Blogger Widgets

Sabtu, 23 Februari 2019

Ujung-ujungnya Bisnis

Yang ngomong nasionalisme, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong kebhinekaan, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong demokrasi, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong pancasila, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong agama, ujung-ujungnya bisnis.
Yang ngomong nkri, ujung-ujungnya bisnis.
Karena kita semua di dalam kapitalisme,
di dalam cengkeramannya,
di dalam dekapannya,
di dalam buaiannya.

Kecuali kita maju bertekad melawan kapitalisme.
Dan tidak berayun ke lawannya: sosialisme.
Juga tidak terpikat cara-cara terorisme.

Maka mari kita ngomong khilafah.
Khilafah yang ajaran Islam.
Bukan yang kata orang.

Ngomong dulu saja.
Dan bukan bisnis,
apalagi ISIS.

#puisiFahmiAmhar

Ini Hanya Bisnis

Kalian tahu Alibaba? Itu e-commerce dunia, yang tidak hanya jual HP, baju, kosmetik, dll secara retail. Alibaba juga bisa untuk memesan beras 100 ton misalnya, jual-beli dalam ukuran besar. Saya Tere Liye, mau masuk bisnis jual-beli beras, maka saya carilah pedagang dari luar negeri yang jual beras. Banyak daftar penjualnya, ribuan lebih. Ambil salah-satu ‘pelapak’, ada yang jual Vietnam Jasmine Rice 25% broken rice, dia jual 300 dollar per ton FOB, minimal pesan 50 ton. Kalau pesan di atas 200 ton, bisa negosiasi lagi. Estimasi waktu sampai sekitar 10 hari. Karena ini FOB, maka pengapalan, asuransi, gudang di Indonesia, dll, dll, saya yang tanggung. Mari kita ambil perkiraan paling mahal biaya pengiriman dll tersebut 100 dollar per ton, maka total dengan harga 400 dollar per ton, itu beras sudah tiba di Indonesia.

Jika dirupiahkan, dengan kurs 14.000, maka berapa harga beras ini per kilogram? 400 USD x 14.000 / 1000 kg, didapatlah angka Rp 5.600/kg. Berapa harga beras ini dilepas di pasar Indonesia? Bisa Rp 10.000/kg. Berapa keuntungan impor saya? Rp 4.400/kg. Jika saya boleh impor 2,2 juta ton (tahun 2018 total impor beras 2,2 juta ton). Maka keuntungan saya adalah: Rp 9,68 Trilyun. Mantul, mantap betul. Itu uang semua, Rp 9.680.000.000.000.

Setelah untung 9,68 Trilyun, saya memutuskan bosan jadi penjual beras. Baiklah, saya mau jual gula saja. Lagi2 gampang, mari buka Alibaba, cari pemasok luar negeri sana yang mampu kirim satu juta ton. Harga gula lebih murah, Kawan, 150-200 dollar per ton bisalah, asal kamu pintar cari pelapaknya. Tambah dengan ongkos kirim, dll, dll, jadilah 300 dollar per ton. Tiba di Indonesia, mentok ongkos semuanya hanya Rp 4.200/kg. Berapa harga gula sekarang Rp 10.000 - 11.000. Wuih, itu nyaris 2,5 x dari harga aslinya. No, no, kata bos, tidak boleh impor gula konsumsi masyarakat, hanya boleh gula rafinasi, untuk industri. Tak masalah, setahun kita bisa impor nyaris 3 juta ton. Maka jika keuntungan per kilonya adalah Rp 5.000, maka berapa keuntungan saya? Rp 4.000/kg x 3.000.000.000 = Rp 12 Trilyun. Alias Rp 12.000.000.000.000.

Bosan bisnis gula, sy bisa ganti lagi jagung, atau daging sapi, atau apapun itu, welcome semua ke Indonesia. Kita adalah negara ‘pengimpor’ hebat. Kalian tahu soal impor gula misalnya, Indonesia mengimpor lebih banyak dibanding China (yang penduduknya 4x Indonesia), dan AS. Tentu bisa dimaklumi, karena penduduk kita manis-manis, jadi memang suka gula, eh?

Asyik sekali jadi pengusaha import ini. Untungnya tak kira-kira.

