Blogger Widgets

Selasa, 26 Februari 2019

Aturan Baku Khilafah

SAYA TIDAK MENGERTI MAKSUD KALIMAT ATURAN BAKU KHILAFAH

Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Sudah setahun belakangan ini istilah “Khilafah tidak mempunyai aturan baku” menjadi buah bibir di kalangan para penentang Khilafah. Di Indonesia, kalimat tersebut dipopulerkan oleh Mahfudz MD, yang serupa dengan pola pikir Ali Abd. Raziq (Mesir). Sayang, sepertinya Mahfudz MD tidak mengetahui bagaimana gelar guru besar Ali dicopot oleh pihak Universitas Al-Azhar gara-gara pemikirannya itu yang menentang Khilafah.

Argumentasi seperti itu muncul pasca rontoknya beberapa argumentasi sebelumnya. Dimulai dari alasan Khilafah bukan ajaran Islam, Khilafah tidak ada dalilnya, Khilafah tidak pernah ada relevansinya dengan Indonesia, Khilafah mengajarkan pertumpahan darah, dan lain sebagainya..

Alasan-alasan semacam itu akhirnya terjawab sudah oleh berbagai argumentasi dan dalil, yang justru semakin mengokohkan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam yang keterangannya banyak dijelaskan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya. Pertumpahan darah dan peperangan hanyalah alat monsterisasi terhadap ajaran Islam itu.

Kini muncul pertanyaan baru, “adakah aturan baku Khilafah?”

Setahun yang lalu saya sudah jawab pertanyaan ini dengan sejelas-jelasnya dalam sebuah tulisan. Bahkan bukan hanya saya, banyak juga teman-teman lainnya yang menjawab pertanyaan ini. Tetapi, sepertinya sang penanya masih belum menerima bahwa itu adalah aturan baku Khilafah.

Saya mengernyitkan dahi dengan pertanyaannya itu. Ia berputar pada soal Khilafah yang tidak ada bentuk bakunya. Di antara argumentasi yang digunakannya adalah; sebagian ulama ada yang mensyaratkan Khalifah harus seorang mujtahid mutlak dan dari trah quraiys, sementara sebagian ulama lagi tidak mensyaratkan hal tersebut.

Itu artinya perkara Khilafah adalah perkara debatable, sehingga tidak benar jika Khilafah dianggap sebagai sebuah kewajiban yang harus diperjuangkan. Dari situ saja sudah terlihat bahwa Khilafah tidak mempunyai bentuk baku dalam pelaksanaannya.

Seperti itulah nalar yang digunakannya untuk menentang ide penegakkan Khilafah. Sebuah nalar yang sebetulnya akan menjadi bumerang bagi yang mengungkapkannya. Merasa sudah di atas angin, padahal ia tidak sadar bahwa akan segera jatuh terjungkal.

Logika semacam itu harus berani diuji konsistensinya. Apakah itu digunakan khusus untuk ajaran Khilafah, atau juga untuk yang lainnya. Ajaran sholat, misalnya, semua ulama, khususnya imam empat madzhab, tidak semuanya sama mengenai tata caranya.

Dari mulai takbirotul ihram sudah berbeda-beda tata caranya. Ada yang meletakkan tangan di batas telinga, ada yang di pundak, ada yang di depan dada, bahkan ada yang tidak mengangkat kedua telapak tangan sama sekali. Bacaan Al-Fatihah, ada yang mengharuskan “basmallah” ada juga yang tidak, bahkan ada juga yang tidak mewajibkan membaca Al-Fatihah. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bila kita cermati, orang-orang yang menentang ide penegakkan Khilafah dengan alasan perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait mujtahid mutlaq atau bukan, qurays atau bukan, maupun yang lainnya, yang menurutnya itu menunjukan bahwa tidak ada aturan baku dalam sistem Khilafah, mereka harus berani menjawab soal berikut ini!

Adakah aturan baku dalam sholat? mengingat terkait tata cara sholat pun para ulama berbeda-beda pendapatnya, sementara jika mengikuti nalar sebagaimana yang diterangkan di atas, sholat pun tidak ada aturan bakunya.

Apabila tulisan ini masih dianggap belum memuaskan akal para pengasong “Khilafah tidak ada aturan bakunya,” sungguh saya masih belum mengerti apa yang dimaksud dengan aturan baku oleh mereka. Tolong berikan contoh kepada kami, terkait aturan-aturan baku dalam ajaran Islam yang lainnya, supaya kami paham dengan pertanyaannya. Jika tidak, berarti anda sendiri yang bingung dengan partanyaan anda.

#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 27 Februari 2019

Pulanglah ke Rumah qt (KHILAFAH)

WAHAI KAUM MUSLIMIN, PULANGLAH KE RUMAH KITA
[Seruan Cinta untuk  Persatuan Umat]

Oleh : Dr. Ahmad Sastra

Di atas semua kelemahan saya sebagai muslim. Di tengah kondisi muslim yang kian mengenaskan nasibnya. Inilah seruan cinta untuk kaum muslimin di Indonesia dan dunia. Duhai kaum muslim tercinta, segera sadarlah dan kembalilah ke rumah kita. Rumah persatuan Islam kita.

