Blogger Widgets

Selasa, 19 Februari 2019

Siapa Cinta Pertama Nabi Muhammad SAW

Cinta pertama Nabi Muhammad bukanlah Siti Khadijah. Melainkan seorang gadis asal suku Quraisy bernam Fakhitah. Siapakah gadis itu?

Waktu itu paman sekaligus pelindung nabi paling gigih, Abu Thalib, memiliki tiga orang putra dan beberapa orang putri. Beberapa ada yang sebaya dan menjadi teman sepermainan nabi seperti anak tetua Abu Thalib yang bernama Thalib, Aqil yang berusia  empat belas tahun dan Ja’far yang lebih muda.  Nabi senang bermain bersama mereka, ditambah mereka juga pribadi-pribadi yang cerdas.

Di antara anak-anak Abu Thalib ini ada salah satu yang menarik perhatian nabi.  Ia adalah  putri keempat Abu Thalib yang bernama Fakhitah ibn Abu Thalib atau yang kerap dipanggil dengan Ummu Hani’. Perasaan cinta pun tumbuh di antara mereka berdua.

Muhammad muda pun menemui pamannya itu. Beliau pun yakin bahwa perasaan cinta ini bukan main-main belaka. Beliau pun ingin meyakinkan Abu Thalib untuk segera menikahkan mereka berdua.  Lagi pula, keduanya juga telah mencapai usia nikah. Namun, Abu Thalib sudah punya rencana lain.

Jika saja waktu itu Muhammad datang lebih cepat menemui Abu Thalib, bisa jadi ceritanya akan lain. Ternyata, sebelum Muhammad datang menemui pamannya itu, Ummu Hani’ telah dilamar oleh seseorang.  Pria itu juga memiliki kemampuan yang istimewa di mata Abu Thalib dan tampak mencintai putri kesayangannya tersebut.

Pria itu bernama Hubayroh, putra saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum. Ia sendiri juga bukan sekadar pria yang kaya, tapi juga berilmu, bijak dan juga seorang penyair berbakat, sama seperti halnya Abu Thalib sendiri. Ditambah, kekuasaan bani Makhzum di Mekah demikian meningkat seiring dengan kian merosotnya kekuasan Bani Hasyim.

“Pamanku,” kata nabi,”mengapa kau tidak menikahkannya padaku?” tanyanya, lembut.

Tatkala keponakannya itu kembali mendekati, Abu Thalib hanya tersenyum dan menjawabnya,”Mereka telah menyerahkan putri mereka untuk kita nikahi.”

Perkataan itu merujuk pada ibunda nabi sendiri, Aminah ibn Wahab, yang juga merupakan gadis dari suku yang sama dengan Hubayroh.

“Maka, seseorang pria yang baik haruslah membalas kebaikan yang sama dengan apa yang telah mereka berikan pada kita,” tambah Abu Thalib.

Akhirnya, kepada pria tersebut Umm Hani’ dinikahkan.  Dan nabi menerima dengan lapang menerimanya. Beliau sadar bahwa Ummu  Hani’ memang bukan ditakdirkan oleh Allah untuk bersanding bersama dirinya. Bahkan, nabi berdoa untuk kebahagiaan mereka berdua.

Kelak, beliau akan menemukan perempuan tangguh yang sangat ia cintai. Sebuah cinta sejati. Dan cinta sejati itu bernama Khadijah. []

Umm Hani’ adalah sosok penting dalam sejarah Islam. Dari rumahnya, di bawah atap yang menjadi langit keluarganya, sebuah kemukjizatan pernah terjadi. Kediamannya yang penuh berkah menjadi saksi peristiwa Isra Mi’raj. Nabi Muhammad ﷺ datang ke rumah Umm Hani’, melakukan shalat malam lalu tidur di sana. Malam itu, rumah Ummu Hani’ dikunjungi malaikat paling mulia, Jibril ‘alaihissalam, untuk menjemput Nabi Muhammad ﷺ. Dari sanalah peristiwa Isra Mi’raj bermula. Perjalanan satu malam menuju Jerusalem dan Sidratul Muntaha dimulai. Saat fajar tiba, Nabi pun  kembali ke tempat yang sama. Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan Ummu Hani’ tetang perjalanannya. Ia pun mengimani sabdanya.

Sumber : Buku "Muhammad: His Life Based on The earliest Sources"  diterjemahan oleh Qomaruddin SF Muhammad (2013) dan Muhammad ibn Saad dalam  Kitab al-Tabaqat al-Kabir, vol. 8. Translated by Bewley, A. (1995), The Women of Madina.

