Blogger Widgets

Senin, 01 Mei 2017

Apa Yang Salah Denganku..?

Kala itu kau dan aku hampir saja dipertemukan dalam segala keterbatasan dan perbedaan yang menyelimuti, aku dalam menghadapi kenyataan itu begitu bersikap terbuka terhadap segala hal yang mungkin saja terjadi bahkan sesuatu yang tak diharapkan akupun siap untuk menerimanya. Tepat pukul tiga belas lewat sepuluh menit waktu Indonesia bagian tengah pertengahan bulan april akhirnya kita dipertemukan disuatu lokasi tak jauh dari perbatasan antar kedua kota akhirnya pertemuan itupun berlangsung cukup alot. Namun dalam pertemuan yang tak direncanakan itu kau menjemputku dengan sikap yang tak menunjukkan keramahan, padahal yang kuharap pada saat itu kita berjumpa ibarat kaum Ansar dan Muhajirin dikala proses hijrahnya dari Makkah ke Madinah.
Namun yang terngiang dibenakku hingga hari ini adalah betapa berbedanya kita dengan para pendahulu kita yang begitu teguh dalam memperjuangkan islam rahmatan lil alamin keseantero pelosok negeri  di alam semesta ini sekalipun jiwa raga mereka menjadi taruhannya, sanggupkah kita mengikuti jejak mereka…? sedikit mengurai kembali pertemuan kita kala itu, bahkan dalam jumpa itu dengan segala kekuatan yang kau miliki ditambah dengan beberapa puluh personil berseragam lengkap dengan alat pengamanannya yang seolah-olah aku adalah sesuatu yang sangat membahayakan bagi negeri ini, pertanyaannya sekarang adalah adakah kemungkaran yang pernah kuperbuat hingga mencederai harkat  dan martabat bangsa ini…?
Jika sekiranya memang ada kemungkaran yang pernah kuperbuat tolong ingatkan agar aku dapat berbenah diri sedini mungkin, namun jika hal itu tak pernah kulakukan lantas alasan apa  yang membuatmu begitu membenciku padahal aku adalah  bagian dari identitas kalian yang pernah berjaya mengibarkan bendera kejayaan dibenua biru selama kurang  lebih delapan abad berlalu tepatnya dibumi Andalusia Spanyol (97 H-898 H/711 M-1492 M) dan penaklukan Konstantinopel (1453 M) sekarang kota Istanbul Turkey. Bendera kejayaan itu kukibarkan dibawah naungan khilafah yang sampai hari ini belum bisa kau terima dengan hati terbuka . Lalu bagaimana dengan Demos dan Kratein yang kalian anut dan pertahankan hingga hari ini, masihkah memberikan seribu macam bukti dari janji palsu yang diumbar diruang public dikala panasnya suhu perputaran politik berlangsung….?


Namun disaat suhunya mulai bersahabat masih ingatkah mereka dengan janji yang mereka ucapkan ataukah kita yang terlena dengan zona nyaman ditengah carut marutnya negeri ini…? kita adalah merupakan para  korbannya, sadarkah kita tentang hal itu…? Lantas apa yang menyebabkan sehingga hal itu bisa terjadi hingga berulang kali…? jawabannya adalah kita kembali melirik sistem yang diterapkan negeri ini masihkah menjamin stabilitas kehidupan berbangsa yang sampai hari ini masih terlukai oleh oknum tertentu yang menjunjung tinggi faham, oleh rakyat dari rakyat dan untuk rakyat, itukah yang  berlaku hari ini…? fakta yang terjadi oleh MEREKA dari MEREKA dan untuk MEREKA relistis…!
Saudaraku yang seaqidah pastilah faham dan sepakat bahwa Islam itu damai, toleransi dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Rasulullah SAW diawal dakwahnya berjuang  memperkenalkan Islam pada masyarakat Makkah dan Madinah selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, penuh dengan rintangan dan tantangan bahkan bercucuran keringat darah hingga kita dapat merasakan nikmatnya risalah yang dibawa oleh beliau sampai pada hari ini, sudah merasa pantaskah kita mengingkari perjuangan beliau…? terakhir….Untuk membuktikan bahwa Islam Rahmatan Lil Alamin maka  mutlak  hukumnya menerapkan sistem Islam, Insha Allah janji Allah itu pasti dan sebagai orang yang mengimaninya yaqin akan hal itu.

memetik buah dikebun tetangga itu tak dianjurkan
memetik buah dan menikmatinya dikebun sendiri itu sangat dianjurkan, halal hukumnya bahkan bernilai ibadah jika berkahnya diserahkan kepada Allah SWT.

                                                                                                            By: Agus Risman_42

Tidak ada komentar:

Posting Komentar