Bukankah Tuhan kita sama : Allah swt. Bukankah Nabi kita sama : Muhammad saw. Bukankah kitab kita sama : Al Quran. Bukankah kiblat kita sama : Baitullah Kabah. Bukankah rukun iman kita sama-sama enam. Bukankah rukun Islam kita sama-sama lima. Lantas apa yang membuat kita enggan bersatu. Duhai kaum muslim tercinta, sadarlah, kembalilah ke rumah kita. 

Tunggu apa lagi, bukankah Allah Tuhan kita sangat membenci keterpecahan ini. Bukankah Allah sangat menganjurkan kita untuk bersatu padu dalam iman dan perjuangan. Bukankah musuh kita sudah jelas, berbagai kezaliman, pengkhianatan, penjajahan, kekufuran, kemunafikan dan penindasan akibat ideologi sekulerisme dan komunisme. Pulanglah ke rumah kita.

Tidakkah mata kita melihat segala penderitaan yang menimpa kaum muslimin di seluruh dunia oleh kezaliman rezim anti Islam. Tidakkah mata kita melihat kemiskinan dan kesengsaraan kaum muslimin akibat penjajahan negeri-negeri muslim. Tunggu apa lagi, bersatulah, pulanglah ke rumah kita.

Apakah mata kita tidak melihat, musuh-musuh Islam dengan terang benderang menebar kebusukan mereka. Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan menebarkan kezaliman, kebengisan, kejahatan, dan watak amoral lainnya. Lihatlah, maka pulanglah ke rumah kita.

Bukankah kita juga sadar bahwa kemuliaan diri kita bukan karena harta dan tahta duniawi, namun karena ketaqwaan kita. Tanggalkan segala perbudakan duniawi, jika akan menjadikan umat Islam terpecah belah. Ingat, Allah akan  menolong kita, selama kita menolong agamaNya. Waktu semakin pendek, pulanglah ke rumah kita.

Kehidupan hedonisme dan politik pragmatisme hanya akan mencerai beraikan persatuan kita. Cinta dunia dan takut mati hanya akan menyumbat ghirah perjuangan kita. Padahal kesejahteraan dan kebahagiaan akan dianugerahkan kepada kita, saat kita berjalan di atas jalan dakwah dan perjuangan agamaNya. Jangan pikir panjang, pulanglah ke rumah kita.

Pengembaraan diri untuk meraup libido duniawi, dengan meninggalkan Allah telah menjebak kita pada jurang kesengsaraan. Padahal dunia adalah sarana untuk ibadah dan lahan untuk berbuat baik. Bukankah akherat yang abadi telah menanti kita, menjamin kebahagiaan hakiki. Hilangkan hambatan diri, pulanglah ke rumah kita.

Kurang apa lagi, bukankah kehidupan Rasulullah telah tergambar jelas di mata hati kita. Kehidupan mulia dengan visi misi pengabdian total kepada Allah semata. Mengorbankan harta, tenaga, pikiran dan nyawa untuk perjuangan agama mengantarkan Rasulullah sebagai penghuni surga nan abadi. Tak ada alasan lagi, pulanglah ke rumah kita.

Apakah hati ini tega melihat berbagai kezoliman atas kaum muslimin di penjuru dunia di satu sisi. Namun di sisi lain, kaum muslimin cakar-cakaran berebut secuil harta dan tahta dunia. Adakah jawaban yang bisa kita berikan di hadapan Allah kelak di akherat. Demi cinta sesama muslim, pulanglah ke rumah kita.

Apakah kita tidak malu, saat nyawa, hati, otak, nafas, mata, telinga, mulut, dan seluruh anggota badan yang diberikan Allah kepada kita, lantas kita enggan tunduk kepada Allah. Bagaimana pula saat kaki dan tangan kita menjadi saksi atas pengkhianatan kita. Renungkan, pulanglah ke rumah kita.

Apakah di padang makhsyar kita tidak malu kepada Rasulullah saat dikumpulkan ternyata bendera kita berbeda-beda. Bukankah syahadat kita menghajatkan patuh tunduk dibawah panji Rasulullah, bukan panji yang lain. Dalam doa kamilin,  sering kita mengucap 'tahta liwai sayyidina Muhammad'. Kapan lagi kalau bukan sekarang, siapa lagi kalau bukan kita. Duhai kaum muslimin, pulanglah ke rumah kita.

Allah dan RasulNya telah menyeru dengan terang, bahwa seorang muslim adalah bersaudara dengan muslim lainnya tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kelompok dan geografis. Persaudaraan atas nama iman adalah kemuliaan di sisi Allah.  Apa yang dirasakan oleh saudara seiman, mesti juga dirasakan oleh saudaranya seiman lainnya. Karena itu, pulanglah ke rumah kita. 

Apakah kita tidak takut saat menjual agama ini demi secuil harta duniawi. Apakah kita tidak takut saat menfitnah sesama muslim hanya untuk mendapat harta dan tahta. Apakah kita tidak takut saat mengkhianati perjuangan Islam demi isi perut. Takutlah kepada murka Allah, pulanglah ke rumah kita.