HTI Membela Indonesia

Adakah yang Lebih Elegan Membela Indonesia Selain HTI ?

OLEH: Hasyim Bisri (Direktur Centra Politica)

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berdasar spektrum penulis, adalah organisasi ‘aneh’. Didiamkan malah agresif. Semakin dicegah malah membesar. Semakin dicaci malah semakin dirindu. Semakin difitnah malah semakin bersinar. Semakin dipressure malah semakin semakin kuat. Semakin dipersempit ruang geraknya justru semakin tangkas. Semakin dimonitor ketat malah opini idenya makin meluas. Dibentur-benturkan dengan NU, malah banyak internal NU yang membela. Ini ajaib.

Jelas, HTI secara sistematis sedang mengintensifkan proses menjelaskan dan memahamkan sistem Islam kepada segenap komponen masyarakat, terutama para tokoh, ulama dan seluruh elemennya. Dalam satu kesempatan saat ada demo HTI –seingat penulis- menolak kenaikan harga BBM, penulis ingin memuaskan naluri kepo in the point mendekat dan mengajak obrol santai dengan salah satu aktivis muda, katakanlah sebagai test case-lah apakah ini masa bayaran or not. Ketemu dengan aktivis mudanya perkiraan seumuran anak seusia SMA, dibalik (maaf) face-nya yang culun, anak kemarin sore banget. 

Dalam sebuah diskusi ringan, dan yang sangat berkesan bagi penulis dia berujar “Perubahan rezim saja tidak cukup Pak, tetapi harus disertai perubahan sistem. Sistem ideologi kapitalisme dengan sistem politik demokrasi dan sistem ekonominya telah sama-sama kita lihat dan rasakan kegagalannya dan penuh kebobrokan. Saatnya kita ganti dengan sistem Islam yang berasal Allah yang Mahaadil dan Bijaksana”. So what? Kalimat yang teratur dan politis mengucur luwes dari lidah anak yang seharusnya masih sukak galau ini. Mantap.

Menarik dan penulis excited dengan gaya HTI yang tampilan para aktivisnya slow, tapi kalau sudah ngomong politik argumentasinya sulit dipatahkan. Ibarat kita akan membangun bangunan baru, HTI pantas menggantikan bangunan lama yang sudah berkarat, maka desain bangunan baru itu harus dirancang dan digambarkan.

Begitu pula mewujudkan perubahan, maka sistemnya harus digambarkan desainnya. Ini sangat penting, karena tanpa gambar desain itu bisa jadi akan salah bangun dan tak akan terwujud bangunan yang diidamkan.

Hingga sekarang, penulis mengamati bahwa HTI berupaya mati-matian menggambarkan kepada masyarakat tentang desain sistem Islam itu baik Sistem Pemerintahannya, Struktur Pemerintahan dan Admistrasi, Sistem Ekonomi Islam, Sistem Pergaulan Islam, Keuangan di Negara Khilafah, Sistem Pidana dan Sanksi, Hukum-hukum Pembuktian, dsb, sehingga siap pakai dan siap bangun melalui berbagai media-media dakwahnya. Para aktivisnya cukup smart dalam publikasi berbagai tulisan di berbagai sosmed untuk sosialisasi ide-idenya.

Memang, demokrasi liberal dan demokrasi multi partai di Indonesia memberi kebebasan bersuara sebenar dan sesesat apapun. Setelah menelaah bahwa makin kesini, slogan sistem demokrasi sebagai pilar pembangunan politik dan kemajuan ekonomi bagi Indonesia sangat mudah dipatahkan oleh berbagai argumentasi HTI baik secara face to face maupun lewat tulisan.

Dan fakta unik, dalam diamnya ternyata masyarakat tak lagi sungkan mengharapkan bangkitnya Islam politik, dan jelas didalamnya ada kiprah yang sentral dari HTI dalam keberhasilannya mentransfer konsepnya yang original kepada khalayak.

Berdasarkan Survey SETARA Institute yang diumumkan pada 29 November 2010, respon yang mengingingkan syariah Islam dijadikan sebagai dasar negara (35,3%) dan penegakan Khilafah (34,6 %) cukup besar. Meskipun yang menolak syariah  menjadi dasar negara lebih besar (50,2% ), demikian pula yang menolak Khilafah lebih besar (49,2%) . Angka-angka yang cukup tinggi ini sejalan dengan berbagai hasil survey dari lembaga-lembaga lain yang menunjukkan ada keinginan besar dari masyarakat untuk menegakkan syariah Islam.

