Blogger Widgets

Minggu, 06 Januari 2019

Aku iri melihat pejuang KHILAFAH

AKU IRI MELIHAT PEJUANG KHILAFAH
Oleh: Nasrudin Joha

Hatinya ridlo dengan ketetapan Tuhan-Nya, jiwanya tenang sebab keyakinan atas janji-Nya, fikirannya tenteram menapaki thariqoh jalan perjuangan yg telah dicontohkan Nabinya. Ia berdiri Tegap, melangkah mantap, tidak terusik dengan gemerlapnya dunia, tidak berpaling karena remah-remah kekuasaan yang menipu, visinya jelas, meraih ridlo-Nya, misinya tegas : melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan hukum Allah SWT melalui penegakan institusi daulah Khilafah.

Ia tidak pernah merasa kecil karena celaan, tidak pula lupa daratan karena pujian. Dihadapannya, ada dua keutamaan yang selalu menambah perbendaharaan pahala. Sabar dalam ujian dan syukur atas karunia-Nya.

Lisannya ringan menyampaikan kebenaran, ujarannya tegas membongkar makar penguasa antek dan para begundalnya. Dia tidak memiliki kepentingan akan dunia, maka siapapun yang ingin membelokan jalannya niscaya kecewa dan mendapati kegagalan.

Pikirannya terikat dengan ruh, kesadaran akan hubungannya dengan Allah SWT. Ia sadar, dirinya adalah makhluk, Allah SWT selalu mengawasinya, tidak ada satupun urusan hingga sebesar biji sawi, kecuali Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban.

Atas kesadaran Ruh, dirinya selalu terikat dengan syariat. Baik sendiri maupun bersama yang lain, baik saat suasana ramai atau didalam keheningan, baik saat dirundung duka nestapa atau dalam bingkai kebahagiaan, ia selalu sadar bahwa hidup berasal dari Allah, didunia mengabdi kepada Allah, dan kelak pasti kembali kepada Allah.

Ia tegar menapaki jalan perjuangan, menegakkan daulah Khilafah kedua yang dijanjikan, menyongsong Nasrulloh, mengembalikan kejayaan Islam, mengembalikan kemuliaan kaum muslimin.

Pejuang Khilafah, tidak pernah merasa resah. Ia ridlo dengan apa yang telah ditetapkan Tuhan-Nya. Ia tidak tergiur, dengan gemerlapnya godaan kekuasaan, tawaran untuk berhimpun dan berbagi kekuasaan dalam sistem demokrasi sekuler.

Seluruh kelapangan atau kesempitan hidup, bukanlah sebab yang membuatnya bersemangat atau melemah. Seluruh urusannya, telah diserahkan pada Tuhan-Nya. Ia berfokus menolong Agama Allah, sedang urusannya telah diserahkan kepada Allah sebaik-baik pemberi pertolongan.

Is berjuang bukan hanya untuk dirinya, Ia berjuang untuk anak, istri dan keluarganya. Ia memburu Syahid dan berharap bisa mengajak 70 anggota keluarganya menuju surga.

Pejuang Khilafah tidak takut pada kelaparan, kemiskinan dan kematian. Kematian, adalah janji dari Tuhan-Nya. Pintu, menuju gerbang surga yang telah dihamparkan.

Saat kematian menjemput, malaikat tersenyum gembira menyambutnya. Seraya berkata :

"Duhai jiwa yang engkau ridlo pada Rabbmu dan Tuhanmu pun telah meridloimu. Kembalilah pada ridloNya dan kebahagiaan abadi. Surga telah dihamparkan, untukmu dan keluargamu sebagai balasan atas keteguhan iman dan pengorbanan".

Ya, demikianlah hakekat perjuangan bagi pemburu ridlo Illahi. Sesungguhnya, kehidupan didunia laksana taman-taman surga baginya.

