Senin, 08 Juni 2020
Bila KHILAFAH tegak dimana posisi Pancasila?
Senin, 15 April 2019
Film bahan diskusi
SEXY KILLERS;, babak terakhir Ekspedisi Indonesia Biru
https://www.youtube.com/watch?v=qlB7vg4I-To
MADE IN SIBERUT; kehilangan identitas pangan Kepulauan Mentawai
https://www.youtube.com/watch?v=0dO5JMMt1mk
ASIMETRIS; Borneo, sawit, dan kebakaran hutan
https://www.youtube.com/watch?v=2OhaxAalJdk
RAYUAN PULAU PALSU; reklamasi Teluk Jakarta
https://www.youtube.com/watch?v=fOdyk2QxY6U
JAKARTA UNFAIR; penggusuran kampung-kampung di ibu kota
https://www.youtube.com/watch?v=wCjbxuXv92U
MENGGENANG KENANGAN JATIGEDE; bendungan Jatigede
https://www.youtube.com/watch?v=u9Jw7zovsnY
KALA BENOA, reklamasi Benoa
https://www.youtube.com/watch?v=QZIZt5VexoM
MAHUZE; Papua, marga Mahuze, dan konflik lahan kelapa sawit
https://www.youtube.com/watch?v=MSVTZSa4oSg
SAMIN VS SEMEN; konflik lahan di Kendeng
https://www.youtube.com/watch?v=1fJuJ28WZ_Q
beberapa rekomendasi film bagus untuk di tonton dan didiskusikan👌🏻
Selasa, 12 Maret 2019
MENOLAK LUPA!!!
Astaghfirullah,
Densus 88 menculik Siyono usai mengimami shalat di Masjid di Dusun Pogung, Desa Brengkungan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada 8 Maret 2016, dengan status terduga teroris.
Saat ditangkap pria yang dikenal sebagai imam masjid itu dalam kondisi sehat. Namun, selang beberapa hari dia dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa penuh luka dan lebam.
Penculikan Siyono diikuti penggerebekan yang dilakukan aparat kepolisian di rumah Siyono, Kamis (10/03/2018). Sejumlah polisi bersenjata laras panjang menggerudug rumah Siyono, yang kala itu digunakan sebagai kelas darurat siswa siswi TK Amanah Ummah yang tempat belajarnya tengah direnovasi. Anak-anak TK menangis histeris, walimurid pun tak bisa menyembunyikan ketakutan mereka.
Komnas HAM bersama PP Muhammadiyah dan elemen sipil lainnya melakukan autopsi untuk mengungkap penyebab kematian Siyono.
Sebulan berselang, hasil autopsi dibeberkan Komnas HAM bersama Persatuan Dokter Forensik Indonesia dalam konferensi pers yang digelar Senin (11/04/2016)
Hasil autopsi jenazah Siyono mengungkap sebagaimana pengutaraan Komisioner Komnas HAM Siane Indriani, "Terdapat patah tulang iga sebanyak 5 buah ke arah dalam dan patah tulang dada ke arah jantung. Hal inilah yang menyebabkan kematian. Hasil otopsi juga menunjukkan tidak adanya bukti-bukti perlawanan oleh almarhum”
Tim forensik juga menemukan luka ketokan di kepala, tapi hal itu tidak menyebabkan perdarahan atau kematian.
Suratmi, istri almarhum, ketika mencari keberadaan suaminya ke Jakarta diberitahukan polisi bahwa Siyono wafat dan ia diberikan 2 (dua) ampop besar berisi uang puluhan juta, yang belakangan ia serahkan ke PP Muhammadiyah Yogyakarta.
Suratmi menyebut di awal kepergian suaminya, anak-anaknya sempat diliputi trauma hingga muncul ketakutan ketika bertemu dengan polisi.
Tak hanya itu, stigma dilekatkan kepada keluarga Suratmi di awal-awal meninggalnya Siyono. Sebagian masyarakat dengan mudah mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang sampai saat ini tak terbukti.