Inilah seruan cinta untuk kembali ke rumah persatuan seluruh kaum muslimin di Indonesia dan seluruh penjuru dunia. Duhai Allah, sungguh telah kami sampaikan seruan cinta ini. Saksikan dan bukalah hati-hati seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia ini.

Jika kaum muslimin telah kembali pulang ke rumahnya sendiri. Kita bersatu padu bergerak dan berjuang demi Allah dan Rasulullah. Bersama menghadapi kepongahan musuh-musuh Allah. Berdiri tegak membela agama dari kejahatan kaum pembangkang agama. Maka, cukup hitungan menit, musuh-musuh Allah akan mudah dijungkalkan.

Duhai kaum muslimin, pulanglah ke rumah persatuan kita, di bawah panji tauhid kita, panji Rasulullah. Jawablah seruan cinta ini, jawablah !!!

(AhmadSastra,KotaHujan,24/02/19)

#TaubatNasuha
#UmatRinduKhilafah
#TegakkanKhilafahIslam
#IslamRahmatanLilAlamin
#HidupMuliaDalamKhilafah
#UlamaBersamaHTI #UmatBersamaHTI
#KhilafahAjaranAhlusSunnahWalJamaah
#HaramPilihYangAntiIslamZalimAntekAsingAseng

Jasad yg dikerjmuni lebah

Kenapa Jasad Sahabat 'Ashim Dikerumuni Lebah?

Oleh : Ustadz Faishal

#ShalihaSurabaya - Adalah 'Ashim bin Tsabit Al Anshori (' Ashim bin Tsabit bin Aqlah ra.) salah satu sahabat Rasul SAW.. yang tidak absen dalam peristiwa Badar dan Uhud. Rasul saw. pernah memujinya, menyeru para sahabat untuk cara berperang ' Ashim.

Rasul saw. berkata, “Bagaimana caramu berperang Wahai 'Ashim?” 'Ashim memeragakan busur anak panah yang ada di tangannya." Jika musuh di hadapanku 100 hasta kupanah dia, jika musuh mendekat dalam jarak tikaman lembing, aku bertanding hingga lembingku sampai patah, jika lembingku patah, kuhunus pedangku lalu aku pakai pedang" ia ahli dalam panah dan bermain pedang.

Kisah ini bermula di peristiwa uhud (3 H), Ia berhasil membunuh tiga laki-laki sekaligus (Musafi', Kilab, Jallas). Ketiganya adalah putra salah seorang pemuka Quraisy, Thalhah dan Sulafah binti Sa'ad bin Suhaid, keluarga tersebut dalam bagian pasukan Quraisy di perang Uhud. Ketika pertempuran mulai mereda/hampir selesai. Kaum Quraisy (kalangan wanitanya) berlompatan kegirangan berhasil menuntut balas terhadap peristiwa satu tahun sebelumnya (Badar) dimana banyak tokoh-tokoh mereka yang terbunuh. Dalam peristiwa Uhud tak sedikit kaum muslimin yang gugur, mereka (Quraisy) menendang, mencincang, merusak mayat-mayat kaum muslimin. Ada yang dibelah perutnya, dipotong hidung dan telinganya dijadikan kalung.

Sulafah binti Sa'ad hatinya gundah, gelisah dan tak menentu, menunggu kemunculan suami dan ketiga anaknya. Lama menunggu tak kunjung datang, ia putuskan masuk ke arena pertempuran, ia masuk hingga jauh ke dalam. Diperiksalah satu persatu wajah-wajah yang sudah tak bernyawa. Tiba-tiba ia tertegun didapati suaminya sudah terbaring tak bernyawa dengan berlumuran darah, pandangannya kosong dan hampa, ia melompat bagai singa betina yang wajahnya memerah penuh amarah. Dia arahkan pandangannya ke segenap penjuru arah mata angin, dia dapati tidak jauh dari suaminya dua anaknya Musafi' dan Kilab sudah tak bernyawa. Jallas anaknya ketiga sudah dalam keadaan bersimbah darah antara hidup dan mati. Ia dekati, ia peluk tubuh anaknya dia angkat dipangkuannya, ia bersihkan darah dikening dan wajahnya.

Sullafah berkata, “Siapa yang telah berbuat seperti ini wahai anakku?”

Dengan nafas yang terputus putus, Jallas menjawab, “'Ashim bin Tsabit al Anshori, dia pula yang juga membunuh Musafi' dan...” Belum selesai dia bicara ajal telah menjemputnya.

Sullafah binti Sa'ad bagai orang gila, menangis meraung-raung sekeras-kerasnya, ia bersumpah, "Aku tidak akan makan dan menghapus air mata ini sebelum membalas dendam kepada 'Ashim bin Tsabit dengan menjadikan batok kepalanya sebagai mangkok tempat minum khomr". Untuk mewujudkan dendamnya ia membuat sayembara menjanjiakan 100 ekor unta kepada siapapun yang berhasil membawakan batok kepala 'Ashim bin Tsabit kepadanya.

Sofyan bin Kholid lelaki Quraisy tergiur iming-iming tersebut, ia atur strategi dan rencana, ditemuilah beberapa orang dari suku Adhul dan Qarah, agar pura-pura masuk islam pergi ke Madinah untuk menemui Rasul saw.

Benar ditahun 4 H beberapa orang dari suku Adhul dan Qarah datang ke Madinah menemui Rasul saw., meminta kepada beliau agar mengirim beberapa sahabat untuk mengajarkan Islam kekampung mereka, salah seorang yang diminta adalah Ashim bin Tsabit. Rasul saw. tak menaruh curiga, beliau mengabulkan permintaan mereka, dikirimlah 10 orang sahabat (Ibnu Ishaq). Diriwayat lain 6 sahabat yang diketuai 'Ashim hin Tsabit.

Utusan Rasul saw. tersebut berangakat ke perkampungan Adhul dan Qarah bersama orang-orang Adhul dan Qarah tersebut. Sesuai rencana yabg telah disiapkan Sufyan bin kholid, ketika utusan Rasul saw. tersebut sampai di Raji' (daerah sumber mata air milik suku Hudzail) tiba-tiba beberapa orang utusan dari Adhul dan Qarah tersebut melakukan pengkhianatan dengan memprovokasi kabilah Hudzail yakni bani Lihyan. Terkumpullah 100 orang dengan mengepung 6 atau 10 utusan Rasul saw. tersebut.

Mereka berkata, “Kami tidak ingin menumpahkan darah di tanah kami, kami hanya ingin membawa kalian untuk ditukar dengan harta, maka ikutilah kami, kami tidak akan membunuhmu"

'Ashim menjawab, “Sungguh orang-orang ini telah mengkhianati kita" (pengkhianatan mereka akan dibalas oleh Rasul saw., ditema lain Insya Alloh).

'Ashim berseru, “Janganlah kalian lemah, ghonimah berupa sahid telah menanti kita, para bidadari pun telah menunggu menyambut kita." Karena jumlah yang tidak seimbang, 'Ashim bin Tsabit menemui apa yang telah dijanjikan Rabbnya, syahid.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dan iapun telah mendengar perihal sayembara tersebut, 'Ashim berdoa, "Yaa Allah, sampaikan berita ini kepada Rasul-Mu, Yaa Allah aku telah mengorbankan diriku di jalan agama-Mu yang benar, selamatkan diriku (kepalaku) dari tangan tangan kotor Musuh-Mu."

Allah SWT mengabulkan doanya dengan mengirimkan sekelompok lebah yang mengerumuni tubuh 'Ashim sehingga mereka tidak bisa memenggal kepalanya. Ketika mereka mendekat ke jasad Ashim, sekelompok lebah tersebut menyerangnya, hingga mereka berharap akan bisa memenggal kepala 'Ashim di malam hari atau esuk hari, tapi dimalamnya ternyata Allah SWT menurunkan hujan yang sangat lebat yang menimbulkan banjir, sehingga jasad Ashim terbawa arus banjir tersebut, hingga mereka tidak dapat menemukan jasad Ashim.

Allahu Akbar!! Maha suci Allah inilah cara-Nya menjaga hamba hamba-Nya yang bertaqwa, yang memperjuangkan agama-Nya, menjaga kesuciannya dari tangan-tangan keji musuh-musuh Allah. Namun Rasul saw. amat sedih atas peristiwa Raji' ini.

Tatkala Umar bin Khattab ra. mendengar kejadian ini, beliau berkata:

"Allah Menjaga hamba-Nya yang mukmin setelah meninggalnya sebagaimana Dia menjagaNya sewaktu masih hidup".(Mubarokfuri)

Setiap zaman selalu ada hamba-hamba Allah yang ikhlas, menetapi jalan hidupnya dijalan Allah, siang-malam tak kenal lelah memperjuangkan syariah-Nya tiada takut dan gentar dan tak akan mundur setapak pun, terhadap cacian orang-orang yang mencaci. Hidupnya ia belanjakan untuk meraih janji Allah. Allohu akbar.

Namun ada juga orang-orang yang mencaci mencibir, menghalangi risalah ini, melakukan pengkhianatan bersama orang-orang lalim. Jangan mengira, jangan mengira upaya mereka akan menemui hasil, mereka akan berhadapan dengan pemilik kehidupan ini.

Akhirnya, di barisan mana kita berada?

————————————————————
Shaliha Surabaya, Terdepan Mencerdaskan Umat. Media bagi Muslimah Shalihah di Surabaya.

Silahkan ikuti kami di :
Facebook: facebook.com/ShalihaSurabaya
Twitter: twitter.com/ShalihaSurabaya
IG: instagram.com/shalihasurabaya
Telegram: https://t.me/ShalihaSurabaya

Minggu, 24 Februari 2019

Sekularisme Berbulu Domba

© Doni Riw
.
"Negara ini bukan negara sekuler, tetapi juga bukan negara agama". Demikian dongeng nina bobok yang didengungkan setiap saat pada warga yang sebagian besar muslim.
.
Di dalam benak muslimin sudah tertanam kuat, bahwa sekulerisme itu buruk. Tapi sayang, hal itu tidak dibarengi pengetahuan kuat tentang hal ihwal sekulerisme. Sehingga mudah saja mereka ditidurkan dengan dongeng "sekulerisme berbulu domba" ini.