Ia tegar, sabar, dan terus Istiqomah melakukan pembinaan umat, membongkar makar penguasa jahat dan para anteknya, serta berfokus membangun koalisi umat - militer, untuk serius dan sungguh-sungguh menegakkan kedaulatan syara', menegakan daulah Khilafah.

Demikianlah, bagi siapa saja yang mencoba menghalangi pejuang Khilafah pasti akan kalah dan binasa. Bagi siapa saja yang mencoba membelokkan arah perjuangan dengan iming-iming dunia, pasti akan sia-sia.

Karenanya, bagi siapa yang iri dan ingin menjadi bagian pejuang Khilafah, mendekatlah, bergabunglah. Sungguh, tenggat waktu perjuangan sebelum berdirinya Khilafah tinggal sedikit lagi, jangan sampai Anda menjadi pejuang Khilafah, padahal Khilafah sudah tegak berdiri. [].

Keteguhan Prinsip

"SAYA TAK MENYESAL..!!"
INILAH KATA-KATA TERAKHIR UMAR MUKHTAR, SEORANG ULAMA SEJATI YANG MEMBELA AGAMA & TANAH KELAHIRANNYA

UMAR Mukhtar, dijuluki oleh Barat sebagai “Lion of the Desert”, Mujahidin Libya, memimpin jihad melawan penjajah Italia pada tahun 1920-1930-an. Dia berusia 70 tahun, ketika ia menderita luka parah, dan ditawan oleh penjajah.

Sebuah dialog di pengadilan kafir pada tahun 1931, antara “hakim” dan Umar Mukhtar.

Hakim: “Apakah Anda melawan negara Italia?”

Umar: “Ya.”

Hakim: “Apakah Anda mendorong orang untuk berperang melawan Italia?”

Umar: “Ya.”

Hakim: “Apakah Anda menyadari hukuman untuk apa yang Anda lakukan?”

Umar: “Ya.”

Hakim: “Selama berapa tahun Anda melawan Italia?”

Umar: “Sudah selama 20 tahun.”

Hakim: “Apakah Anda menyesal atas apa yang telah Anda lakukan?”

Umar: “Tidak.”

Hakim: “Apakah Anda menyadari bahwa Anda akan dieksekusi?”

Umar: “Ya.”

Hakim: “Ini merupakan akhir yang suram bagi orang seperti Anda.”

Mendengar kata-kata ini, Umar Mukhtar menjawab:

“Sebaliknya, ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri hidup saya!”

Hakim kemudian ingin membebaskannya dan mendeportasinya dari negara itu jika ia mau mengajak Mujahidin dalam sebuah pernyataan untuk menghentikan Jihad. Kemudian Umar Mukhtar mengatakan kata-katanya yang terkenal:

“Jari telunjuk saya, yang mengakui dalam setiap ibadah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, tidak bisa menulis kata-kata dusta, kami tidak menyerah, kami menang atau mati!”

Umar Mukhtar menemui kesyahidan-nya di tiang gantung.

Inilah contoh sikap dari Ulama Rabbani, yang senantiasa teguh dalam pendirian, kokoh menggenggam prinsip walau nyawa sebagai taruhan..
Fb arya santika
Cahaya Peradaban Muslim
#LelakiSejati
#islamselamatkannegri
#scooteristhijrah

Kurangi Provokasi, Perbanyak Edukasi

Pernikahan: Kurangi ‘Provokasi’ Perbanyak Edukasi
Oleh : Ustadz Iwan Januar

“Pak, saya mau tanya, ini ada ustadz yang menikah tapi kok baru beberapa bulan sudah bercerai? Bagaimana ini?” itu salah satu pertanyaan yang datang dari peserta akhwat #YukNgaji Kajian Pranikah akhir Desember tahun lalu. Saya sudah menduga akan ada pertanyaan semacam itu. Berita perceraian seorang ustadz muda yang kondang dengan istrinya jadi konsumsi berita gosip di akhir tahun kemarin. Keduanya sama-sama masih muda, luar biasa, tapi kemudian pernikahan mereka kandas hanya seumur jagung.