#3TahunSiyono
Semoga Allah beri hidayah bagi para aparat
Senin, 04 Maret 2019
AQIDAH HARGA MATI
SEORANG imam masjid di London biasa naik bus untuk bepergian. Kadang-kadang ia membayar ongkosnya langsung pada sopir bus (bukan kondektur)
Suatu kali ia membayar ongkos bus, lalu segera duduk setelah menerima kembalian dari sopir.
Setelah dia hitung, ternyata uang kembalian dari sopir ada kelebihan 20 sen. Ada niatan sang imam untuk mengembalikan sisa kembaliannya itu karena memang bukan haknya. Namun terlintas pula dalam benaknya untuk tidak mengembalikannya, toh hanya uang receh yang tak begitu bernilai.
Umumnya orang juga tak ambil pusing dalam hal begini. Lagi pula, berapa sen pula yang didapat sang sopir karena sisa pembayaran penumpang yang tidak dikembalikan oleh kebanyakan sopir karena hanya receh, artinya sopir tidak rugi kalau ia tidak mengembalikan receh 20 sen itu.
Bus berhenti di halte pemberhentian sang imam. Tiba-tiba sang imam berhenti sejenak sebelum keluar dari bus, sembari menyerahkan uang 20 sen kepada sopir dan berkata, “Ini uang Anda, kembalian Anda ada kelebihan 20 sen yang bukan hak saya.” .
Sang sopir mengambilnya dengan tersenyum dan berkata, “Bukankah Anda imam baru di kota ini? Saya sudah lama berpikir untuk mendatangi masjid Anda demi mengenal lebih jauh tentang Islam, maka sengaja saya menguji Anda dengan kelebihan uang kembalian tersebut. Saya ingin tahu sikap Anda"
Saat sang imam turun dari bus, kedua lututnya terasa lemas dan hampir jatuh ke tanah, hingga ia berpegangan pada tiang yang dekat dengannya dan bersandar.
Pandangannya menatap ke langit dan berkata, “Ya Allah, hampir saja saya menjual Islam hanya dengan 20 sen saja.” (Kisah nyata dalam Kitab al-Brithani wa amaanatul Imam, Syaikh Ahmad Khalid al-Utaiby)
fb: Kajian Ustadz
Jumat, 01 Maret 2019
Heeiii lancang kali kau
HEI KAU, LANCANG SEKALI !
Oleh : Nasrudin Joha
_Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang._
_Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir...aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, untukmu agamamu, dan untukku agamaku."_ *[QS AL KAFIRUN]*
Kau ubah konstitusi, silahkan saja. Kau produksi UU dan merubahnya, terserah saja. Kau ubah UU ormas untuk mengkriminalisasi ajaran Islam khilafah, suka-suka kau lah. Tapi, kau berani ubah Al Qur'an ?
Berapa kau dibayar untuk mengubah istilah Al Qur'an ? Rendah sekali kau ? Sejak kapan predikat kafir disebut kekerasan teologis ? Sejak kapan ajaran Al Quran dituding intoleran ?
Hei kau, iya kau yang ngomong ngecapruk meminta tidak sebut kafir, dengan dalih apapun, mau tau apa itu kekerasan teologis ? Itu Disana, di Palestina kaum muslimin dibantai atas dasar sentimen teologis agama Yahudi. Pingin tahu lagi ? Itu, di rohingya, kaum muslimin menjadi korban kekerasan teologis dari teroris penganut Budha. Kau mau tau lagi, di India kaum muslimin dibantai ekstrimis Hindu, di Uighur kaum muslimin di bantai rezim komunis.
Kemana kau ? Mana fatwa kau ? Mana pernyataan kekerasan teologis ? Mana mana ? Banyak makan uang haram, mulut jadi moncong setan. Tidak lagi peduli halal haram, semua dihantam hanya untuk cari makan dari bangkai dunia.
Hei kau, mau tau intoleransi ? Itu, kaum muslimin dilarang berhijab, di Perancis. Disini, memakai cadar saja langsung dipecat dari dosen. Itu intoleransi menggunakan jalur kekerasan teologis. Yg tidak sepaham dituding intoleran, radikal, teroris. Puas ? Puas ? Puas ?