Secara fantastis, survey SEM Institute (2014) menyebut angka 72 % masyarakat Muslim Indonesia menginginkan syariat Islam sebagai sistem negara. Perkembangan bangkitnya Islam politik yang terus meningkat membuktikan bahwa media-media mainstream tidak mampu membalikkan dan membelokkan pikiran masyarakat. Ternyata masyarakat muslim sedang menyimpan ‘sesuatu’ keinginan yang ditahan-tahan. Membendung HTI jelas sia-sia, malah bisa jadi blunder bagi negeri ini.

Dalam perspektif warna-warni kondisi, hampir semua dari kita harus bekerja keras untuk mendapatkan sebungkus makanan, sementara para politisi memakan gaji dan tunjangan yang fantastik. Banyak orang menderita kelaparan di negeri yang memiliki sumber daya luar biasa ini. Dan pada saat yang sama, mungkin sebagian dari Anda tidak dapat tidur tenang dengan setumpuk masalah ekonomi.

Lebih buruk lagi, kita dipaksa membayar beban pajak untuk kepentingan para politisi yang malah membangkang untuk membayar pajak! Setiap hari Anda melihat komisi baru dibentuk menghambur-hamburkan uang rakyat dengan dalih memerangi korupsi, untuk bisa menyentuh dasar skandal Panama Papers, menjamin pemilu yang bersih, dan lain sebagainya, bla..bla..bla..

Secara reality dan baper juga, kita sudah lelah dengan problem-problem itu. Telinga kita sudah tertutup hampir meledak mendengar kebohongan para politisi. Mata kita telah lelah menyaksikan darah yang tertumpah demi kepentingan para politisi itu. Adalah jelas bahwa kita memerlukan jalan keluar secara radikal dan komprehensif. Sudah jelas bahwa Anda memerlukan konstitusi baru yang memberikan panduan yang benar untuk menyelesaikan krisis-krisis itu. Di tataran praktis demokrasi memang selalu deadlock.

Tentu saja kita memerlukan pemerintahan yang lebih baik yang memenuhi kebutuhan semua orang dari pada pemerintahan yang bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sekelompok kecil kaum elit. Dan lebih penting lagi, kita perlu mengadopsi ideologi yang smart untuk merealisasi kehidupan yang jauh dari pragmatisme dan modernisme yang dipaksakan oleh asing kepada kita. Bisa jadi HTI sudah tahu kunci jawaban lengkapnya untuk kita contek segera!

Adakah yang Lebih Elegan Membela Indonesia Selain HTI ?"

Tipe2 pengemban ide

Tiga Tipe Penyebar Ide: Karena Aktivis Dakwah Tidak Harus "Pintar"
.
.
Dalam bukunya Tipping Point, Malcolm Gladwell menjelaskan ada 3 tipe penyebar ide:
.
1. Tipe Connector. Dia adalah orang yang punya jaringan, banyak teman, terhubung dengan sejumlah besar orang di satu atau lebih komunitas. Dia orang yg senang berteman.
.
2. Tipe Maven. Orang pintar, berilmu, gudang informasi. Pandai menjelaskan.
.
3. Tipe salesman. Ini ujung tombak marketing.
Pintar persuasi. Jago negosiasi. Pandai mengajak orang. Tipe perayu sejati.
.
Dalam penyebaran ide, ketiga tipe ini tidak bekerja sendiri2. Mereka saling melengkapi. Mari kita lihat dalam konteks dakwah kekinian.
.
Orang2 connector banyak teman, tapi mungkin tidak pandai mengajak. Maka ia minta orang salesman membantu dia.
.
Salesman yg mungkin teman2nya tidak banyak, dihubungkan oleh connector ke teman2nya. Bekerjalah si salesman ini, mengontak! Ia mempersuasi, menjelaskan ttg islam dan dakwah.
.
Mungkin tidak sepintar orang maven, tapi yg penting membangun ikatan, dialog, dan "kepenasaran". Dan yang penting, sang salesman ini mengajak. "Ayo ke kajian, ayo ke dauroh. Saya mungkin tidak terlalu pintar menjelaskan ini, tapi nanti di kajian ada ustadz yang bisa menjelaskan."
.
Dibawalah si kontakan ke majelis sang ustadz. Dialah tipe maven. Dia mungkin tidak punya jaringan yg luas, mungkin tidak pintar mengajak, tapi dia gudang tsaqofah. Dia mampu jelaskan islam secara ilmiah hingga si kontakan ini pun tercerahkan.
.
Begitulah dakwah bekerja. Apakah semua nya harus jadi maven? Tentu tidak kan.. .
By: Reza Ageung
.
#dakwah #pejuangkhilafah #aktivis #hijab #muslim #niqab #hijrah #duniajilbab #hijrah

ISLAM ITU FULL OF SISTEM


_______________________________
Oleh : Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum.

Saya mencoba mengkritisi pernyataan Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Mahfud MD yang  menegaskan bahwa Islam sebenarnya tidak mengenal khilafah sebagai sistem bernegara. Hal itu disampaikannya dalam rangkaian acara Jelajah Nusantara 2019 bertemakan 'Merawat Moderasi Agama' saat singgah di Stasiun Cirebon, Jawa Barat. Benarkah begitu reasoning dan realitas sejarah peradaban Islam?