Saya tak akan cerita soal perceraian mereka ya, karena bagaimanapun juga itu adalah musibah. Mereka berdua juga tentu tak pernah berharap hal itu akan terjadi. Perceraian itu menyakitkan, apalagi bila kemudian menjadi konsumsi publik. Subhanallah!

Peristiwa tersebut semoga menjadi ibroh bagi kaum muda yang akan menikah, agar tidak tergesa-gesa, persiapkan diri sebaik mungkin, dan selalu jadi pribadi pembelajar. Bahwa pernikahan pasangan yang menikah harus belajar menghadapi persoalan kehidupan. Belajar mengelola emosi, dan terutama belajar hukum syara’ tentang pernikahan.

Bagi saya, yang sering diminta bantuan mengisi kajian-kajian pernikahan, hal ini adalah warning agar berhat-hati dalam menyampaikan tema pernikahan, terutama untuk kaum muda. Keliru berbicara, kajian pernikahan justru menjadi ajang ‘provokasi’ bukan edukasi. Ada beda antara keduanya, bagian yang pertama itu ‘manasi’ orang untuk segera menikah, kalau yang kedua mengedukasi orang agar cerdas dalam menikah dan menikah dengan cerdas. Untuk itu ada beberapa hal yang harus menurut saya harus kita lakukan bersama saat mengedukasi anak-anak muda dalam soal pernikahan:

1.  BUAT CERDAS. Amat penting bagi para penulis, trainer, motivator atau siapa saja untuk mencerdaskan anak-anak muda dalam soal pernikahan agar mereka dapat menikah dengan cara yang cerdas. Maksud cerdas di sini adalah paham seluk beluk pernikahan, hukum syara seputar pernikahan, dan bisa mengelola konflik bersama pasangan.

Kalau hanya sekedar bicara romantisme menikah, tidak perlu jadi motivator, trainer apalagi jadi ustadz, penulis roman picisan juga bisa. Malah anak sekolah juga sudah pinter ngomong soal romantis. Tugas para pembicara jauh lebih berbobot; selain mendorong kaum muda untuk menikah tapi juga harus membuat mereka pandai menata rumah tangga.

2  BUKAN HANYA ROMANTISME.Jangan hanya cerita soal romantisme Rasulullah pada istri-istri Beliau, tapi sampaikan juga bahwa di antara mereka juga pernah terjadi persoalan sampai Allah menurunkan beberapa ayat seperti QS. At-Tahrim: 1 atau al-Ahzab: 28. Atau bagaimana Ummul Mukminin Aisyah ra. terkena fitnah keji dari kaum munafik sehingga sempat membuat limbung rumah tangga Nabi.

Tidak keliru sih kalau penulis, pembicara, motivator, atau ustadz sekalipun memilih tema romantisme rumah tangga Nabi ketimbang praharanya. Mungkin maksud mereka ingin membuat kaum muda yang tengah galau untuk menikah agar tidak takut dan bergegas menikah. Namun bila porsi itu dibesarkan, kita khawatir anak-anak muda ini menjadi kelewat mellow dan tak sanggup menata konflik pernikahan. Begitu ketemu masalah yang muncul emosi dan depresi. Pernah nggak mereka diceritakan pasangan yang beberapa hari nggak makan karena nggak punya uang? Atau suami yang harus tidur di teras rumah karena sang istri ngambek? Atau istri yang nangis tiap malam karena suaminya nggak ngerti-ngerti perasaannya? Sesekali share atau cerita yang model begini agar kawula muda juga paham kalau pernikahan itu bukan hanya cool tapi cold alias bikin dingin hati.

3.  BATASI KISAH PRIBADI. Kebiasaan dan kesenangan beberapa pembicara, motivator, penulis juga ustadz sekalipun, menceritakan pengalaman pribadi kepada jamaah kawula muda. Maksudnya jelas, untuk menjadi pelajaran.