Hei kau, Para perusak ulama, perusak agama, perusak akidah umat, memang mau hidup didunia abadi ? Usia sudah bau tanah, wajah hitam nyaris tak ada aura iman dan nyaris tak ada cahaya wudhu, mau apa yang kau banggakan ? Umur yg kian merenta ? Pengikut yang kelak akan menuntutmu ? Jelek sekali makhluk seperti kau ini ?
Silahkan bikin fatwa sesukanya, kami akan Tetap taat pada Al Qur'an. Sebut saja, dengan sebutan sesukamu. Tapi kami, tetap akan tunduk pada Al Qur'an bahwa orang yang tidak mengimani keesaan Allah SWT, membuat sekutu-sekutu bagi Allah SWT, adalah kafir.
Ini tahun politik, kami akan kabarkan kepada umat Islam haram memilih pemimpin kafir, apapun alasannya. Kita lihat saja, apa yang akan terjadi, kami pasti akan konsisten taat kepada hukum Al Qur'an. [].
🏴🏳
Selasa, 26 Februari 2019
Aturan Baku Khilafah
SAYA TIDAK MENGERTI MAKSUD KALIMAT ATURAN BAKU KHILAFAH
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani
Sudah setahun belakangan ini istilah “Khilafah tidak mempunyai aturan baku” menjadi buah bibir di kalangan para penentang Khilafah. Di Indonesia, kalimat tersebut dipopulerkan oleh Mahfudz MD, yang serupa dengan pola pikir Ali Abd. Raziq (Mesir). Sayang, sepertinya Mahfudz MD tidak mengetahui bagaimana gelar guru besar Ali dicopot oleh pihak Universitas Al-Azhar gara-gara pemikirannya itu yang menentang Khilafah.
Argumentasi seperti itu muncul pasca rontoknya beberapa argumentasi sebelumnya. Dimulai dari alasan Khilafah bukan ajaran Islam, Khilafah tidak ada dalilnya, Khilafah tidak pernah ada relevansinya dengan Indonesia, Khilafah mengajarkan pertumpahan darah, dan lain sebagainya..
Alasan-alasan semacam itu akhirnya terjawab sudah oleh berbagai argumentasi dan dalil, yang justru semakin mengokohkan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam yang keterangannya banyak dijelaskan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya. Pertumpahan darah dan peperangan hanyalah alat monsterisasi terhadap ajaran Islam itu.
Kini muncul pertanyaan baru, “adakah aturan baku Khilafah?”
Setahun yang lalu saya sudah jawab pertanyaan ini dengan sejelas-jelasnya dalam sebuah tulisan. Bahkan bukan hanya saya, banyak juga teman-teman lainnya yang menjawab pertanyaan ini. Tetapi, sepertinya sang penanya masih belum menerima bahwa itu adalah aturan baku Khilafah.
Saya mengernyitkan dahi dengan pertanyaannya itu. Ia berputar pada soal Khilafah yang tidak ada bentuk bakunya. Di antara argumentasi yang digunakannya adalah; sebagian ulama ada yang mensyaratkan Khalifah harus seorang mujtahid mutlak dan dari trah quraiys, sementara sebagian ulama lagi tidak mensyaratkan hal tersebut.
Itu artinya perkara Khilafah adalah perkara debatable, sehingga tidak benar jika Khilafah dianggap sebagai sebuah kewajiban yang harus diperjuangkan. Dari situ saja sudah terlihat bahwa Khilafah tidak mempunyai bentuk baku dalam pelaksanaannya.
Seperti itulah nalar yang digunakannya untuk menentang ide penegakkan Khilafah. Sebuah nalar yang sebetulnya akan menjadi bumerang bagi yang mengungkapkannya. Merasa sudah di atas angin, padahal ia tidak sadar bahwa akan segera jatuh terjungkal.
Logika semacam itu harus berani diuji konsistensinya. Apakah itu digunakan khusus untuk ajaran Khilafah, atau juga untuk yang lainnya. Ajaran sholat, misalnya, semua ulama, khususnya imam empat madzhab, tidak semuanya sama mengenai tata caranya.