Nah, ketahuilah, siapapun rezimnya, siapapun yang berkuasa di sana, sejak era Ken Arok dan Ken Dedes dulu, impor-impor ini senantiasa empuk dan lezat, Kawan. Kalau ada yang bicara tentang stabilisasi harga pasar, bicara soal melindungi petani lokal, proteksi atas industri lokal, bicara manis-manis itu, maka itulah gunanya politisi, mereka menjual kecap paling bagus. Sementara di belakangnya, tidak tahu. Mungkin tertawa terpingkal-pingkal.

Mafia! Adalah salah-satu kambing hitam favorit di negeri ini. Gampang nyomotnya, dikit-dikit: Ini salah mafia! Dasar mafia impor kurang ajar! Ini SEMUA salah mafiaaaa! Gampang banget nyalahin mafia. Lantas apakah pernah ketangkap mafianya? Pernah diusut? Tidak pernah. Saya tengok penjara, tak ada itu yang namanya Mafia, Bafia, Masfia, atau Dekfia. Entahlah siapa mafia-mafia ini. Ehem, jangan-jangan kamu yang di sana? Yang di sana? Atau kamu juga? Ayo ngaku, deh. Jangan malu-malu.

Lantas ributlah di medsos. Fans capres bertengkar soal impor. Riuh rendah. Ada yang salah-sebut data impor jagung. Ada yang bilang no impor. Saling menertawakan. Saling serang. Mari gelar tikar, menonton hiburan gratis yang seru. Tapi sayangnya, setelah bertengkar tujuh hari tujuh malam, besok2 semua lupa. Yang dulu benci impor, saat berkuasa eh, jadi love sama impor. Yang dulu benci BBM naik, nangis2 penuh drama, pas berkuasa, eh malah mendukung paling depan. Ternyata cuma siklus saja, siapa yang kebetulan lagi jadi penguasa atau oposisi.  Aduh.

Lantas mau kamu apa, Tere Liye? Kalau saya sih, kalau saya boleh usul, mari kita buka saja habis2an keran impor ini. Siapapun bisa beli langsung dari luar negeri sana. Toh, “tinggal” pesan Alibaba. Siapapun boleh masukin barang, tidak perlu cincai lagi, semua boleh, tidak dilarang, dicegat di bea cukai, pun tidak usah dikenakan tarif-tarifan, pajak-pajakan. Kita bebasin semuanya. Kamu mau beli beras, silahkan pesan saja langsung ke Alibaba, sampai rumah cuma 5.000/kg. Pengin gula, pesan ke penjual gula di Brazil sana. Tunggu, nanti ada Mamang Kurir bawa truk besar, “Pakeeeet”. Pengin jagung, pesan sana ke Amerika, nanti ada Mamang Kurir gendong kontainer, “Pakeeet”. Coba lihat, dipanggil kencang2 susah amat nyahutnya, giliran Mamang Kurir tereak pakeet! Lari ke depan sambil senyum2.

Lantas bagaimana dengan petani lokal? Dengan pabrik gula lokal? Petani jagung? Petani Garam? Bagaimana dengan defisit transaksi berjalan? Bisa tekor gila Indonesia. Bodo amat. Itu bukan urusan saya. Buka saja habis2an. Toh, selama ini semua hanya soal bisnis belaka. Omong kosong nasionalisme, patriotisme, dsbgnya itu. Ini semua hanya bisnis, Bro, Sis. Lu doang yang terlalu serius ngefans sama capres, padahal ini cuma bisnis. Hitung2annya masuk, bungkus. Nah, daripada rente trilyunan itu masuk kantong orang2 yang sudah kaya raya, tajir gila, mending kita bebaskan saja. Biar kita dapat harga murah semua.

Sialnya, kalian tidak semua akan sependapat dengan saya. Dan setelah saya pikir2, aduh, saya juga tidak yakin benar itu solusinya. Itu bukan solusi ‘nyata’. Malah rugi. Toh, saya kan sudah berniat jadi ompirtir. Saya sudah bilang dari tadi, Tere Liye mau bisnis jual beli beras. Maka bagi saya, lebih baik saya memulai mendirikan perusahaan impor, mulai kontak2 bos, nyari jatah impor buat tahun depan. Oke, bos? Kasihlah ke saya impor gula 10.000 ton saja. Itu sudah untung 50 milyar loh. Tak usah banyak2, bos. Nanti gantinya, saya buatkan kaos, poster, baliho, spanduk, dll. Deal?

Demikian. Siapa suruh baca tulisan ini. Tidak ada solusinya memang. Malah bikin tambah kesel.

Tere Liye

Semua bertujuan baik

Di dunia, baik-buruk memang relatif. Tapi hisab di akhirat kelak, baik-buruk itu sudah jelas menggunakan tolok ukur Allah, yang garis panduannya sudah dibocorkan melalui Al Quran.
--------------------------------------------------------------------

SEMUA BERTUJUAN BAIK

Semua pemimpin bertujuan baik, menginginkan negara yang dipimpinnya menjadi lebih baik.

Fir'aun membangun super infrastruktur, pyramid, agar mesir terlihat lebih baik.

Stalin menerapkan komunisme agar Uni Soviet lebih baik. Benjamin Franklin menerapkan demokrasi dan kapitalisme agar amerika lebih baik.

Tapi persoalanya, baik bagi Fir'aun belum tentu baik bagi Musa a.s. Baik bagi Stalin belum tentu baik bagi Franklin.

Bagi Sukarno, demokrasi terpimpin lebih baik. Bagi Suharto, demokrasi pancasila lebih baik. Bagi generasi reformasi 98, tahu benar bahwa demokrasi pancasila Suharto tak lebih dari perusahaan pribadi.

Semua ingin membawa negara ke arah yang lebih baik. Tapi persoalannya, baik bagi Sukarno belum tentu baik bagi Suharto. Baik bagi Suharto belum tentu baik bagi Amien Rais.

Baik bagi Jokowi belum tentu baik bagi Sultan HB X. Maka bagi Jokowi, membangun jalan bebas hambatan berbayar itu baik. Tetapi tidak bagi Sri Sultan HB X. Makanya Sultan menolak jalan tol masuk Jogja.

Bagi Abu Jahal, mengikuti kesepakatan leluhur pendiri kabilah Qurais itu lebih baik. Tetapi bagi Abu Bakar, mengikuti Rasulullah adalah lebih baik.

Oleh karenanya, Abu Bakar menjadi Khalifatur Rasul (pengganti Rasul selaku kepala negara).

Bagi Abu Bakar menjadi Khalifah menerapkan syari'ah & khilafah adalah lebih baik ketimbang mengikuti sistem negara orang-orang Romawi.
.
Maka begitu pula hari ini. Ada yang berpendapat bahwa mengikuti kesepakatan leluhur dan demokrasi warisan romawi adalah lebih baik.

Ada pula yang berpendapat bahwa mengikuti para Khulafaur Rasyidin dan Rasulullah menerapkan syari'at adalah lebih baik.

Di dunia, baik-buruk memang relatif. Tapi hisab di akhirat kelak, baik-buruk itu sudah jelas menggunakan tolok ukur Allah, yang garis panduannya sudah dibocorkan melalui Al Quran.

Jogja 21219
@doniriw

Ketika Boneka Jadi Pemimpin

Oleh: MH. A’INUN NAJIB*

Kenapa rakyat mau Memilih Boneka, Patung atau Berhala untuk menjadi Pemimpinnya?

Karena Partai Politik Memperkenalkan Calonnya dengan Mendustakan Kenyataannya

Calon Pemimpin Ditampilkan dengan Pencitraan,
Pembohongan,
di Make-Up Sedemikian Rupa,
di-Besar²kan,
di-Baik²kan,
di-Indah²kan,
di-Hebat²kan

Itu bukan Politik namanya, Pak,
itu Kriminal

Memang bukan politik, melainkan Perdagangan

Bukan Demokrasi, melainkan Perjudian

Memang bukan Kepemimpinan, tapi Talbis, kalau dipaksakan untuk disebut demokrasi, ya itu namanya Demokrasi Talbis

Talbis itu apa tho, Pak?

Talbis adalah Iblis menemui Adam di Surga dengan Kostum dan Make Up Malaikat, sehingga Adam menyangka ia adalah Malaikat.
Maka Adam tertipu.
Rakyat adalah korban Talbis di berbagai lapisan.
Mereka dibohongi sehingga menyangka bahwa yang dipilihnya adalah pemimpin, padahal boneka.
Boneka yang diberhalakan melalui pencitraan

Apakah pemimpin yang demikian bisa berkuasa?

Yang Berkuasa adalah Botoh² (Bobotoh) yang Membiayainya.
Setiap langkahnya dikendalikan Oleh Para Bobotoh.
Setiap keputusannya sudah dipaket oleh penguasa modal.
Ia tidak bisa mandiri, karena dikepung oleh kelompok² yang juga saling berebut demi melaksanakan kepentingan masing²

Apa ia Tidak Merasa Malu Menjadi Boneka?