Salahkah ini? Nggak lah. Boleh saja. Pengalaman seseorang itu kadangkala bisa menjadi inspirasi kebaikan. Namun perlu diingat kasus setiap orang tidaklah sama dan resultan yang dihasilkan juga sering tak sama. Mungkin ada ikhwan yang begitu melamar akhwat langsung diterima dan jebret langsung dinikahkan oleh bapak tuh akhwat, bahkan dikasih modal dan dikasih rumah.

Tapi kan nggak semua ikhwan mengalami seperti itu. Ada yang ditolak berkali-kali, ada juga yang diterima tapi dengan syarat bermacam-macam. Sampai nyaris desperate melobi calon mertua.
Terus perlu diingat, pengalaman pribadi bukan dalil syara’. Itu asli hanya pengalaman pribadi. Dalil syara ya cuma empat; kitabullah, sunnah, ijma sahabat dan qiyas. Ini yang harus terus digali oleh para penulis, trainer, motivator dan ustadz untuk diambil hikmah dan hukumnya. Kalau mau ditambah, tambahlah kisah orang-orang saleh dalam al-Qur’an; ada kisah Nabi Luth dan Nabi Nuh, ada keluarga Imran, keluarga Ibrahim, dari para sahabat dan ulama salafus saleh yang insya Allah memang teruji kesalehan mereka.

4.  PERNIKAHAN ITU PROSES. Pahamkan pada jamaah dan siapa saja, khususnya kawula muda, bahwa pernikahan itu berproses seiring jalannya waktu dan keadaan. Tahun pertama, kedua, dst., selalu membutuhkan ilmu-ilmu baru. Begitupula saat punya anak akan berbeda dengan masih berdua, dst.
Jadi, pernikahan itu bukanlah resultan alias hasil, tapi sekali lagi, proses dan proses. Bila ingin proses itu berjalan baik maka harus dibarengi dengan ilmu dan kesabaran.

5.  AJARKAN PRIBADI ISLAM. Sabar, syukur, maaf memaafkan, qonaah, dll., adalah hal yang harus menjadi habbit pasangan dalam pernikahan. Dengan begitu setiap persoalan dapat disikapi dengan akhlakul karimah.
Terakhir tapi amat penting, buat jamaah terikat dengan hukum syara’ karena di sanalah kebahagiaan dan persoalan dapat teratasi. Hukum tentang nusyuz, nafkah, berbakti pada orang tua, pengasuhan anak, dll.,

Sudah saatnya bahasan soal nikah nggak melulu romantisme seperti yang sering dibahas anak-anak muda hari ini. Kurangi obrolan bikin para jomblo makin baper dan kian kebelet untuk segera married. Misalnya; truk aja punya gandengan, masak kamu nggak! Gimana nggak makin pusing tuh kepala.
Membangun positif thinking tentang pernikahan itu harus dan bagus, tapi membuat para jomblo lalai dari sedia payung sebelum hujan, itu namanya gegabah. Saatnya para penulis, trainer, motivator dan para ustadz mencerdaskan kawula muda soal pernikahan, agar mereka cerdas saat bicara pernikahan dan menikah secara cerdas[]
=====
Gabung d grup khusus Akhowat untuk pemesanan produk dan diskusi seputar parenting

https://chat.whatsapp.com/E3ANXs6f3bn83vcPqPrA2W

Model hanya pemanis aja 😇

Al-Habib Umar bin Hafidz berkata:_
-
Lihatlah berapa banyak hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang bermaksiat dengan matanya akan tetapi Allah سبحانه وتعالى tidak ambil mata mereka.
-
Berapa banyak dari hamba Allah سبحانه وتعالى yang bermaksiat dengan lisannya akan tetapi Allah سبحانه وتعالى tidak mengambil lisan mereka.
-
Berapa banyak hamba Allah سبحانه وتعالى bermaksiat dengan pendengarannya tetapi Allah سبحانه وتعالى tidak mengambil pendengaran mereka.
-
Dan begitu seterusnya hanya Allah سبحانه وتعالى yang kebaikanNya tidak akan pernah putus kepada kita seperti apapun kita menghadap Allah سبحانه وتعالى, kerna Allah سبحانه وتعالى adalah Tuhan yang senantiasa membuka pintuNya untuk hamba-hamba yang taat dan tidak perlu hamba yang bermaksiat.
-
Allah سبحانه وتعالى selalu tunggu taubat kita, kedatangan kita ke pintuNya, Allah سبحانه وتعالى menantikan kita yang masih lalai dan berbuat maksiat di siang dan di malam hari untuk segera dihapuskan dengan kelembutan Allah سبحانه وتعالى.
-
Maka kita menjadi orang yang amat sangat rugi jika di pagi hari kita lalai pada Allah سبحانه وتعالى dan di malamnya pun kita masih lalai pada Allah سبحانه وتعالى. Akan tetapi kasih sayang Allah سبحانه وتعالى tidak pernah pandang buruk kepada siapa pun dari hamba-hambaNya.
-
Maka kita sama-sama menghadap Allah سبحانه وتعالى bukan saja dengan jasad kita akan tetapi hadapkan seluruh ruh kita, jiwa raga kita di hadapan Allah سبحانه وتعالى sehingga kita dapat bahagian yang besar dari sisi Allah سبحانه وتعالى, santapan hati dan santapan ruh di sisi Allah سبحانه وتعالى. *Allah tunggu taubat kita

Faedah baca AlQuran

FAEDAH BACA AL-QUR'AN TANPA PAHAM ARTINYA.

Ada seorang remaja bertanya kepada kakeknya,

"Kakek apa gunanya aku membaca ALQUR'AN, sementara aku tidak tau dan maksut dari AL-QUR'AN yang kubaca"

Lalu si kakek menjawab dengan tenang:
"Coba ambil sebuah keranjang  sampah ini dan bawa kesungai, dan bawakan aku dengan sekerenjang air"

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tapi semua air yang dibawanya jatuh habis, sebelum ia sampai dirumah.

KAKEKNYA BERKATA
"Kamu harus berusaha lebih cepat"

Kakeknya meminta cucunya kembali kesungai.
Kali ini cucunya berlari lebih cepat, tapi lagi lagi kerenjang nya kosong (tanpa Air) sebelum sampai dirumah.

DIA berkata kepada kakeknya:
"Tidak mungkin aku bisa membawa sekerenjang Air.
Aku ingin menggantinya dengan Ember"

Aku ingin sekerenjang Air, bukan dengan Ember, JAWAB KAKEK.

SIANAK KEMBALI MENCOBA, DAN BERLARI LEBIH CEPAT LAGI. namun tetap gagal juga, Air tetap habis sebelum ia sampai dirumah.

"KAKEK... .. . ini tidak ada gunanya.
Sia sia saja, air pasti habis dijalan sebelum sampai dirumah"

KAKEK MENJAWAB:
"Mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya... .. . ? Coba liat dan perhatikan dengan baik baik apa yang terjadi dengan kerenjang itu"

ANAK ITU memperhatikan kerenjangnya.
Dan ia baru menyadari bahwa kerenjangnya yang tadinya kotor berubah menjadi sebuah keranjang yang BERSIH, luar dan dalam.

"CUCU KU, Apa yang terjadi ketika kamu membaca ALQUR'AN.. .. .? Boleh jadi kamu tidak mengerti sama sekali. Tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu sadari kamu akan berubah, LUAR dan DALAM, ITULAH PEKERJAAN DAN KUASA ALLOH DALAM MENGUBAH KEHIDUPAMU... .. .!

SUBHANALLOH tidak ada yang sia sia ketika kita membaca ALQUR'AN.

MARI KITA LEBIH SERING LAGI MEMBACANYA, MESKI KADANG TIDAK TAU ARTINYA, NAMUN TETAP HARUS BERUSAHA  UNTUK MEMAHAMI ARTINYA... .. .

Selasa, 04 September 2018

KHILAFAH AJARAN ISLAM

APA YANG MEREKA TAKUTKAN DARI KHILAFAH ?
_______
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ada sebuah kampung yang bernama Kampung Naga. Hingga saat ini masyarakat kampung tersebut tidak mau menerima aliran listrik. Mereka mempunyai ketakutan yang tidak lazim terhadap listrik. Semua hal yang berbau-bau listrik, seperti PLN, kabel dan sejenisnya, mereka sangat anti dengannya.

Parahnya lagi, dengan kondisi pola pikir masyarakat Kampung Naga yang seperti itu terhadap listrik, ternyata banyak propaganda yang dilakukan oleh beberapa orang di sana mengenai ancaman yang bakal terjadi manakala kampung mereka teraliri arus listrik. Masyarakat ditakut-takuti, bahwa apabila jaringan listrik masuk ke kampung mereka bakal banyak terjadi kebakaran, orang kesetrum dan lain sebagainya.

Beberapa petugas dari Kecamatan sudah berulangkali mengedukasi masyarakat Kampung Naga, agar mereka tidak lagi khawatir dengan listrik, sehingga kampung mereka segera teraliri jaringan listrik. Dijelaskan kepada mereka, bahwa jika ada listrik, maka kampung mereka akan lebih terang di malam hari, anak-anak'pun lebih mudah untuk belajar dan yang lainnya.

Sayangnya, kepercayaan masyarakat terhadap propaganda akan bahayanya listrik jauh lebih besar daripada dengan penjelasan petugas Kecamatan. Akhirnya, bertahun-tahun, bahkan hingga saat ini masyarakat Kampung Naga tetap hidup dalam kegelapan dan tanpa aliran listrik sebagai penerangan.

Melihat fenomena semacam itu, saya memandang ada kemiripan antara masyarakat Kampung Naga dengan orang-orang yang anti Khilafah. Keduanya mempunyai ketakutan yang sama, yang dibangun oleh delusi, khayalan yang tidak mendasar.

Sebagian dari masyarakat kita ada yang sangat anti dengan Khilafah, padahal dia sendiri tidak tau apa itu Khilafah. Pengetahuannya akan hal itu hanya didapatkan dari orang-orang yang memang sudah antipati dengan Khilafah. Sehingga yang tergambarkan hanyalah pertumpahan darah, peperangan, disintegrasi wilayah dan lain sebagainya.

Semua itu adalah delusi, ketakutan yang berlebihan, yang ditanamkan oleh orang-orang yang anti Khilafah seperti halnya negara-negara penjajah. Lihat saja di Indonesia, mereka yang anti Khilafah adalah mereka yang paling dicintai oleh China, Yahudi dan Amerika. Mereka mendapat banyak kucuran dana darinya.

Khilafah sangat dikhawatirkan akan kemunculannya, karena itu akan mengancam catur perpolitikan dan ekonomi mereka di Indonesia. China, Yahudi dan Amerika akan tergulung dari Indonesia, bahkan dunia, andaikata Khilafah sudah menjadi pandangan politik kita semua.

Sudah berulangkali kami jelaskan akan hal itu. Bahwa Khilafah akan menyelesaikan semua permasalahan yang mendera bangsa Indonesia, tetapi tetap saja mereka menolaknya. Bahwa Khilafah akan mengayomi semua pemeluk agama, bukan hanya Islam, tetapi tetap saja mereka menentangnya.

Entahlah, yang jelas pola pikir mereka sama seperti pola pikir orang-orang yang anti listrik. Mereka anti listrik hanya karena pernah melihat kebakaran yang melanda. Mereka menyangka bahwa itu adalah sumber kegelapan dunia, padahal sebaliknya, itu adalah sumber dari kecemerlangan peradaban dunia.