Menciptakan negara tetapi tidak menciptakan SISTEM? Rasulullah mendirikan negara Madinah tanpa sistem?
Tidak ada sistem pemerintahan? Bukankah Nabi juga kepala negara? Apakah Madinah itu sekelas RT?

Tidak ada sistem diplomasi negara lain? Apakah tdk melihat sejarah bagaimana nabi mengirim utusan ke Rum, ke Persia dll?

Tidak ada sistem perekonomian? Apakah pengelolaan zakat itu bukan sistem perekonomian?

Tidak ada sistem hukum? Apakah nabi menghukum warganya semena-mena? Tanpa sistem? Tanpa prosedur? Bgm orang berperkara? Apa itu saksi? Bagaimana menjatuhkan sanksi tidak diatur?

Semunya sudah ada bukan? Apakah itu bukan sistem? Tanpa keteraturan? Benar memang pada saat Nabi tidak ada khalifah karena Nabi sendiri yang memimpin negara. Namun, setelah nabi wafat, sistem pemerintahan baru mesti diadakan. Tidak menganut sistem demokrasi, otokrasi, kerajaan atau yang lain melainkan sistem yang kemudian bisa diindentifikasi sebagai SISTEM KHILAFAH. Sebuah sistem berpemerintahan yang memiliki karakteristik tersendiri dan itu berjalan mulai dari khulafaur rasyidin hingga berakhir kekhalifahan Islam Utsmani pada tanggal 3 Maret 1924.

Masa kekhalifahan Islam membentang dlm kurun waktu sekitar 1300 tahun. Apakah mungkin sebuah ajaran berpemerintahan bisa bertahan hingga ratusan tahun bila tidak didukung dengan SISTEM yang mapan? Baiklah, sistem itu tentu memiliki hal inti atau CORE OF THE CORE ada pula bagian kulit, cabang dan ranting. Itu tidak masalah. Variasi pelaksanaannya bisa jadi berbeda antara kurun waktu yang ada. Namun, satu hal yang mendasar yakni, dipakainya HUKUM ALLOH sebagai HUKUM UTAMA dalam menjalankan kehidupan bernegara, bukan hukum-hukum bentukan manusia sendiri yang menjauh dari hukum Alloh.

Sama dengan sistem pemerintahan yang bernama DEMOKRASI yang kita anut sekarang bukan? Pernah kita pakai demokrasi terpimpin, presidensiil, parlementer, Pancasila, demokrasi liberal seperti sekarang ini.  Hukum yang dipakai sistem demokrasi adalah hukum ciptaan manusia sendiri yang seringkali meminggirkan hukum Alloh bahkan untuk hal-hal yang sifatnya mendasar.

Dalam negara demokrasi cenderung mengikuti pola sekular sekalipun negera itu MENDEKLARASIKAN SEBAGAI NEGARA HUKUM YANG BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA.  Bahkan mengikuti pola pembentukan hukum yang oleh Thomas Aquinas sendiri katakan pun dicurigai sebagai gerakan RADIKAL. Padahal, Thomas Aquinas menyatakan bahwa Human Law itu harus bersumber pada Devine Law (Kitab-kitab Suci) dan Natural Law (Moral dan Ethic). Jadi seharusnya KITAB SUCI itu DI ATAS KONSTITUSI. Dengan perkataan lain Konstitusi tidak boleh bertentangan dengan Kitab Suci. Itulah nalar berpikir yang lurus. Pertanyaannya adalah: Kita mau mengikuti yang mana dalam MENEGARA ini? Mau mengikuti jalan Tuhan yang sudah dijamin KEBENARANNYA, atau kita ikuti jalan manusia yang patut "DIRAGUKAN" kebenarannya karena dipenuhuli oleh kepentingan nafsunya?