Itu 1 rangkaian:
Tidak Merasa Bersalah.
Tidak Malu.
Tidak Tahu Diri.
Tidak Mengerti bahwa ia sedang Menyakiti dan Menyusahkan Rakyatnya.
Tidak Memahami Posisinya di Hati Masyarakat.
Tidak Punya Cermin untuk Melihat Wajahnya

Sampai Separah itu Pak?

Tidak punya konsep tentang Martabat manusia, harga diri Bangsa dan Marwah Negara.
Hanya mengerti Perdagangan Linier dan sepenggal,
tidak paham perniagaan panjang yang ada lipatan dan rangkaian putarannya.
Tidak memahami tanah dan akar Kedaulatan, pertumbuhan pohon kemandirian, dengan Time-Line Matangnya Bunga dan Bebuahannya.

Pemimpin yang demikian membawa bangsanya berlaku sebagai Pengemis yang Melamar ke Rentenir

Pemimpin yang seperti itu Akhirnya Pasti Jatuh dan Hancur, kata Kakak.

Belum tentu, kata Bapak.

Jangan lupa bahwa kalau Para Bobotoh Mampu Mengangkat Berhala ke Kursi Singgasana,
Berarti Mereka Juga Menguasai Seluruh Perangkat dan Modalnya untuk bikin apa saja semau mereka di Negara ini

Juga Selalu Sangat Banyak Orang dan Kelompok yang Mencari Keuntungan Darinya,
Bahkan Menggantungkan Hidupnya.
Sehingga mereka Membela Boneka itu Mati²an.

Mereka selalu mengumumkan betapa Baik dan Hebatnya Pemimpin Yang Mereka Mendapatkan Keuntungan darinya, sampai² Akhirnya mereka yakin sendiri bahwa ia benar² Baik dan Hebat.

Uang, Kekuasaan dan Media, Sanggup Mengumumkan Surga Sebagai Neraka, dan meyakinkan Neraka Adalah Surga

*_S a l a m ,_*

*Emha Ainun Nadjib*

http://www.jerami.info/2018/09/12/ketika-boneka-menjadi-pemimpin/

Tulisan Untuk Para Pengemban MABDA

*Renungan......*
Ustadz Fatih Karim

Sudah lelahkah wahai kawan atas perjuangan
ini..?

mungkin jadwal dakwah yang padat itu
membuatmu lemah?

Atau tak pernah punya waktu istirahat di akhir
pekan yang kau gusarkan, karena harus terus BERGERAK berdakwah?

Atau pusingnya fikiranmu mempersiapkan acara2
dakwah yang membuatmu ingin terpejam?

Atau panasnya aspal jalanan saat kau melakukan aksi yang ingin membuatmu “rehat sejenak”?

Atau sulitnya mencari orang yang ingin kau ajak
HIJRAH ini yang kau risaukan?

Atau karena seringnya kehidupan sekitar kita
meminta infak2mu yang membuatmu ingin
menjauh?

Dakwah kita hari ini hanya sebatas ‘itu’ saja
kawan.
Bukan ingin melemahkan tapi izinkan saya
mengajakmu merenung sejenak….

Tahukah engkau wahai kawan, siapa Umar bin
Abdul Azis?? Tubuhnya hancur dalam rangka 2
tahun masa memimpinnya...
2 tahun kawan, cuma 2 tahun memimpin tubuhnya
yang perkasa bisa rontok,
kemudian sakit lalu syahid...

Sulit membayangkan sekeras apa sang khalifah
bekerja…tapi salah satu pencapainya adalah;
saat itu umat kebingungan siapa yang harus diberi
zakat…
tak ada lagi orang miskin yang layak diberi infaq…

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Tapi Syekh Musthafa Masyhur mengatakan
“jalan dakwah ini adalah jalan yang panjang tapi
adalah jalan yang paling aman untuk mencapai
ridho-Nya.”
Ya kawan, jalan ini yang akan menuntun kita
kepada ridho-Nya…
saat Allah ridho..

maka apalagi yang kita risaukan?
Saat Allah ridho…semuanya akan jauh lebih indah…karena surga akan mudah kita rasa...,
insyaAllah.

Rasulullah begitu berat dakwahnya..
harus bertentangan dengan banyak kabilah dari keluarga besarnya..