Boleh saja, dengan sikapnya itu mereka merasa sedang mengikuti ulama, tetapi lihatlah, ternyata sikapnya itu pula yang menjadikan China, Yahudi, Amerika dan partai paling korup di Indonesia begitu sayang kepada mereka, hingga mereka banyak mendapat kucuran dana darinya.

Orang-orang yang nenentang Khilafah tidak sadar, bahwa sebenarnya mereka sendiri sedang ditunggangi.

Allaahummahdi qowmii fainnahum laa ya'lamuun

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 5 September 2018

Rabu, 06 September 2017

RIYA-kah mereka?
Lalu Bagaimana Dengan Kita Cukup Sucikah???
Ketika kita hanya mampu membeli baju seharga 50 ribuan sementara kawan kita membeli baju seharga 200 ribuan, kita bilang kawan kita berlebihan. Padahal ia belanja tak pakai uang kita. Ternyata ia sudah berhemat untuk tidak membeli baju 500 ribuan yang sanggup ia beli. Ketika kita mampu meluangkan lebih banyak waktu untuk bersama orang tercinta, sementara kawan kita berpisah jarak dan waktu dengan orang tuanya bahkan hanya sedikit waktu luang yang disempatkan hanya  untuk sekedar menanyakan kabar, kita bilang kawan kita tidak peduli. Kita bilang ia menggadaikan kasih sayang orang tuanya demi kesenangan pribadinya. Ternyata dalam doanya ia tetap menengadahkan tangan dengan penuh pengharapan agar kedua orang yang sangat disayanginya tetap dalam lindungan dan Inayah-Nya rukun dan bahagia dalam perjuangan rumah tangganya.
Ketika mereka hanya mampu menjadi mahasiswa yang rajin datang tepat waktu pada saat jam kuliah saja sementara kita memilih mengambil kesibukan lain seperti halnya ikut mengembangkan diri dalam organisasi lantas kita menjustifikasi bahwa mereka tidak peduli dengan kesempatan untuk mengembangkan diri jauh lebih baik selama menjadi mahasiswa padahal diluar sana mereka lebih memilih ikut berbaur dengan masyarakat bahkan mengaplikasikan langsung ilmu mereka diluar sepengetahuan yang kita miliki.
Sebagai orang sibuk dengan pekerjaannya mencari nafkah sesuap nasi demi kelangsungan hidup keluarga mereka tanpa peduli dengan kasih sayang kepada anaknya kita bilang ia menggadaikan masa depan anaknya demi kesenangan dunia semata. Ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita, berbicara lebih lembut pada anaknya, dan berdoa lebih khusyuk memohon pada ALLAH untuk penjagaan anak-anaknya. Ketika kita hanya mampu mengatur uang belanja Rp 1 juta sebulan,sementara kawan kita bercerita pengeluaran belanja bulanannya sampai Rp 10 juta , kita bilang ia boros. Padahal ia tak pernah berhutang pada kita. Pinjam uang pun tidak.  Ternyata mereka beramal lebih banyak dari uang belanjanya ternyata mereka tak pernah lupa memberikan sumbangan.
Siapa yang rugi? Kita... Belum-belum sudah mudah menilai. Bisa jadi malah berburuk sangka. Padahal kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya orang lain hadapi, orang lain lakukan di luar sepengetahuan kita. Saudaraku... Jangan mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran hidup kita. Jangan menggunakan kacamata kita untuk menilai orang lain, untuk hal ini penampilan luar belum tentu mencerminkan sifat aslinya. Jangan sibuk mengurusi urusan orang lain, apalagi ketika kita tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut. Mungkin itulah kenapa sepatu kaca Cinderella only fits for her
Sibuklah memperbaiki diri sendiri, bukan menilai orang lain. Karena hanya dengan diri sendiri menjadi lebih baiklah maka orang-orang di sekitar kita akan menerima dampak positifnya, dan dunia pun akan menjadi lebih baik.....

                                                                                                                        @ berbagi kebaikan