Sistem, Islam diturunkan oleh Alloh sebagai agama yang paling sempurna, lengkap pengaturannya mulai dari kehidupan pribadi hingga kehidupan negara. Mulai dari kepentingan privat hingga kepentingan publik negara, bahkan semua diarahkan untuk VISI AKHIR KEHIDUPAN yakni KAMPUNG AKHERAT. Dan semua itu sudah dan akan diatur melalui sistem pemerintahan untuk menjamin ketercapaiannya. Sejarah membuktikan adanya sistem itu, tidak lain adalah SISTEM KHILAFAH. Terlepas dari setuju dan tidak setujunya kita terhadap sistem itu, pantaskah sebagai umat Islam kita mengingkari REALITAS SEJARAH nyata di bumi Alloh ini?

Masih ragu, Islam tidak memiliki SISTEM PEMERINTAHAN? Mari kita periksa detak jantung kita, masihkah berdetak dan yakinkan bahwa detak itu diatur pula oleh Alloh dengan segala sistem metabolisme yang melibatkan jutaan hingga milyaran sel pendukung sistem?

Tabik #SalamAkalSehat

Minggu, 06 Januari 2019

YA SYAIKH NASJO, APA FATWA ANDA UNTUK PEMILU DAN PILPRES 2019 ?

Oleh: Nasrudin Joha

Ada banyak persoalan di negeri ini, diantaranya -bahkan ada yang menganggap semuanya- akan selesai dengan proses politik coblos-coblosan dengan mengikuti pemilu (baik Pileg, Pilsen, dan Pilpres). Karenanya, Nasrudin Joha perlu mengeluarkan 'fatwa pemilu' agar Bani Nasjo (sebutan untuk penggemar tulisan Nasrudin Joha) tidak tersesat dan salah dalam menentukan amal.

Perlu untuk diketahui, tahun ini (2019) adalah tahun dimana untuk pertama kalinya terjadi Kodifikasi Rezim Pemilu. Maksudnya, pemilihan legislatif (DPR) baik tingkat pusat dan daerah, pilihan senator (anggota DPD) dan pilihan Presiden dan wakil Presiden dilaksanakan secara serentak dan bersamaan. Jadi, selain memilih caleg, calsen, pemilih juga diminta untuk memilih capres/cawapres.

Pemilu itu merepresentasikan satu aspek saja, yakni memilih calon pemimpin, calon pejabat politik, baik untuk menjadi Presiden, wakil presiden, anggota DPR dan anggota DPD. Jadi, tidak ada dalam pemilu pilihan untuk menerapkan sistem, semua pemimpin dalam pemilu dipaksa untuk menerapkan sistem sekuler demokrasi.

Maksudnya, siapapun yang terpilih, baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik dari parpol Islam maupun parpol sekuler, baik untuk menjadi Presiden, wakil Presiden, anggota DPR dan anggota DPD, kesemuanya wajib tunduk, taat dan patuh pada kedaulatan rakyat, sebagai substansi sistem politik Demokrasi.

Sistem politik demokrasi, telah menjadikan suara rakyat (kedaulatan rakyat) sebagai sumber hukum. Karena itu, didalam sistem Demokrasi, proses legislasi tidak pernah menjadikan Alqur'an, As Sunnah, serta apa yang ditunjuk oleh keduanya baik Ijma' Sahabat maupun Qiyas Syar'i, sebagai sumber hukum. Untuk itu bisa dipastikan, bahwa siapapun yang terpilih melalui pemilu baik untuk menjadi Presiden, wakil Presiden, anggota DPR dan anggota DPD, kesemuanya tidak diakadkan untuk menerapkan hukum Islam.

Namun juga perlu diketahui, bahwa era pemerintahah di rezim zalim Jokowi dengan dukungan partai-partai pro penista agama, perlu untuk mendapatkan perhatian lebih agar umat ini tidak terperosok dalam kepemimpinan politik yang zalim untuk kedua kalinya. Diatas dasar manath politik (fakta politik) yang demikian, terkadang umat menjadi galau untuk menetapkan keputusan, untuk menghindari kekufuran semuanya, atau mengambil sebagian pilihan maslahat berdasarkan dugaan pribadinya, dalam mengikuti pemilu 2019.

Karena Nasjo hanya berjuang untuk Islam, menjadikan Islam sebagai asas sekaligus pedoman perjuangan, maka pendapat dan ijtihad politik Nasjo adalah sebagai berikut :

Pertama, Nasjo tidak merekomendasikan kepada siapapun untuk menjadi sebab langgengnya sistem politik demokrasi sekuler, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik terlibat aktif maupun pasif, karena tindakan seperti ini selain haram juga akan memperlambat proses revolusi Islam. Revolusi perubahan hakiki, yang akan menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, Nasjo menyeru dirinya atau siapapun yang secara sukarela menisbatkan dirinya sebagai Bani Nasjo, atau siapapun yang 'tercerahkan' dengan untaian kata dan tulisan Nasjo, secara total dan keseluruhan, mengharamkan memilih pemimpin represif dan anti Islam, haram memilih capres Jokowi, haram juga memilih partai partai pendukung kezaliman Jokowi, haram pula memilih semua caleg dan calsen, yang mendukung kezaliman Jokowi.

Ketiga, Nasjo tetap mendorong kepada siapapun, baik kepada dirinya atau kepada siapapun yang secara sukarela menisbatkan dirinya sebagai Bani Nasjo, untuk tetap Istiqomah berjuang menegakkan Islam kaffah. Sebab, hanya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah, akan menjadi jaminan kemaslahatan bagi umat baik didunia maupun diakherat.

Demikian fatwa politik Nasrudin Joha menjelang pemilu 2019. Siapapun, yang mengikuti fatwa ini InsyaAllah selamat. Dan tentu saja, Nasjo berlepas diri dari siapapun yang tetap Istiqomah dijalan kekufuran setelah jelas petunjuk cahaya yang datang dari Allah SWT. [].

Bacaan yg kaya akan nutrisi ilmu

KALA PENGADILAN MEMVONIS POTONG TANGAN SULTAN MUHAMMAD AL FATIH
(Keadilan dan Kesetaraan Hukum pada Sistem Khilafah)

Sultan Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel, divonis oleh Mahkamah Syariat agar tangannya dipotong. Vonis itu dikeluarkan oleh qadhi, karena Sultan Al Fatih memerintahkan memotong tangan seorang insiyur Romawi. Sultan Al Fatih mematuhi perintah pengadilan itu. Bagaimana ceritanya?

Sultan Al Fatih secara nyata membuktikan kebenaran Hadist Rasulullah akan takluknya Konstantinopel pada tahun 1453. Penaklukkan itu membuat gempar seantero dunia.
Sultan Al Fatih kemudian mengubah Konstantinopel menjadi pusat ibukota Utsmaniyah. Selama kepemimpinan Sultan Al Fatih, Utsmaniyah mencapai puncaknya. Kehidupan berjalan baik dan maju. Namun hasrat Sultan Al Fatih untuk terus menaklukkan tak terhenti. Bahkan dia sempat merangsek menuju kota Roma. Hal inilah yang membuat penguasa Roma, mengungsi dari singgasananya.

Kepemimpinan Sultan Al Fatih di dalam negeri bisa dibilang cukup adil. Hukum yang diterapkan benar-benar berwibawa. Malah dia sendiri sempat divonis bersalah hukuman potong tangan oleh Mahkamah al Isti'naf (pengadilan) diera itu.

Kasusnya bermula ketika Sultan Al Fatih berniat mendirikan sebuah masjid Jami di kota Islambol itu. Dia kemudian menugaskan seorang Insinyur Romawi, Epsalanti, untuk memimpin dan mengawasi proyek pembangunan Masjid itu. Epsalanti memang dikenal insinyur yang mumpuni.

Salah satu perintah Sultan, bahwa tiang-tiang masjid Jami itu mesti dibuat dari bahan marmer. Tiang-tiang itu juga harus dibuat tinggi, agar masjid Jami' bisa dilihat dari berbagai penjuru. Sultan Al Fatih pun menentukan batas ketinggian yang harus dicapai itu. Perintah itu langsung ditujukannya kepada Epsalanti tadi.

Akan tetapi dalam pembangunannya, Epsalanti malah memotong tiang-tiang itu. Hingga ketinggian tiang Masjid Jami' itu tak seperti yang dipesan oleh Sultan. Epsalanti bersikap demikian karena suatu sebab. Ketika Sultan mengetahui hal itu, dia marah besar. Epsalanti dianggap melakukan pencurian karena mengurangi ketinggian tiang-tiang tadi. Sultan Al Fatih pun memerintahkan agar tangan Epsalanti dipotong.

Ternyata keputusan itu langsung dieksekusi. Tangan Epsalanti dipotong. Pasalnya tiang-tiang yang sudah dibawa dari tempat yang jauh, menjadi tak berguna sama sekali. Perintah potong tangan itu dikeluarkan Sultan Al Fatih dalam keadaan emosi dan marah.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Tangan Epsalanti sudah terpotong. Sultan Al Fatih pun sempat menyesali keputusannya itu. Karena dianggapnya perintah itu terlalu berlebihan.

Namun di mata Epsalanti, tindakan Sultan itu sudah kelewatan. Itu sudah dianggap sebuah kedzaliman, begitulah pandangan Epsalanti. Alhasil dirinya pun mengadukan Sultan Al Fatih kepada Mahkamah Al Isti'naf itu.

Di Mahkamah itu ada seorang qadhi yang dikenal adil. Namanya Syaikh Shari Khidr Jalabi. Dialah yang kemudian mengadili kasus ini. Qadhi Syakh Shari Khidr Jalabi kemudian mengutus orang untuk memanggil Sultan Al Fatih untung datang ke pengadilan. Karena, walau sebagai Sultan, Al Fatih mendapat aduan dari seorang rakyatnya yang menuntut keadilan.

Mendapat panggilan dari qadhi, Sultan tak ragu menghadiri pengadilan itu. Ketika hari persidangan, Sultan Al Fatih pun masuk ke ruangan sidang. Sultan Al Fatih kemudian duduk di barisan tempat duduk yang disediakan. Tapi sikap Sultan itu kemudian dihardik oleh qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi.

"Anda tidak boleh duduk, Tuan!" hardik sang Qadhi, tanpa ragu. Sultan Al Fatih terkejut. Dia terdiam.

"Engkau harus tetap berdiri di samping lawan engkau itu," tegas Qadhi lagi.

Sultan Al Fatih pun menurut. Sosok yang begitu disegani oleh belantara Eropa, diam seribu bahasa didepan sang Qadhi. Karena Al Fatih sangat mematuhi hukum Islam.

Kemudian Sultan Al Fatih berdiri berjejer dengan Epsalanti itu. Sang Insiyur itu kemudian membeberkan kedzaliman yang telah diterimanya itu. Ketika giliran Sultan berbicara, Al Fatih mendukung apa yang telah dijelaskan oleh sang Insiyur. Dia tak membantahnya.

Setelah Sultan Al Fatih selesai bicara, ia pun diminta berdiri. Qadhi Syakh Shari Khidr Jalabi berpikir sejenak. Tidak lama kemudian Qadhi itu mengeluarkan vonisnya untuk Sultan Al Fatih.
"Berdasarkan aturan-aturan Syariat, maka tangan Engkau juga harus dipotong sebagai bentuk qishash, wahai Sultan!"

Yang terkejut justru sang insinyur ketika mendengarkan putusan itu. Dia tak menyangka, seorang Sultan Islam, yang menunjuk Qadhi itu sebagai hakim, malah dikenakan hukuman potong tangan oleh qadhi itu sendiri.

Tubuh Epsalanti sampai bergetar mendengar putusan qadhi itu, atas kasus yang dilaporkannya. Sultan Al Fatih hanya terdiam sembari berdoa. Epsalanti sama sekali tak menyangka vonis seperti itu yang bakal dikeluarkan oleh qadhi. Padahal niat awal Epsalanti adalah dia menuntut ganti rugi karena tangannya telah dipotong.

Epsalanti kemudian bangkit. Dengan suara gemetar, tercekak dan terbata-bata, dia malah memutuskan untuk menarik kasusnya itu.

"Saya tak menyangka hasilnya seperti ini, saya memutuskan untuk menarik pengaduan saya terhadap Sultan," tutur Epsalanti terbata-bata. Padahal Sultan Al Fatih sudah sangat menerima putusan itu. Karena hal itu merupakan konsekwensi yang harus ditegakkan bagi seorang muslim.

Epsalanti pun berujar lagi bahwa sesungguhnya dia berharap adanya ganti rugi belaka atas kasus yang dialaminya. Karena dia beralasan memotong tangan Sultan Al Fatih sama sekali tak member manfaat buat dirinya.

Karena permintaan Epsalanti yang seperti itu, Qadhi pun memutuskan agar Sultan Al Fatih membayarkan 10 keping Dinar kepada Epsalanti, sebagai ganti rugi atas memotong tangannya. 10 Dinar itu mesti dibayarkan Sultan Al Fatih setiap bulan kepada Epsalanti. Begitulah hukuman itu dijatuhkan.

Namun Sultan Al Fatih memutuskan untuk membayar 20 Dinar setiap hari sepanjang hidupnya kepada sang insinyur itu. Hal itu dilakukan Sultan Al Fatih sebagai hadiah atas ungkapan kegembiraannya karena lolos dari hukuman qishash dan bentuk penyelesaiannya atas kasus itu.

Begitulah sistem peradilan Islam. Kisah keadilan seperti ini tentu sangat muskyl ditemui dalam sistem hukum yang tak merujuk pada Al Quran dan As Sunnah.

Sumber: Kitab Rawai' min at-Tarikh al-'Usmani.