Mush'ab bin Umair harus rela meninggalkan
ibunya...
Salman harus rela meninggalkan seluruh yang dia kumpulkan di Mekkah untuk hijrah…
Asma' binti Abu Bakar rela menaiki tebing yang
terjal dalam kondisi hamil untuk mengantarkan
makanan kepada ayahnya dan Rasulullah.
Hanzholah segera menyambut seruan jihad
saat bermalam pertama dengan istrinya,
Ka'ab bin Malik menolak dengan tegas suaka
Raja Ghassan saat ia dikucilkan…
Bilal, Ammar, keluarga Yasir..mereka kenyang
dengan siksaan dari para kafir,
Abu Dzar habis dipukuli karena meneriakkan
kalimat tauhid di pasar,
Ali mampu berlari 400 KM guna berhijrah di
gurun hanya sendirian,
Usman rela menginfakkan 1000 unta penuh makanan untuk perang Tabuk,
Abu Bakar hanya meninggalkan Allah dan
Rasul-Nya untuk keluarganya…
Umar nekat berhijrah secara terang terangan,
Huzaifah berani mengambil tantangan untuk menjadi intel di kandang musuh,
Thalhah siap menjadi pagar hidup Rasul di
Uhud, hingga 70 tombak mengenai tubuhnya,
Zubair bin Awwan adalah hawariinya rasul,
Al Khansa' merelakan anak2nya yang masih
kecil untuk berjihad,
Nusaibah yang walaupun dia wanita tapi tak
takut turun ke medan perang,
Khadijah sang cintanya rasul siap memberikan
seluruh harta dan jiwanya untuk islam, siap
menenangkan sang suami di kala susah..benar2
istri shalihah

Atau mari kita bicara tentang

📌Musa…mulutnya
gagap tapi dakwahnya tak pernah pudar…
ummatnya seburuk-buruknya ummat, tapi proses menyeru tak pernah berhenti…

📌atau Nuh, 900 tahun menyeru hanya
mendapat pengikut beberapa orang saja..bahkan
anaknya tak mengimaninya…

📌Ibrahim yang dibakar Namrud, Syu’aib yang
menderita sakit berkepanjangan tapi tetap menyeru…

📌Ismail yang rela disembelih ayahnya karena
ini perintah Allah…

Deretan sejarah di atas adalah SEBAIK-BAIKnya
guru dalam kehidupan kita...

Sekarang beranikah kita masih menyombongkan
diri bersama jalan dakwah yang kita lakukan saat
ini, mengatakan lelah padahal belum banyak
melakukan apa apa…bahkan terkadang… kita
datang menyeru dengan keterpaksaan, berat hati
kita, terkadang menolak amanah (untuk menjadi
TELADAN)

Kawan… dakwah kita hari ini hanya sebatas “itu2”
saja,
he he bukan untuk melemahkan…
tapi menguatkan karena ternyata yang kita
lakukan belum apa apa….

Hidupku adalah hari ini, bukan hari kemarin
ataupun esok.. aku akan BERBUAT SEMAKSIMAL
mungkin dalam aktivitasku demi mencapai
keridhoan Allah SWT...

Suksesku semata kupersembahkan untuk
KEJAYAAN ISLAM yg sangat kucintai.
Renungan bagi diriku...

Semoga bermanfaat juga untukmu kawan...
Barakallahu fiikum..

#KhilafahAjaranIslam #BanggabicaraKhilafah #HTILanjutkanperjuangan #IslamKaffahdenganKhilafah #Islamrahmatanlilalamin

Ulama anti Khilafah

*Ulama Al Azhar ini dicopot gelarnya dan dikeluarkan dari barisan ulama. Sebab, menolak Khilafah sbg sistem pemerintahan syar'iy*

Ali Abdul Raziq (1888-1966) mulai terkenal sejak dunia Islam dikejutkan oleh tindakan Mustafa Kemal mengenai penghapusan Pranata Khalifah (1924) yang sudah berjalan kurang lebih tiga belas abad lamanya. Ali Abdul Raziq mengemukakan sebuah teori mengenai pemisahan antara agama dan negara. Hal ini tertuang dalam karyanya yang berjudul Al-Islam wa Ushul Al-Hukum atau yang berarti Islam dan Dasar-dasar Pemerintahan. Buku ini membangkitkan respon yang cukup tajam dari benteng kaum Al-Azhar ortodoks yang akhirnya melepaskan Ali Abdul Raziq dari julukan ‘alim’ (status keagamaannya). Tidak hanya itu, hal ini juga memaksanya untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai Qadi dan membuatnya tidak diterima dengan baik di berbagai public office.

