Sebegitu buramnya kah potret
pendidikan Indonesia..?
Perguruan tinggi adalah sarana untuk menempuh
jenjang pendidikan yang lebih baik dan memberikan ruang untuk memperbanyak ilmu
pengetahuan, memperdalam disiplin ilmu sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing
dengan biaya yang terjangkau. Namun apa yang berlaku hari ini di seluruh
wilayah negeri kepulauan terbesar di dunia ini, seperti itukah realita yang
disuguhkan atau bahkan jauh lebih baik dari apa yang pernah dibayangkan
sebelumnya atau mungkinkah juga masih standar atau bahkan juga bisa
memungkinkan sangat jauh dari apa yang diidamkan selama ini. Melalui tulisan
ini sedikit bisa memberikan gambaran betapa indahnya dunia pendidikan di Indonesia dari masa ke masa. Berdasarkan
hasil analisa Kemendikbud 16 Oktober 2012, angka partisipasi kasar (APK)
Perguruan Tinggi di Indonesia sekitar 18,5%-25%.
Artinya jumlah pemuda masa kuliah kisaran 25 juta
jiwa sebuah angka yang cukup besar untuk
menjadi intelektual muda negeri ini, namun ironinya hanya sekitar 4 juta jiwa
yang memiliki kesempatan untuk kuliah. Pertanyaannya mengapa hanya sekitar 16%
yang memiliki kesempatan itu..? bukankah kesempatan untuk belajar dan mengasah
diri menjadi lebih baik melalui jenjang perguruan tinggi terbuka untuk siapa saja…?
Hal itu dipengaruhi oleh karena biaya perguruan tinggi yang begitu mahal. Uang
Kuliah Tunggal (UKT) persemester yang harus dibayar oleh mahasiswa jauh dari
kata terjangkau. Contohnya saja, mahasiswa Unair harus membayar UKT hingga mencapai 25 juta persemester,
UI 7,5 juta persemester, UGM hingga 14,5 juta, ITS 7,5 juta bahkan mahasiswa
baru Universitas Brawijaya (UB) harus membayar hingga 43 juta untuk bisa tetap
melanjutkan masa studinya di kampus tersebut, sekarang berbagai pertanyaan
kemudian bermunculan, apa dampak yang akan ditimbulkna dari hal ini…?
Akibatnya ada 5 mahasiswa/(i) UB yang berencana
menjual ginjalnya untuk membayar SPP yang terlalu mahal (antaranews.com
20/08/2013). Tidak hanya itu bahkan di Surabaya seorang warga Benowo nekat menjadi
mucikari untuk membayar biaya SPP kuliahnya (16/04/2011). Pertanyaan
selanjutnya yang muncul. seperti itukah tujuan dari pendidikan..? bukankah
tujuan dari pendidikan yang sebenarnya adalah membentuk insan yang berkarakter.
Karakter yang seperti itukah yang selama ini di cetak dari sistem pendidikan tinggi..? kekejaman
dari penerapan system pendidikan ini tak berhenti hanya sampai disitu, bahkan
seorang mahasiswi di Medan nekat gantung diri karena menunggak pembayaran biaya
kuliah (vivanews.com 28/02/2013). Sementara itu hasil lulusan pendidikan tinggi
mahal ini agaknya jauh dari kata berkualitas, lebih dari 7 juta orang di
Indonesia pengangguran terbuka, sekitar 12% merupakan lulusan perguruan
tinggi (survei PKBI Kaltim 2011).
Sekitar 25% pelajar SMP, siswa SMA, dan mahasiswa(i) di ibukota Kaltim mengaku
pernah berhubungan intim lalu bagaimana dengan Indonesia, Politani pangkep
kabarnya bagaimana dengan hal ini masihkah berada di zona aman..?
Tawuran antar sesama mahasiswa seolah menjadi suatu
hal yang lumrah. Jumlah pejabat korup Indonesia menempati urutan ke-2 di dunia
(Biro Pelaksanaan Kejagung, Mei 2013) merupakan urutan yang fantastis, mengapa
demikian..? karena dapat mengalahkan dari sekian ratus negara yang ada di dunia
ini, Indonesia menempati runner up namun dalam hal perbuatan bejat bin serakah,
sedangkan mereka merupakan produk pendidikan tinggi, bukankah pendidikan tinggi
adalah pencetak para intelektual? yang merupakan harapan dan masa depan bangsa,
lalu apa yang kurang tepat dengan semua
ini? haruskah kita terus diam dan meratapi kemalangan nasib negeri ini?
#revisi sistem tegas penerapan….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar