituding intoleran, radikal, teroris. Puas ? Puas ? Puas ?

Hei kau, Para perusak ulama, perusak agama, perusak akidah umat, memang mau hidup didunia abadi ? Usia sudah bau tanah, wajah hitam nyaris tak ada aura iman dan nyaris tak ada cahaya wudhu, mau apa yang kau banggakan ? Umur yg kian merenta ? Pengikut yang kelak akan menuntutmu ? Jelek sekali makhluk seperti kau ini ?

Silahkan bikin fatwa sesukanya, kami akan Tetap taat pada Al Qur'an. Sebut saja, dengan sebutan sesukamu. Tapi kami, tetap akan tunduk pada Al Qur'an bahwa orang yang tidak mengimani keesaan Allah SWT, membuat sekutu-sekutu bagi Allah SWT, adalah kafir.

Ini tahun politik, kami akan kabarkan kepada umat Islam haram memilih pemimpin kafir, apapun alasannya. Kita lihat saja, apa yang akan terjadi, kami pasti akan konsisten taat kepada hukum Al Qur'an. [].
🏴🏳

Selasa, 26 Februari 2019

Aturan Baku Khilafah

SAYA TIDAK MENGERTI MAKSUD KALIMAT ATURAN BAKU KHILAFAH

Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Sudah setahun belakangan ini istilah “Khilafah tidak mempunyai aturan baku” menjadi buah bibir di kalangan para penentang Khilafah. Di Indonesia, kalimat tersebut dipopulerkan oleh Mahfudz MD, yang serupa dengan pola pikir Ali Abd. Raziq (Mesir). Sayang, sepertinya Mahfudz MD tidak mengetahui bagaimana gelar guru besar Ali dicopot oleh pihak Universitas Al-Azhar gara-gara pemikirannya itu yang menentang Khilafah.

Argumentasi seperti itu muncul pasca rontoknya beberapa argumentasi sebelumnya. Dimulai dari alasan Khilafah bukan ajaran Islam, Khilafah tidak ada dalilnya, Khilafah tidak pernah ada relevansinya dengan Indonesia, Khilafah mengajarkan pertumpahan darah, dan lain sebagainya..

Alasan-alasan semacam itu akhirnya terjawab sudah oleh berbagai argumentasi dan dalil, yang justru semakin mengokohkan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam yang keterangannya banyak dijelaskan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya. Pertumpahan darah dan peperangan hanyalah alat monsterisasi terhadap ajaran Islam itu.

Kini muncul pertanyaan baru, “adakah aturan baku Khilafah?”

Setahun yang lalu saya sudah jawab pertanyaan ini dengan sejelas-jelasnya dalam sebuah tulisan. Bahkan bukan hanya saya, banyak juga teman-teman lainnya yang menjawab pertanyaan ini. Tetapi, sepertinya sang penanya masih belum menerima bahwa itu adalah aturan baku Khilafah.

Saya mengernyitkan dahi dengan pertanyaannya itu. Ia berputar pada soal Khilafah yang tidak ada bentuk bakunya. Di antara argumentasi yang digunakannya adalah; sebagian ulama ada yang mensyaratkan Khalifah harus seorang mujtahid mutlak dan dari trah quraiys, sementara sebagian ulama lagi tidak mensyaratkan hal tersebut.

Itu artinya perkara Khilafah adalah perkara debatable, sehingga tidak benar jika Khilafah dianggap sebagai sebuah kewajiban yang harus diperjuangkan. Dari situ saja sudah terlihat bahwa Khilafah tidak mempunyai bentuk baku dalam pelaksanaannya.

Seperti itulah nalar yang digunakannya untuk menentang ide penegakkan Khilafah. Sebuah nalar yang sebetulnya akan menjadi bumerang bagi yang mengungkapkannya. Merasa sudah di atas angin, padahal ia tidak sadar bahwa akan segera jatuh terjungkal.

Logika semacam itu harus berani diuji konsistensinya. Apakah itu digunakan khusus untuk ajaran Khilafah, atau juga untuk yang lainnya. Ajaran sholat, misalnya, semua ulama, khususnya imam empat madzhab, tidak semuanya sama mengenai tata caranya.

Dari mulai takbirotul ihram sudah berbeda-beda tata caranya. Ada yang meletakkan tangan di batas telinga, ada yang di pundak, ada yang di depan dada, bahkan ada yang tidak mengangkat kedua telapak tangan sama sekali. Bacaan Al-Fatihah, ada yang mengharuskan “basmallah” ada juga yang tidak, bahkan ada juga yang tidak mewajibkan membaca Al-Fatihah. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bila kita cermati, orang-orang yang menentang ide penegakkan Khilafah dengan alasan perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait mujtahid mutlaq atau bukan, qurays atau bukan, maupun yang lainnya, yang menurutnya itu menunjukan bahwa tidak ada aturan baku dalam sistem Khilafah, mereka harus berani menjawab soal berikut ini!

Adakah aturan baku dalam sholat? mengingat terkait tata cara sholat pun para ulama berbeda-beda pendapatnya, sementara jika mengikuti nalar sebagaimana yang diterangkan di atas, sholat pun tidak ada aturan bakunya.

Apabila tulisan ini masih dianggap belum memuaskan akal para pengasong “Khilafah tidak ada aturan bakunya,” sungguh saya masih belum mengerti apa yang dimaksud dengan aturan baku oleh mereka. Tolong berikan contoh kepada kami, terkait aturan-aturan baku dalam ajaran Islam yang lainnya, supaya kami paham dengan pertanyaannya. Jika tidak, berarti anda sendiri yang bingung dengan partanyaan anda.

#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 27 Februari 2019