Tak ada titik tengah antara negara sekuler dengan negara agama. Sekulerisme adalah menolak penggunaan hukum agama untuk mengatur negara.

Ingat, mengatur negara! Bukan mengatur individu-individu!

Jika di negeri ini ada hukum nikah atau hukum wakaf yang berlandaskan Islam, hal itu tidak serta merta menjadikan negara ini bukan negara sekuler. Karena nikah dan wakaf itu persoalan pribadi, bukan negara.

Lantas apa yang disebut hukum pengatur negara? Salah satu contohnya adalah hukum ekonomi makro.

Ketika islam mengharamkan riba, kemudian suatu negara melegalkan riba, artinya negara itu sekuler.

Ketika islam mengharamkan penguasaan sumber daya alam oleh kapitalist, kemudian suatu negara memberikan konsesi sumber daya alam pada swasta, artinya negara itu sekuler.

Begitupun dalam hal tata negara, hubungan luar negeri, kurikulum pendidikan, dan lain sebagainya.

Inilah negara sekuler hipokrit. Negara sekuler yang tidak mengakui dirinya sekuler.
.
Sembunyi di balik kebolehan sholat, nikah, dan zakat, demi meraih dukungan politik dari sebagian besar warga negara yang beragama Islam.
.
Tugas kita adalah; membangunkan mereka dari nina bobok "sekulerisme berbulu domba" itu.
.
TShirt by IMOS
@tauhid.imos @katalog.imos
.
Grab it Fast, klik link:
bit.ly/AntiSekuler1
.
Wa +6281393340503
.
Jogja 24219
@doniriw
t.me/doniriw_channel
.
#sekulerisme #dakwah #islam #imos #sekulerbuludomba #doniriw

Melejitkan Kecerdasan Berbasis Spiritual

Oleh : Prof. Fahmi Amhar
---

Beyond the Scientific Way
Apakah yang bisa membuat Anda atau anak-anak Anda doyan belajar?  Kita melihat, banyak orang malas belajar, apalagi bila itu menyangkut pelajaran yang dinilai sulit, seperti matematika atau bahasa Inggris.  Padahal, sebenarnya semua anak pernah mengalami masa-masa belajar yang menyenangkan.  Hampir setiap anak suka belajar naik sepeda, berenang, atau menggunakan HP,  meski tidak ada sekolah yang memberinya nilai.

Setidaknya ada empat motivasi yang mendorong anak-anak sehingga suka belajar.

PERTAMA, adalah pengalaman sehari-hari.  Bila sesuatu yang dipelajari dapat langsung digunakan dalam kehidupan sehari-hari, maka itu akan membuat mereka bersemangat mempelajarinya.   Itulah mengapa semua anak semangat belajar naik sepeda atau menggunakan HP tanpa perlu ada yang menyuruh atau menilainya.

KEDUA, adalah menyadari tantangan.  Bila anak menyadari apa saja yang pasti akan dihadapinya di masa mendatang atau di tempat baru yang pasti dapat dikunjunginya, maka mereka akan bersemangat untuk mempelajari ilmu yang diperlukan untuk menghadapi tantangan itu.  Maka anak yang tahu akan diajak wisata ke luar negeri atau bertemu orang asing akan lebih semangat belajar bahasa Inggris, dibanding yang tidak punya harapan untuk itu.

KETIGA, adalah mendapatkan teladan.  Bila anak bertemu atau mendapatkan contoh sosok teladan yang menekuni suatu bidang ilmu, maka dia bisa terinspirasi untuk jadi menyukai bidang ilmu tersebut.  Seorang anak yang telah menonton film kisah Thomas Alva Edison bisa terinspirasi untuk tekun belajar fisika dan hobby utak-atik elektronika agar mengikuti jejak sang penemu lampu listrik itu seperti halnya anak yang rajin berlatih bola karena terinspirasi idola bola Zinedine Zidan.

Motivasi pertama dapat disebut “experiential”, motivasi kedua “adventurial”, dan motivasi ketiga “historical”.

Motivasi yang keempat adalah yang terunik, karena dapat mendorong orang mempelajari sesuatu yang di luar pengalaman sehari-hari, melebihi tantangan yang ada, dan nyaris tidak ada contohnya dalam sejarah.  Motivasi ini muncul dari kekuatan di luar dunia – yakni Allah swt, dan karena itu disebut juga “transendental”

Kaum muslimin terdahulu memberikan contoh, bagaimana mereka termotivasi belajar, mengembangkan kreativitas ilmiah dan menerapkan teknologi secara arif, oleh dorongan ayat-ayat Qur’an dan sabda Nabi saw.  Maka mereka meraih banyak hal, jauh di atas yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, melebihi yang dibutuhkan untuk menaklukkan musuh-musuhnya seperti Romawi atau Persia, dan menorehkan peradaban jauh di atas para teladannya yakni bangsa Yunani atau bangsa Cina.