Dari mulai takbirotul ihram sudah berbeda-beda tata caranya. Ada yang meletakkan tangan di batas telinga, ada yang di pundak, ada yang di depan dada, bahkan ada yang tidak mengangkat kedua telapak tangan sama sekali. Bacaan Al-Fatihah, ada yang mengharuskan “basmallah” ada juga yang tidak, bahkan ada juga yang tidak mewajibkan membaca Al-Fatihah. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Bila kita cermati, orang-orang yang menentang ide penegakkan Khilafah dengan alasan perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait mujtahid mutlaq atau bukan, qurays atau bukan, maupun yang lainnya, yang menurutnya itu menunjukan bahwa tidak ada aturan baku dalam sistem Khilafah, mereka harus berani menjawab soal berikut ini!
Adakah aturan baku dalam sholat? mengingat terkait tata cara sholat pun para ulama berbeda-beda pendapatnya, sementara jika mengikuti nalar sebagaimana yang diterangkan di atas, sholat pun tidak ada aturan bakunya.
Apabila tulisan ini masih dianggap belum memuaskan akal para pengasong “Khilafah tidak ada aturan bakunya,” sungguh saya masih belum mengerti apa yang dimaksud dengan aturan baku oleh mereka. Tolong berikan contoh kepada kami, terkait aturan-aturan baku dalam ajaran Islam yang lainnya, supaya kami paham dengan pertanyaannya. Jika tidak, berarti anda sendiri yang bingung dengan partanyaan anda.
#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 27 Februari 2019
Pulanglah ke Rumah qt (KHILAFAH)
WAHAI KAUM MUSLIMIN, PULANGLAH KE RUMAH KITA
[Seruan Cinta untuk Persatuan Umat]
Oleh : Dr. Ahmad Sastra
Di atas semua kelemahan saya sebagai muslim. Di tengah kondisi muslim yang kian mengenaskan nasibnya. Inilah seruan cinta untuk kaum muslimin di Indonesia dan dunia. Duhai kaum muslim tercinta, segera sadarlah dan kembalilah ke rumah kita. Rumah persatuan Islam kita.
Bukankah Tuhan kita sama : Allah swt. Bukankah Nabi kita sama : Muhammad saw. Bukankah kitab kita sama : Al Quran. Bukankah kiblat kita sama : Baitullah Kabah. Bukankah rukun iman kita sama-sama enam. Bukankah rukun Islam kita sama-sama lima. Lantas apa yang membuat kita enggan bersatu. Duhai kaum muslim tercinta, sadarlah, kembalilah ke rumah kita.
Tunggu apa lagi, bukankah Allah Tuhan kita sangat membenci keterpecahan ini. Bukankah Allah sangat menganjurkan kita untuk bersatu padu dalam iman dan perjuangan. Bukankah musuh kita sudah jelas, berbagai kezaliman, pengkhianatan, penjajahan, kekufuran, kemunafikan dan penindasan akibat ideologi sekulerisme dan komunisme. Pulanglah ke rumah kita.
Tidakkah mata kita melihat segala penderitaan yang menimpa kaum muslimin di seluruh dunia oleh kezaliman rezim anti Islam. Tidakkah mata kita melihat kemiskinan dan kesengsaraan kaum muslimin akibat penjajahan negeri-negeri muslim. Tunggu apa lagi, bersatulah, pulanglah ke rumah kita.
Apakah mata kita tidak melihat, musuh-musuh Islam dengan terang benderang menebar kebusukan mereka. Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan menebarkan kezaliman, kebengisan, kejahatan, dan watak amoral lainnya. Lihatlah, maka pulanglah ke rumah kita.
Bukankah kita juga sadar bahwa kemuliaan diri kita bukan karena harta dan tahta duniawi, namun karena ketaqwaan kita. Tanggalkan segala perbudakan duniawi, jika akan menjadikan umat Islam terpecah belah. Ingat, Allah akan menolong kita, selama kita menolong agamaNya. Waktu semakin pendek, pulanglah ke rumah kita.
Kehidupan hedonisme dan politik pragmatisme hanya akan mencerai beraikan persatuan kita. Cinta dunia dan takut mati hanya akan menyumbat ghirah perjuangan kita. Padahal kesejahteraan dan kebahagiaan akan dianugerahkan kepada kita, saat kita berjalan di atas jalan dakwah dan perjuangan agamaNya. Jangan pikir panjang, pulanglah ke rumah kita.