            Dalam bukunya, Identity Politics in The Middle East, Meir Hatina menjelaskan bahwa gagasan yang diusung oleh Ali Abdul Raziq di dalam karya kontroversialnya berisi dua hal; pertama, Rasulullah merupakan seorang spiritual bukan seorang pemimpin politik, peran sempitnya untuk menunjukkan firman Ilahi dan mencapai agama yang satu. Kedua, kekhalifahan bukanlah sesuatu yang bersifat esensi atau inti pada kaum muslim, sebab tak termasuk dalam bagian ajaran Islam. Ia menyadari bahwa Islam adalah agama spiritual tanpa pemerian atau sistem politik yang wajib. Muslim bebas mengekspresikan kesetiaan berpolitik dalam variasi banyak negara dan memutuskan kebangsaannya sebagai mana mereka memilih dan sesuai dengan tradisi di dunia moderen, yang bernama Demokrasi Barat. Buku itu juga membangkitkan respon yang tinggi dalam politik, agama dan komunitas intelektual pada saat itu, meski sebelumnya pernah ditolak oleh kalangan Elit Politik Mesir.

            Buku itu pun merupakan serangan langsung terhadap pembahasan Rasyid Ridha dalam bukunya yang berjudul Al-Khilafah au Al-Imamah Al-‘Uzhma. Namun demikian, Rasyid Ridha tampak berusaha kuat untuk membela sistem khilafah atau imamah sebagai kesatuan politik dunia Islam terutama dalam menghadapi imperialisme Barat.

       Ketika dunia Islam dikejutkan dengan tindakan Mustafa Kemal, Kairo sedang mempersiapkan Muktamar Khilafah yang akan diadakan pada tahun 1926, dan setiap negara Islam lebih memperhatikan kepentingan nasionalnya dalam menghadapi kelihaian politik penjajah. Sebab itulah, Ali Abdul Raziq mencuat dengan gagasan barunya yang dianggap radikal dan berseberangan dengan pendapat para ulama. Sejak itu, Al-Azhar selaku penyelenggara Muktamar Khilafah merasakan adanya ketidaksetiaan Ali Abdul Raziq yang sebenarnya termasuk dalam anggota Korps Ulama Al-Azhar. Maka pada tanggal 12 Agustus 1925, Ali Abdul Raziq resmi dipecat dari Korps Ulama Al-Azhar juga serta dari semua jabatan lainnya.

Di Negeri Sekuler itu

(Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar)
.
Para politisi berkata, "Kalau bicara politik, jangan bawa-bawa agama!"
Dan para kyai berkata, "Kalau forum agama, jangan bicara politik!"
.
Para ekonom berkata, "Krisis ini akibat ekspor turun dan impor naik"
Sedang para ulama berkata, "Ini semua karena riba dan minimnya zakat"
.
Para insinyur berkata, "Bencana ini semata-mata kegagalan teknologi"
Tapi para ustadz berkata, "Bencana ini semata-mata karena maksiat kita"
.
Para mahasiswa berkata, "Pantas gak nyambung, gatek sih"
Lalu para santri berkata, "Kalau bicara agama harus lulusan syari'ah"
.
Kapan dua alam ini akan berintegrasi?
.
Ketika tidak ada pemisahan antara alam agama dengan alam dunia?
.
Ketika bicara dunia sekaligus berakibat akherat, dan juga sebaliknya?
.
Ketika para politisi tidak phobi agama, dan para kyai tidak menjual agama?
.
Ketika para ekonom melek syari'ah dan para ulama mengerti ekonomi?
.
Ketika para insinyur tahu tawadhu' dan para ustadz paham persoalan?
.
Ketika para mahasiswa tidak takabbur, dan para santri tidak arogan?
.
Ternyata sekulerisme ada di kedua sisi, baik sisi yang merasa lebih tahu dunia, maupun sisi yang merasa lebih kenal akherat.
.
Padahal syariat itu diturunkan melalui para Nabi, agar manusia bahagia di dunia dan di akherat, tidak cuma salah satunya.
.
.
#UninstallJae
#SecularismEffect
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahJanjiAllah
#BanggaBicaraKhilafah
#IslamSelamatkanNegeri
#IslamRahmatanLilAlamin
#KhilafahWillRiseAgain
#FahmiAmhar
#Khilafah
#Syariah
#Politik
#Ekonomi
#Islam