Ayat yang pertama kali turun bukanlah ayat tentang ibadah mahdhoh seperti sholat, bukan pula ayat tentang keutamaan jihad, melainkan ayat tentang belajar.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaraan tulis-baca, Dia mengajarkan manusia apa yang tak diketahuinya. (QS al-Alaq 1-5)

Ditambah sejumlah hadits, di mana Rasulullah sangat mengapresiasi pencari ilmu. "Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke sorga”  (HR Muslim)

“Para malaikat selalu membentangkan sayapnya menaungi para penuntut ilmu karena senang dengan perbuatan itu, dan orang alim dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air".

"Kelebihan orang alim atas ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya rembulan atas cahaya bintang”  (HR Abu Daud)

Selain memberi motivasi secara umum, ada sekitar 800 ayat Qur’an yang secara spesifik mendorong kaum muslim agar mempelajari suatu hal. Ayat  “Dan [mengapa kalian tidak memperhatikan] langit, bagaimana ia ditinggikan?” (QS al-Ghasiyah:18) dijadikan pendorong belajar astronomi. 

Pada abad 9 M, di Baghdad, orang biasa menggunakan kitab Almagest karya astronom Yunani Ptolomeus dalam kajian “tafsir” atas ayat tersebut. Sedang ayat “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi penjuru langit dan bumi,
maka lintasilah, kamu tak dapat menembusnya, kecuali dengan kekuatan.” (Qs. 55 Ar-Rahman :33) telah mendorong Abbas Ibnu Firnas dari Cordoba (abad 9 M) untuk menciptakan gantole dan parasut, yang dengan itu dia telah menjadi manusia pertama yang terbang dengan peralatan teknologi.

Sedang Hasan al Rammah (abad 13 M) mengembangkan hampir 70 resep bahan peledak hingga torpedo mungkin karena termotivasi ayat “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan selain mereka yang kamu tak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya …”  (Qs. 8-Al-Anfaal :60).

Dalam kaitan teknologi, Rasulullah memandang manusia lebih tahu urusannya, sehingga beliau mendorong agar ada yang belajar ke Cina, yang tentu saat itu kaitannya dengan teknologi.  Sungguh, sebagian sahabat benar-benar pergi sampai ke Cina, antara lain untuk belajar teknologi membuat kertas, sehingga di masa Utsman bin Affan, Qur’an sudah dapat ditulis di atas mushaf (kertas).

Karena Nabi juga pernah mengatakan “Jika mati manusia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal, shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan dirinya”  (HR Muslim), maka pada masa keemasan Islam, banyak orang kaya ataupun penguasa yang ingin menorehkan namanya dalam keharuman ilmu. Mereka melakukan wakaf berupa pembangunan lab riset atau observatorium, lengkap dengan kebun yang luas untuk menghidupi para ilmuwannya agar melakukan riset.  Hasilnya antara lain adalah suatu tabel almanak astronomi yang paling mutakhir dan akurat di zamannya.  Tabel itulah yang akan dibawa-bawa oleh para pelaut dan mujahidin menembus batas cakrawala dunia Islam, menemukan tempat-tempat baru yang perlu disampaikan risalah Islam atas mereka, juga untuk selangkah lebih maju dari para pelaut penjajah yang selalu mengintai kelemahan dan kelengahan kaum muslim.  Shadaqah jariyah yang sekaligus memiliki output ilmu yang manfaat.

Karena iklim cerdas di masyarakat seperti itu, tak heran bila para penguasa juga dikelilingi penasehat yang terdiri dari para ulama dan ilmuwan, sehingga kebijakan-kebijakannya tak melenceng dari dalil Qur’an dan Sunnah, dan juga tidak pernah mengabaikan sunnatullah yang ditemukan secara empirik dan ilmiah. 

Meski penguasa dapat silih berganti, tetapi politik teknologi nyaris tidak berubah.  Negara tetap pro pencerdasan rakyat, memberi akses pendidikan yang maksimal kepada rakyat, dan menghargai karya para ulama dan ilmuwan sebagaimana mestinya.

Inilah kecerdasan berbasis spiritual.  Berawal dari sebuah dorongan transendental (Qur’an dan Sunnah), diproses dengan sebuah metodologi yang dibentengi syariah oleh orang-orang yang sejak kecil dididik dalam pendidikan Islam, dan akhirnya menerapkan teknologi yang ditemukannya untuk memberi rahmat seluruh alam[]

Batas Berfikir Positif

Ustadz Felix Siauw :

Islam itu agama yang mengajarkan kebaikan, dalam semua sisi. Tapi bukan berarti, menjadi Muslim, berarti kita tidak boleh waspada, bukan berarti kita tidak hati-hati

Berlaku positif itu penting. Melihat kebaikan orang, mengakui kelebihannya, tidak menghina dan mencela manusia, berprasangka baik, itu semua salah satu perilaku positif dan Islami