Pengembaraan diri untuk meraup libido duniawi, dengan meninggalkan Allah telah menjebak kita pada jurang kesengsaraan. Padahal dunia adalah sarana untuk ibadah dan lahan untuk berbuat baik. Bukankah akherat yang abadi telah menanti kita, menjamin kebahagiaan hakiki. Hilangkan hambatan diri, pulanglah ke rumah kita.
Kurang apa lagi, bukankah kehidupan Rasulullah telah tergambar jelas di mata hati kita. Kehidupan mulia dengan visi misi pengabdian total kepada Allah semata. Mengorbankan harta, tenaga, pikiran dan nyawa untuk perjuangan agama mengantarkan Rasulullah sebagai penghuni surga nan abadi. Tak ada alasan lagi, pulanglah ke rumah kita.
Apakah hati ini tega melihat berbagai kezoliman atas kaum muslimin di penjuru dunia di satu sisi. Namun di sisi lain, kaum muslimin cakar-cakaran berebut secuil harta dan tahta dunia. Adakah jawaban yang bisa kita berikan di hadapan Allah kelak di akherat. Demi cinta sesama muslim, pulanglah ke rumah kita.
Apakah kita tidak malu, saat nyawa, hati, otak, nafas, mata, telinga, mulut, dan seluruh anggota badan yang diberikan Allah kepada kita, lantas kita enggan tunduk kepada Allah. Bagaimana pula saat kaki dan tangan kita menjadi saksi atas pengkhianatan kita. Renungkan, pulanglah ke rumah kita.
Apakah di padang makhsyar kita tidak malu kepada Rasulullah saat dikumpulkan ternyata bendera kita berbeda-beda. Bukankah syahadat kita menghajatkan patuh tunduk dibawah panji Rasulullah, bukan panji yang lain. Dalam doa kamilin, sering kita mengucap 'tahta liwai sayyidina Muhammad'. Kapan lagi kalau bukan sekarang, siapa lagi kalau bukan kita. Duhai kaum muslimin, pulanglah ke rumah kita.
Allah dan RasulNya telah menyeru dengan terang, bahwa seorang muslim adalah bersaudara dengan muslim lainnya tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kelompok dan geografis. Persaudaraan atas nama iman adalah kemuliaan di sisi Allah. Apa yang dirasakan oleh saudara seiman, mesti juga dirasakan oleh saudaranya seiman lainnya. Karena itu, pulanglah ke rumah kita.
Apakah kita tidak takut saat menjual agama ini demi secuil harta duniawi. Apakah kita tidak takut saat menfitnah sesama muslim hanya untuk mendapat harta dan tahta. Apakah kita tidak takut saat mengkhianati perjuangan Islam demi isi perut. Takutlah kepada murka Allah, pulanglah ke rumah kita.
Inilah seruan cinta untuk kembali ke rumah persatuan seluruh kaum muslimin di Indonesia dan seluruh penjuru dunia. Duhai Allah, sungguh telah kami sampaikan seruan cinta ini. Saksikan dan bukalah hati-hati seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia ini.
Jika kaum muslimin telah kembali pulang ke rumahnya sendiri. Kita bersatu padu bergerak dan berjuang demi Allah dan Rasulullah. Bersama menghadapi kepongahan musuh-musuh Allah. Berdiri tegak membela agama dari kejahatan kaum pembangkang agama. Maka, cukup hitungan menit, musuh-musuh Allah akan mudah dijungkalkan.
Duhai kaum muslimin, pulanglah ke rumah persatuan kita, di bawah panji tauhid kita, panji Rasulullah. Jawablah seruan cinta ini, jawablah !!!
(AhmadSastra,KotaHujan,24/02/19)
#TaubatNasuha
#UmatRinduKhilafah
#TegakkanKhilafahIslam
#IslamRahmatanLilAlamin
#HidupMuliaDalamKhilafah
#UlamaBersamaHTI #UmatBersamaHTI
#KhilafahAjaranAhlusSunnahWalJamaah
#HaramPilihYangAntiIslamZalimAntekAsingAseng