Aku iri melihat pejuang KHILAFAH

AKU IRI MELIHAT PEJUANG KHILAFAH
Oleh: Nasrudin Joha

Hatinya ridlo dengan ketetapan Tuhan-Nya, jiwanya tenang sebab keyakinan atas janji-Nya, fikirannya tenteram menapaki thariqoh jalan perjuangan yg telah dicontohkan Nabinya. Ia berdiri Tegap, melangkah mantap, tidak terusik dengan gemerlapnya dunia, tidak berpaling karena remah-remah kekuasaan yang menipu, visinya jelas, meraih ridlo-Nya, misinya tegas : melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan hukum Allah SWT melalui penegakan institusi daulah Khilafah.

Ia tidak pernah merasa kecil karena celaan, tidak pula lupa daratan karena pujian. Dihadapannya, ada dua keutamaan yang selalu menambah perbendaharaan pahala. Sabar dalam ujian dan syukur atas karunia-Nya.

Lisannya ringan menyampaikan kebenaran, ujarannya tegas membongkar makar penguasa antek dan para begundalnya. Dia tidak memiliki kepentingan akan dunia, maka siapapun yang ingin membelokan jalannya niscaya kecewa dan mendapati kegagalan.

Pikirannya terikat dengan ruh, kesadaran akan hubungannya dengan Allah SWT. Ia sadar, dirinya adalah makhluk, Allah SWT selalu mengawasinya, tidak ada satupun urusan hingga sebesar biji sawi, kecuali Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban.

Atas kesadaran Ruh, dirinya selalu terikat dengan syariat. Baik sendiri maupun bersama yang lain, baik saat suasana ramai atau didalam keheningan, baik saat dirundung duka nestapa atau dalam bingkai kebahagiaan, ia selalu sadar bahwa hidup berasal dari Allah, didunia mengabdi kepada Allah, dan kelak pasti kembali kepada Allah.

Ia tegar menapaki jalan perjuangan, menegakkan daulah Khilafah kedua yang dijanjikan, menyongsong Nasrulloh, mengembalikan kejayaan Islam, mengembalikan kemuliaan kaum muslimin.

Pejuang Khilafah, tidak pernah merasa resah. Ia ridlo dengan apa yang telah ditetapkan Tuhan-Nya. Ia tidak tergiur, dengan gemerlapnya godaan kekuasaan, tawaran untuk berhimpun dan berbagi kekuasaan dalam sistem demokrasi sekuler.

Seluruh kelapangan atau kesempitan hidup, bukanlah sebab yang membuatnya bersemangat atau melemah. Seluruh urusannya, telah diserahkan pada Tuhan-Nya. Ia berfokus menolong Agama Allah, sedang urusannya telah diserahkan kepada Allah sebaik-baik pemberi pertolongan.

Is berjuang bukan hanya untuk dirinya, Ia berjuang untuk anak, istri dan keluarganya. Ia memburu Syahid dan berharap bisa mengajak 70 anggota keluarganya menuju surga.

Pejuang Khilafah tidak takut pada kelaparan, kemiskinan dan kematian. Kematian, adalah janji dari Tuhan-Nya. Pintu, menuju gerbang surga yang telah dihamparkan.

Saat kematian menjemput, malaikat tersenyum gembira menyambutnya. Seraya berkata :

"Duhai jiwa yang engkau ridlo pada Rabbmu dan Tuhanmu pun telah meridloimu. Kembalilah pada ridloNya dan kebahagiaan abadi. Surga telah dihamparkan, untukmu dan keluargamu sebagai balasan atas keteguhan iman dan pengorbanan".

Ya, demikianlah hakekat perjuangan bagi pemburu ridlo Illahi. Sesungguhnya, kehidupan didunia laksana taman-taman surga baginya.

Ia tegar, sabar, dan terus Istiqomah melakukan pembinaan umat, membongkar makar penguasa jahat dan para anteknya, serta berfokus membangun koalisi umat - militer, untuk serius dan sungguh-sungguh menegakkan kedaulatan syara', menegakan daulah Khilafah.

Demikianlah, bagi siapa saja yang mencoba menghalangi pejuang Khilafah pasti akan kalah dan binasa. Bagi siapa saja yang mencoba membelokkan arah perjuangan dengan iming-iming dunia, pasti akan sia-sia.

Karenanya, bagi siapa yang iri dan ingin menjadi bagian pejuang Khilafah, mendekatlah, bergabunglah. Sungguh, tenggat waktu perjuangan sebelum berdirinya Khilafah tinggal sedikit lagi, jangan sampai Anda menjadi pejuang Khilafah, padahal Khilafah sudah tegak berdiri. [].