Hanya saja, bukan berarti kita tidak hati-hati dan waspada dengan alasan "Saya sedang mencoba positif", itu pun bukan sesuatu yang diajarkan di dalam Islam

Misalnya, kita sudah tahu bahwasanya ada pencuri yang ingin masuk ke rumah. Maka tidakan kita bukan "Saya mencoba positif, saya menghargai keberanian mereka", ini salah

Sama juga dengan ketika kita ketahui track record seseorang adalah pembohong, dan kita tahu dia ingin bermuamalah dengan sahabat kita, maka kita wajib mengingatkannya

Tidak boleh kita membiarkan teman kita bermuamalah dengan orang itu kecuali kita menasihati teman kita tentang apa yang kita tahu, dan ini ghibah yang dibolehkan, waspada

Islam itu keren, tapi juga bukan berarti polos. Yang jelas, ketika kita mendukung keburukan, dan kelompok-kelompok penganjur dosa, dengan alasan "berlaku positif", justru bentuk perilaku negatif

Tempatkanlah sesuatu sesuai porsinya, jangan pakai dalil "khusnudzann" pada kemaksiatan, alasan "berperilaku positif" jangan dipakai menjustifikasi kesalahan

#positif #batas #kebablasan

Ganti Rezim atau Ganti Sistem

Oleh : Nasrudin Joha

Sebelum Anda membaca lebih lanjut tulisan ini, coba perhatikan konklusi fakta yang tidak mungkin terbantahkan, sebagai berikut :

Pertama, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap problem utang luar negeri dan pertambahan utang yang otomatis bertambah akibat riba yang diterapkan.

Kedua, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap konsesi pertambangan yang telah dikuasai asing dan aseng, bahkan korporat keluarga domestik yang telah berbagi jatah tambang di negeri ini.

Untuk urusan ini, logika sederhananya
jangankan mengusir Freeport, meminta konsesi lebih atas pajak yang menjadi hak negara saja tidak akan pernah bisa.

Ketiga, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap penguasaan lahan yang mayoritas dikuasai korporat baik domestik, asing maupun aseng, yang pada umumnya dikelola melalui perseroan saham.

Jangankan menarik tanah tersebut menjadi hak negara dan didistribusikan kepada rakyat, meminta konsesi lebih atas pajak yang menjadi hak negara saja tidak akan mampu.

Keempat, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap problem ekonomi yang diakibatkan sistem ekonomi kapitalis, dimana harta ditengah-tengah umat akan ditarik dan terkonsentrasi kepemilikannya pada segelintir kaum kapitalis, baik domestik, asing dan aseng.

Kelima dan ini yang paling utama, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan mampu menerapkan syariat Islam secara kaffah, mengemban misi dakwah Islam keseluruh penjuru alam, membebaskan Palestina, khasmir, Rohingya, Suriah, dan negeri Islam lainnya yang tertindas.

Sampai disini, sebenarnya seluruh umat wajib berfikir sebelum bertindak, wajib merujuk dalil syara' sebelum berbuat, jangan bergerak hanya atas dasar sentimen perasaan dan kecenderungan semata.

Bahwa rezim hari ini menampakan kedzaliman yang sangat nyata, iya. Tetapi, mengganti rezim saja apakah itu akan menyelesaikan persoalan kedzaliman yang ada ? Padahal, Allah SWT berfirman "BARANG SIAPA MENERAPKAN HUKUM SELAIN HUKUM ALLLAH MAKA MEREKA ITU TERMASUK KAUM  YANG DZALIM".

Dari firman Allah SWT tersebut, mengganti satu Presiden dengan Presiden yang lain tidak akan menghilangkan unsur kedzaliman. Sebab, akar masalahnya adalah ada pada sistem demokrasi Republik, yang meletakan kedaulatan hukum ditangan rakyat, bukan ditangan syariat.

Lantas, bukankah suatu kedzaliman jika umat meletakan syariat dibawah ketiak kedaulatan rakyat ? Bukankah tidak ada perubahan, jika yang diubah hanyalah aktor kedzaliman. Bukankah ini sama saja, lolos dari mulut macan masuk mulut buaya ?

Jika umat mau berfikir sejenak saja, kemudian seraya mengesampingkan rasa yang hanya didorong kecenderungan semata, maka umat akan mendapati kesimpulan sebagai berikut :

Pertama, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem utang luar negeri dengan menghentikan hutang, mengharamkan riba, mengembalikan hanya pokoknya -setelah dikompensasikan dengan nilai cicilan yang sudah dilakukan- kemudian menyatakan berlepas diri dari seluruh konsekuensi ribawi. Jika mau fair menghitung, sesungguhnya nilai bunga cicilan ini jika dikompensasikan dengan pokok pinjaman, persoalan utang luar negeri ini sudah selesai, lunas, tuntas.

Bagaimana jika negara pemberi pinjaman komplain ? Mereka menuntut atas bunga yang belum ditunaikan ? Jawabnya Negara Khilafah menyatakan berlepas diri dari itu, dan siap membela diri dengan seruan Jihad, jika ada Negara yang berani menuntut atas hak yang tidak dibenarkan menurut syara'. Persoalan utang luar negeri ini selesai, tuntas.

Kedua, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaika

n problem konsesi pertambangan yang telah dikuasai asing dan aseng, bahkan korporat keluarga domestik yang telah berbagi jatah tambang di negeri ini.

Khalifah akan mengadopsi konstitusi dan Perundangan yang akan mengumumkan hak atas harta kepemilikan umum yang dilarang (haram) dimiliki pribadi, korporat, baik domestik, asing dan aseng.

Negara akan mengambil alih seluruh konsesi pertambangan dari swasta, mengelolanya atas nama negara, dan mendistribusikan manfaatnya kepada seluruh rakyat, tanpa membedakan status dan agama.

Perusahaan swasta, asing maupun aseng -termasuk perusahaan domestik- hanya memiliki hak atas investasi alat dan teknologi, itupun setelah dikompensasikan dengan nilai manfaat tambang yang selama ini telah dijarah dari negara.

Ketundukan wajib dilaksanakan, jika membangkang negara Khilafah dengan perangkat, alat dan struktur negara akan memaksa setiap entitas baik pribadi maupun korporat yang ada di yurisdiksi wilayah negara untuk tunduk, taat dan patuh pada hukum syariah yang telah diadopsi negara. Persoalan kedua selesai, tuntas.

Ketiga, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem penguasaan lahan yang mayoritas dikuasai korporat baik domestik, asing maupun aseng, yang pada umumnya dikelola melalui perseroan saham.

Negara akan membubarkan perseroan saham yang diharamkan dalam Islam, menggantinya dengan syirkah-syirkah Islami. Perseroan saham yang dibubarkan, aset tanahnya diminta untuk dikelola sesuai syirkah Islami yang dibentuk, dengan mengelolanya secara langsung.

Sisa lahan yang tidak bisa dikelola, diambil alih negara dan kemudian didistribusikan kepada rakyat secara merata dengan konsesi pemberian dari negara (Iqto' Ad Daulah). Ini berkaitan dengan lahan pertanian.

Sementara, lahan yang pada asalnya individu terlarang untuk memiliki, lahan yang demi kemaslahatan negara berhak untuk melakukan pemagaran (Tahjir), seperti lahan hutan, lembah dan rawa-rawa, maka negara langsung mengambil alih dari swasta tanpa kompensasi.

Selanjutnya negara akan melakukan pengelolaan, sesuai pandangan dan ijtihad Khalifah, untuk merealisir kemaslahatan umat. Adakalanya, lahan dibiarkan untuk menjaga ekosistem alam. Ada kalanya lahan dihidupkan, atau dibuka untuk lahan pertanian. Ada kalanya lahan didistribusikan kepada rakyat, baik dalam bentuk natural lahan atau telah diubah bentuk menjadi permukiman dan yang semisalnya. Persoalan ketiga selesai, tuntas.

Keempat, syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem ekonomi yang diakibatkan sistem ekonomi kapitalis, dimana harta ditengah-tengah umat akan dikelola sesuai hukum syara'.

Harta-harta kepemilikan individu (Milkiyatul Fardiyah), dibiarkan dikelola oleh individu umat, sesuai ketentuan syara dan negara melakukan kontrol secara umum terhadap proses transaksi dan pertukarannya.

Harta-harta milik umat (Milkiyatul Ummah) dikelola dan dikendalikan oleh negara, dimana hasilnya dikembalikan kepada rakyat baik secara langsung maupun dalam bentuk layanan publik.

Harta-harta milik negara (milkiyatud daulah) dikelola dan dimanfaatkan oleh negara untuk melaksanakan tugas-tugas riayah (pelayanan) negara terhadap umat.

Harta-harta akan beredar ditengah umat secara adil, dan tidak menumpuk pada individu tertentu. Persoalan keempat selesai, tuntas.

Kelima dan ini yang paling utama, ketika Khilafah ditegakkan, ketika Khalifah telah dibaiat, maka demi hukum negara akan menerapkan syariat Islam secara kaffah, mengemban misi dakwah Islam keseluruh penjuru alam, membebaskan Palestina, khasmir, Rohingya, Suriah, dan negeri Islam lainnya yang tertindas.

Tugas-tugas ini akan dipimpin langsung oleh Khalifah, bersama seluruh perangkat negara, tentara kaum muslimin dan atas dukungan seluruh umat warga negara daulah Khilafah.

Jadi, jelas persoalannya bukan sekedar ganti rezim tetapi juga ganti sistem. Persoalannya bukan sekedar gonta-ganti presiden, tetapi bagaimana kaum muslimin bisa melaksanakan kewajiban membaiat seorang Khalifah.

Atas akad Bai'at itulah, Khilafah kaum muslimin berdiri. Serius, Anda hanya mau ganti rezim ? Serius, Anda tidak ingin ganti sistem ? Saran saya, bersatulah di barisan politik Nasrudin Joha: GANTI REZIM GANTI SISTEM, TEGAKKAN KHILAFAH! [].